//
you're reading...
CERPEN

PIL PAHIT

Oleh Matdon

Pikiran Rakyat 24 Pebruari 2013

 

Dede,Dedy dan Rike bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA, keinginan mereka selalu sama, kemanapun selalu bersama, pun ketika mereka menyeragamkan cita-cita untuk hidup menjadi artis besar. Namun takdir bicara lain, Rike hanya  menjadi penyanyi dangdut  amatiran, mangung dari kampug ke kampung bersama grup orkes Melayu pimpinan Haji Yayan. Dede menjadi stuntman untuk flm-film atau sinetron laga, sedangkan Dedy memilih menjadi pemain sandiwara keliling.

Hidup werit membuat mereka kerja keras, gigih dan penuh semangat.  Delapan tahun semenjak  lulus sekolah SMA kehidupan itu mereka mulai. Berbekal perawakan cukup sintal dan wajah manis Rike mencoba mengadu nasib di Jakarta tapi nasib baik tak kunjung tiba hingga akhirnya ia ngamen di bis kota dengan alat musik kecrek. Dari ngamen itulah ia menabung dan membeli gitar bekas, lalu akhirnya kehidupan ngamen menyeret ia menjadi penyanyi dangdut,

Dede juga demikian, ia meninggalkan rumah menuju Jakarta dengan harapan bisa menjadi artis terkenal seperti Dede Yusuf atau Rano Karno, tapi rupanya menjadi artis bukan hal mudah, ia harus memiliki skill yang bagus dan tentu saja nasib baik.  Untuk memperpanjang hidup Dede bekerja jadi tukang cuci pakaian artis, lalu menjadi peñata rias, dan akhirnya menjadi stuntman, sebuah profesi pengalihan takdir dari cita-citanya. Sementara Dedy ikut acting course pada sebuah kelompok teater, ia sangat ingin menjadi Teguh Karya, Arifin C Noer atau Dedy Mizwar. Sayang, seperti kedua sahabatnya, Dedy juga harus mengubur cita-citanya itu dan hanyut hanya menjadi pemain sandiwara keliling.

Di Jakarta ketiganya kerap bertemu mendiskusikan langkah-langkah hidup, sharing dan berbagi kesedihan, juga berbagi makanan jika ada rejeki lebih. Persahabatan ini seharusnya dinikmati pembaca dengan derai air mata. Jika tidak,, cukup senyum-senyum kecil dulu tak apa.

images

***

Delapan tahun hidup di kota besar, cukup menempa jiwa mereka, mental mereka terlatih oleh langit luas, angin malam dan terik matahari. Hingga akhirnya mereka kembali ke kampung halaman ; desa Kurang Senyum Kecamatan Rancatan Kabupaten Babad Raweuy.

Rupanya mereka kembali ke kampung, juga dengan tujuan yang sama, yakni mencalonkan diri menjadi Kepala Desa dalam musim Pilkades, Kali ini pencalonan masing-masing tanpa diskusi, karena satu sama lain tidak mengetahui jika ketiganya daftar menjadi calon dalam Pilkades.

Jadi kamu mencalonkan diri jadi kepala desa?” Tanya Dede pada Rike

Kamu juga ya?” kali ini pertanyaan pada Dedy, saat mereka tanpa sengaja bertemu di sebuah pos ronda.

Kamu juga kan?”, bentak Dedy dan Rike menujuk hidung Dede.

Oke, kalau begitu kita bersaing”, tantang Rike

“Oke, siapa takut!” jawab Dede

“Saya juga tidak takut,” timpal Dedy.

Benih-benih permusuhan mulai menyelinap dalam bingkai persahabatan mereka, perang dingin dan jarang bertegur sapa. Ketiganya sibuk menyiapkan kampanye demi kemenangan, demi martabat diri masing-masing.

“Saudara-saudara, saya memang seorang wanita, tapi tidak ada salahnya wanita memimpin sebuah desa, jika saya terpilih menjadi kepala desa di sini, maka semua dana pendidikan dihapuskan, puskesmas gratis, bahkan pengangguran akan saya beri gaji setiap minggu. Desa ini harus maju dan dihormati oleh desa lainnya!” teriak Rike dalam sebuah kampanye di lapangan Desa Kurang Senyum.

“Desa ini harus bebas dari premanisme dan korupsi, desa ini harus menjadi desa percontohan dalam pembangunanm karena itu saya akan membangun gedung  mewah untuk olahraga, saya akan membangun sarana apa saja yang warga inginkan!” Pada kampanye yang lain Dede tak mau kalah,

Sementara di lapangan yang sama waktu berbeda, Dedy berteriak, “Saya ingin desa ini memiliki pertokoan mewah dan warga bebas membeli sembako murah bahkan gratis, saya juga akan menyalurkan bakat warga yang ingin menjadi artis, kalau perlu semua warga disini jadi artis, atau desa ini kita sewakan menjadi desa tempat syuting film dan uangnya kita bagi bagi!”

***

Hari pencoblosan Pilkades tiba, penghitungan suara seharusnya dimulai jam 12 siang tadi, tapi belum juga dilakukan. Semua warga menunggu kedatangan tiga calon kepala desa. Pada awal pencoblosan Rike, Dede dan Dedy memang hadir di TPS yang dipusatkan di halaman desa, namun saat penghitungan tiba mereka menghilang. Warga mengira mereka pulang ke rumahnya masing-masing untuk sekedar makan dulu.

Waktu terus beringsut, dua jam warga menungggu kehadiran tiga calon kepala desa, Mereka mulai gelisah, waktu Ashar tiba ketiganya belum juga hadir.  Hansip sudah menyusul ke rumah masing-masing tapi mereka tak ada di rumah.

Kamu yakin mereka tidak ada di rumah?” Tanya Ketua panitia Pilkades pada hansip Adang Boke.

“Ciyus Pak, saya sudah tiga kali ke rumah Pak Dedy, rumah Bu Rike dan rumah Pak Dede, mereka tidak ada di rumah. Rumah mereka sepi Pak..” jawab Adang Boke.

Kalau begitu, mari kita sama sama mencari mereka!” ajak  Aming, sang  ketua panitia.

Akhirnya semua warga mencari ketiga calon, menyusuri sore ke dusun-dusun. Hingga menjelang magrib tak juga ditemukan. Sedangkan penghitungan suara harus segera dilakukan tak bisa ditunda.  Karena kelelahan, semua warga kembali ke halaman desa tempat pemungutan suara.

Kita kembali saja ke kantor desa” ajak Aming  putus asa.

Dan betapa terkejutnya warga, sesampai di halaman kantor desa nampak Rike duduk terkulai dengan tubuh bersimbah darah, baju kotak kotak catur hitam putihnya penuh bercak darah, di dada kirinya tertancap pisau. Di sampingnya nampak tubuh Dedy juga demikian, lehernya nyaris putus, darah mengalir membasahi baju putih kebanggaannya, sedangkan Dede yang juga sudah tak bernyawa berada di samping keduanya, tangan Dede putus, perutnya teburai. Sebuah pemandangan yang mengerikan.

Warga panik dan ribut, ada yang menjerit, ada yang pingsan dan ada juga yang berlarian kesana kemari sambil teriak teriak “Calon Kades kita matiiii…calon Kades kita mati berjamaah!!”. Begitu teriakan mereka.

Aming, Adang Boke dan sebagian warga yang masih bertahan disana mencoba tenang, dihampirinya pelan-pelan ketiga jasad itu Aming memeriksanya perlahan. Di telapak tangan  masing-masing ada secarik kertas yang sama, nyaris basah oleh darah. Aming mencoba menarik ketiga kertas itu.

“Ini kwitansi tagihan pembuatan kaos kampanye dan spanduk….” Aming berkata gemetar setelah mengetahui ketiga kertas itu.

“Saya lah yang membunuh ketiga pembohong itu!”, Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kantor desa, suara Mang  Aher, seorang penguasaha sablon dan pembuat spanduk di desa itu. Mang Aher berdiri di depan pintu, tangannya bersimbah darah.

 “Mereka saya bunuh di lapangan desa, setelah saya culik tadi siang di rumah masing-masing. Kalian pasti bertanya kenapa saya membunuh mereka, mereka berjanji akan membayar sisa hutang kaos dan spanduk sehari sebelum Pilkades, tapi ketika saya tagih mereka tak mau membayar. Pembohong  harus dibunuh. Bagaimana mungkin mereka bisa memimpin desa kalau mereka pembohoong”.

Mang Aher panjang lebar berkata. Ia masih tetap berdiri di depan pintu kantor desa, sementara warga terbengong-bengong.

 

Bandung, Desember 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: