//
you're reading...
CERPEN

BUBUR AYAM

Cerpen : Matdon

Pikiran Rakyat, Oktober 2012

Koridor rumah sakit sunyi, hanya detak jarum jam dan sesekali langkah petugas terdengar. Tapi memasuki ruang Mustofa lantai dua tempat dirawat Ohit dan Opit  riuh oleh jeritan ringan dan erangan kecil. Seluruh tubuh Ohit dan Opit dibalut perban, hanya wajah yang tersisa. Ohit dan Opit adik kakak, ihwal keduanya masuk rumah sakit karena terlibat dialog serius yang menurut keduanya sangat berarti bagi ego masing-masing.

“Bubur ayam yang paling enak mah yang ada di pasar Ciroyom,” ujar Ohit sang kakak memulai perbincangan saat berjalan dengan adiknya menuju kebun stroberi. Ini bukan pertama kali mereka bergandengan tangan menuju kebun yang letaknya bergandengan pula, nyaris dalam seminggu 4 kali mereka menengok kebun masing-masing. Tapi perbincangan soal bubur ayam baru kali ini.

“Wah bohong, bubur ayam paling enak mah di pasar Andir atuh, jaba buburnya gurih, racikannya juga mantab,” jawab Opit, tangannya merangkul sang kakak. Mesra.

“Bubur ayam di pasar Ciroyom atuh, lebih heded, pake telor, pake cangkueh, tiap malam penuh pembeli,” Timpal Ohit.

“Komo yang di pasar Andir mah dari magrib sampai jam dua subuh ngantrii….” Opit tak mau kalah.

Mereka memang kerap berangkat ke Pasar andir dan Ciroyom untuk menjual buah stroberi jika panen tiba, setiap pergi ke pasar mereka bersama sama berangkat dari Ciwidey. Opit memasarkan stroberi ke pasar andir sedangkan Ohit ke pasar Ciroyom. Berangkat jam 3 sore sampai di pasar jam 7 malam. Keduanya berpisah lalu bertemu kembali saat pulang pagi hari. Rupanya Ohit sering makan bubur di pasar Ciroyom sebagaimana Opit sering makan bubur di pasar Andir.

“Yeuh, tukang bubur di pasar Ciroyom mah sudah hapal betul selera pembeli, pengalaman sejak tahun 1990, jadi dia sangat tahu bagaimana meracik bubur enak,” Ohit menerangkan ihwal bubur ayam kebanggaannya.

“Tukang bubur ayam di pasar Andir ge Kang, lebih pengalaman, ia sangat tahu selera penggemar bubur,” Opit tak mau kalah

“Bubur ayam di Ciroyom lah yang enak mah”

“Bubur ayam Andir  tak ada duanya”

“Bubur ayam Ciroyom is the best”

“Bubur ayam Andir lebih is the best”

“Gurih”

“Nikmat”

“Enak”

“Lezat”

“Nanaonan makan bubur di pasar Andir, becek, kotor dan tidak sehat”

“Komo bubur Ayam di Ciroyom, lebih becek dan kotor, hiyyy geuleuh”

Tiba-tiba langkah keduanya terhenti, tangan Opit lepas dari pundak kakaknya. Ohit melotot. Keduanya saling pandang, saling melotot. Sorot mata keduanya memancarkan amarah.

“Kamu jangan macam macam sama saya” gertak Ohit sambil memegang kerah baju adiknya

“Eh, akang juga jangan macem macem, nanaonan ieu!”, Opit menpis tangan Ohit

“Saya sudah bilang bubur ayam yang paling enak itu hanya ada di Ciroyom”

“Saya juga sudah bilang bubur ayam yang enak sekali hanya ada di pasar Andir”

“Ciroyom”

“Andir”

“Ciroyom”

“Andir”

“Ciroyom  kéhéd”

“Andir bebel”

Plakk!!. Sebuah tamparan mengena pipi Opit

“Waduh, najan kamu kakak saya saya tidak takut, kamu menghina adik sendiri” teriak Opit sambil membalas tamparan Ohit. Keduanya terlibat perkelahian, lima meter sebelum sampai ke kebun stroberi.

“Saya akan memegang teguh prinsip bahwa hanya bubur ayam pasar Ciroyom yang enak” Ujar Ohit mengepalkan kedua tanggnnya sambil berjaga-jaga menghindari pukulan adinya.

“Saya juga menjaga hak saya, saya bebas mengatakan dan membela bubur ayam di pasar Andir,” ujar Opit.

Sore cerah. Orang-oranag sekampung datang menyaksikan Ohit dan Opit berkelahi. Sebuah perkelahian yang seimbang. Tak ada yang melerai mereka, sampaia akhirnya Pak Lurah datang saat tubuh Ohit dan Opit sama sama terkulai, mata Opit bengkak begitupun mata Ohit. Kaki dan tangan Ohit patah begitupun kaki dan tangan Opit. Pinggang Ohit terluka akibat sabetan bedog Opit, pinggang Opit luka parah akibat ditikam pisau milik Ohit.

Keduanya ambruk di tengah kebun stberi.


Perjalanan dari Ciwidey menuju rumah sakit di kota Bandung membutuhkan waktu 4 jam. Macet. Kini keduanya berada dalam satu ruangan dengan tubuh terbalut perban, tinggal wajah yang tersisa.

Menjelang tengah malam, keduanya kesakitan, saling mengerang dan saling menatap penuh penyesalan.

“Kang, hampura nya, masalah bubur ayam kenapa jadi begini”

“Iya, akang juga minta maaf, akibat bubur ayam kita masuk rumah sakit”.

“Iya kang…duh..sakit”, Opit mengerang lagi.

“Kamu sih bedegong, kan sudah saya bilang kalau bubur ayam yang paling enak itu hanya ada di Ciroyom” ujar Ohit, suaranya nyaris tak terdengar. Terbata-bata.

“Ari akang, kan sudah saya bilang bubur paling enak mah hanya di pasar Andir” timpal opit,juga terbata-bata.

Rumah sakit yang sunyi tiba-tiba riuh. Dialog keduanya (walaupun) pelan ternyata mengundang banyak pasien dan dokter. Kini ruangan tempat dirawat keduanya penuh oleh pasien dan dokter.  Dengan tubuh terbalut perban kedunya berusaha bangun untuk melanjutkan perkelahian. Tubuh keduanya ambruk seperti saat ambruk di kebun stroberi.

Bandung, Oktober 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: