//
you're reading...
BUDAYA

NANDANG ARADEA DALAM KENANGAN

PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN

Matdon – Sinar Harapan Agutus 2007

nandang1

 

Teater Studio Indonesia (TSI) Banten bekerja sama dengan Konsorsium Pembaharuan Banten menggelar pentas teater  berjudul “Bicaralah Tanah” di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung, Jumat (3/8).

 Ini sebuah pementasan yang berbicara soal  perang petani Banten dengan penjajah, idenya berawal dari pembacaan ulang atau tafsir terhadap Geger Cilegon atau dikenal Pemberontakan Petani Banten terhadap Belanda Tahun 1888. Perang yang meletus dimotori para kyai (Ki Wasid) bersama petani ini ingin mengembalikan keadaan pada zaman sultan yang aman, tenteram, makmur. Namun, perang tak menjawab semua persoalan itu.

 “Bicaralah Tanah” ditulis dan disutradarai oleh Nandang Aradea, menampilkan setting panggung yang ditata rapi, tumpukan tanah di area panggung menggambarkan bagaimana petani bersusah payah  menggarap tanah sawah mereka namun tidak mampu memetik hasilnya. Seperti garapan sebelumnya, Bicaralah Tanah adalah teater bersemangat-kolektif. Manusia-manusia di atasnya tidak lagi dipilah-pilah dalam kategori antagonis dan protagonis. Manusia itu tampil kolektif. Dalam pentas Perahu para nelayan bekerja bersama, oleng bersama, mabuk bersama, mati bersama. Juga dalam pentas “Bicaralah Tanah”,

 Para petani itu ambruk bersama, mencangkul bersama, menanam bersama, dijajah bersama, kena letusan gunung Krakatau bersama juga, mati pun bersama-sama.

Kolektivitas ini mengingatkan saya pada Teater Laskar Panggung Bandung, bedanya jika Laskar memangungkan realitas peristiwa dibalut dengan humor yang tinggi, maka TSI lebih pada realitas yang bersandra paa sejarah. Kelebihannya, TSI menampilkan  aktor-aktor yang mampu memegang alat-alat pentas seperti parang dan  cangkul, sehingga membuat miris sejumlah penonton khususunya yang berada d paling depan.

Pementasan ini menggambarkan pemberontakan para petani Banten dalam mempertahankan hak mereka, dalam benak petani, penguasa saat itu yang mencaplok tanah mereka didasari politik yang tengah memanas. Suhu politik yang carut marut di Banten membuat rakyat miskin, kondisi krisis ekonomi pada tahun 1888 membuat rakyat kerempeng, bau tanah, tak lagi kuasa untuk  menjerit.  Semua kebijakan penguasa bukan untuk  melaksanakan pembaruan agraria, tapi demi memenuhi kepentingan segelintir orang melalui investasi asing maupun dalam negeri pada bidang agraria. nandang 3

Mereka mendorong privatisasi air, land market (pasar tanah), liberalisasi pasar produk pertanian dan berbagai deregulasi terhadap investasi dibidang perkebunan dan pangan. Akhirnya terjadi konsentrasi atas penguasaan tanah-tanah hanya pada segelintir orang, sebaliknya jutaan keluarga tani hanya menjadi buruh tani atau petani berlahan sempit. Peran negara yang   seharusnya melindungi dan memenuhi hak dasar warga negara justru menjual kekayaan alam Indonesia.

Akibatnya upaya petani miskin dan buruh tani dalam perjuangan pembaruan agraria  seringkali dianggap oleh pemerintah, pengusaha dan sebagian media massa sebagai “tindakan kriminal”. Bila ditilik dari awal konflik agraria yang terjadi, jelas perampas tanah adalah justru pihak pengusaha-pemerintah di bidang pertanian,  perkebunan, pertambangan, pariwisata, pertambakan, dan kehutanan. Kriminalisasi tersebut adalah sebagai siasat meredam kekuatan rakyat dalam upaya melaksanakan pembaruan agraria di Indonesia.

Perjuangan petani banten lebih dari satu abad ini, mengingatkan saya pada peristiwa pada tewasnya 5 petani di Kabupaten Bulukumba saat memperjuangkan lahannya yang diserobot oleh PT. PP London Sumatra di Sulawesi Selatan pada  2003,  lalu tewasnya petani anggota Serikat Petani Sumatra Utara di Sosa. Pada tahun 2000 terjadi  kekerasan dan penangkapan 40 orang petani Operasi Wana Laga Lodaya, lalu pada tahun 2000 dipenjaranya 13 petani di Garut dan 7 petani di ciamis anggota Serikat Petani Pasundan.  Ada juga  11 petani anggota Serikat Petani Banten (SPB) serta dibakarnya rumah-rumah dan tanaman pangan petani anggota Serikat Petani Banten di Cibaliung, Banten, tahun 2000.

Nampaknya kekerasan terhadap petani selalu abadi, mereka menanam padi untuk rakyat, tapi mereka ditindas pejabat, padahal para pejabatpun makan nasi yang diolah petani. Kapan berakhir?, entahlah…

 nandang2
 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: