//
you're reading...
BUDAYA

MENELISIK “KONSPIRASI BAHASA” VICKY

MENELISIK “KONSPIRASI BAHASA” VICKY

Matdon-Pikiran Rakyat,Sabtu 14 September 2013

 

Tiba-tiba nama Vicky Prasetyo lebih terkenal dari pada Tony Blank. Padahal nama Tony Blank lebih dahulu mencuat di jejaring Youtube sejak tahun 2010, ialah yang pertama kali memakai bahasa tak keruan saat diwawancara maupun monolog.

Ini lantaran Vicky punya kasus yang unik, memacari beberapa artis dangdut dan terakhir tunangan dangan penyanyi dangdut Zaskia Gotik. Tony Blank tak menjadi bahan olok-olok siapapun, karena memang ia sengaja dibuatkan filmnya dalam beberapa seri dengan durasi antara 2 sampai 5 menit, dan orang tahu Tony Blank memang sableng.

Lain dengan Vicky Prasetyo, ia menjadi bahan olok-olok jutaan manusia Indonesia, di Facebook, BBM, Twitter maupun dalam candaan sehari hari

Pokok pangkalnya adalah ungkapan “Konspirasi Kemakmuran. Inilah yang membuat orang terbahak-bahak, ditambah dengan kalimat lainnya seperti “kontroversi hati”, “twenty nine my age”, “statutisasi”, dan lain-lain.

index

Lihat, betapa gandrungnya bangsa ini pada hiburan bahasa, sehingga kasus tunangan Zaskia dengan Vicky terlupakan, orang hanya mengingat pada dialog lucunya dan menganggap Vicky sok intelek.

Gaya bahasa Vicky sebenarnya sudah lama dipakai oleh politikus bahkan lebih ngaco dari Vicky. Beberapa tahun lalu saya pernah wawancara dengan Caleg DPRD Kota Bandung tentang traficking.

“Mbak, bagaimana anda mensikapi trafficking yang akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia dan mungkin juga di Bandung?”.

Lalu si Caleg ini dengan enteng menjawab, “Ya saya bangga dengan trafficking yang saat ini terjadi, saya kira bagus perlu dikembangkan.”

Jawaban ini jelas menunjukan si Caleg tidak tahu arti trafficking, dan saya tak melanjutkan wawancara itu, kasihan bila kemudian hasil wawancara itu dimuat di koran. Dan memang akhirnya si Caleg ini tidak terpilih.

Bangsa Indonesia butuh hiburan, betul betul butuh hiburan, sehingga gaya ungkap Vicky menjadi bahan guyonan sehari-hari. Bahasa memang menunjukan bangsa. Bangsa ini juga pernah dihibur dengan ungkapan “Secara Gitu Lho”, sebagai ungkapan yang kadangkala tidak nyambung dengan dialog awal.

Umi Syahrini juga pernah memilik ungkapan “Sesuatu” dan “Cetar Membahana” saat diwawancara. Banyak jawaban Syahrini tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan, ia selalu menjawab “Sesuatu” dan “Cetar Membahana”. Tetapi masyarakat merasa terhibur dengan ungkapan Syahrini. Bahasa memang hiburan satu satunya yang murah meriah.

Kita juga sering dihibur dengan bahasa kalangan penguasa negeri ini, misalnya kenaikan harga dikatakannya sebagai “penyesuaian harga”, BLT adalah kalimat lembut dari “pura-pura baik” pada masyarakat, gratifikasi adalah halusisasi (Nah lho) dari korupsi.

Saya ingin mengutip tulisan novelis Gol A Gong di grup Facebook Majelis Sastra Bandung,: Fenomena Vicky dalam berbahasa “Indonenglish” sangat menarik dikaji. Dalam pop culture, bahasa adalah alat canggih di TV. Kita sambut Vicky yang sunrise dan bleketok membabibuta. Jangan mempertakut diri dengan kemunculan Vicky. Saya mengusulkan Vicky jadi the man of the year khusus di malam Jum’at.


Ya betul, saya setuju apa kata Gong bahwa Vicky adalah cerminan keberhasilan orang-orang di Pusat bahasa dan kurikulum di negeri ini. Terutama guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sudah sangat harmonisasi dalam statusisasi pekerjaannya. Vicky menjadi tauladan kita dalam bertutur kata di TV, karena daya tarik TV adalah audio serta visual. Syahrini, forgive me, go away. Kita tidak lagi menganggap jambul khatulistiwa menjadi sesuatu yang grammy. Tapi justru Vicky mewakili kualitas dan kapasitas para pejabat dan para anggota dewan kita, yang sangat intelek dengan gelar yang berderet-deret itu.

Sekali lagi, kita adalah bangsa yang haus hiburan. Hiburan tak selalu harus nonton film, main ke pantai, makan bersama pacar, menyaksikan politikus diringkus KPK, memperhatikan pengamat politik seperti dukun, melihat para artis masuk ranah politik. Tapi juga bahasa yang (sebenarnya) tidak sengaja diungkapkan seseorang.

Kenapa bangsa ini butuh hiburan?, karena kemiskinan sudah lama melilit leher kaum miskin, karena partai politik hanyalah wadah bagi berkumpulnya para politikus yang haus jabatan, karena konvensi presiden yang tak difahami rakyat, karena banyak pelawak yang tak  bisa melawak.

Kita kadang mentertawakan orang yang terpeleset dan jatuh daripada menolong orang itu. Bangsa yang sakit memang perlu banyak hiburan. Hiburan selalu tak memandang orang lain tersakiti. Terimakasih Vicky, kamu sudah menghibur bangsa ini dengan “Konspirasi Bahasa” mu.

Kami adalah bangsa yang selalu Always….

 

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: