//
you're reading...
Tak Berkategori

USTADZ TELEVISI (2)

USTADZ TELEVISI

(bagian 2)

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

 

Tayangan televisi tidaklah lengkap tanpa pesona para ustadz. Kharismatik acara televisi seolah- olah tidak sempurna tanpa acara dakwah dan berita hilir mudiknya para ustadz dalam kegiatan apapun, sampai-sampai istrinya hamil harus tayang d tv, buka bersama keluarga, umroh, dan seabreg kegiatan lainnya.

Saya tidak tahu apakah di negara lain juga demikian, apakah di negeri lain ustadz bagaikan selebritis yang siap diwawancarai sejumlah acara infotainment. Ah, mungkin hanya di Indonesia, negeri manis seperti permen, negeri sejuta berita.

Saya malah ingin melihat jauh ke dasar hatinya apakah ada rasa bangga ketika muncul di infotainment TV?. Jika ada rasa bangga sebesar biji “dzarah” maka itu sudah termasuk sombong, karena sombong itu berasal dari perasaan lebih atas orang lain, meski hanya di dalam hati dan tidak dipublish.  Dalam Al-quran Surat  Luqman Ayat 18 yang berbunyi : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Sombong itu bermacam macam, ada yang sombong karena wajahnya yang ganteng/cantik, ada yang sombong karena harta kekayanaan dan jabatan, ada juga yang somkbong dengan ilmu pengetahuan dan sombong dengan ibadah.

Sombong dengan ilmu pengatahuan ia membanggakan diri sebagai ahli dalam suatu bidang ilmu tapi tidak mau memberi tahu orang lain kecuali harus dibayar dengan bayaran tinggi. Rasa ikhlasnya sudah hilang dari nurani. Sementara sombong dengan ibadah ialah merasa diri paling soleh, paling banyak sholat tahajudnya, paling banyak membaca Al-quran, meskipun – sekali lagi- itu hanya gerentes hate yang tidak dipublish, apalagi jika dipublish di status facebok, twitter atau televisi.

kopeah

Rasulullah Saw. Bersabda: “ Bahaya mengerti adalah sombong.” Ada juga hadids lain yang mengatakan, “ Janganlah kalian termasuk orang-orang alim yang sombong, sebab ilmumu tidak sebanding dengan kebodohanmu.” Orang berilmu yang sombong memiliki karakter menganggap dirinya lebih dekat dengan Allah. Imam Al-Ghazali menjelaskan, jika manusia berbuat baik, berilmu dan beramal, lalu sombong kepada manusia, maka ia telah menghilangkan pahalanya, dan hampir pahalanya itu menjadi sia-sia, apalagi sombong hanya karena istrinya cantik dan artis.

Kesombongan akan membuat lidah terpeleset, kita pernah mendengar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mencatat beberapa pelanggaran yang dilakukan para ustadz televisi, seperti pelecehan terhadap waria dan berbicara mesum. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga pernah mengeluhkan kemunculan ustad-ustad televisi yang lebih banyak mengumbar canda dan tawa dari pada dakwah di televisi. MUI menilai mereka tidak memberikan materi yang mendidik, hanya sekedar pepesan kosong.


Taubat Nasuha

Secara pribadi saya malu melihat ustad-ustad muda yang wara-wiri tampil di TV, bukan saat ceramah tapi saat ekspose kegiatan diluar ceramah, termasuk kisah asmara sebagian dari meraka, pernikahan yang diekspose luar biasa, hamil di beja-beja ka tv, dan tetek bengek lainnya yang tidak ada kaitannya dengan syiar  islam.

Audisi Dai yang kerap digelar hanya melahirkan manusia karbitan dalam berdakwah dan memunculkan ketidak cocokkan dalam hati ummat. Fenomena ini harus dicermati dengan serius, jangan sampai ustadz-ustadz televisi terbawa arus industri yang serba menghalalkan cara.

Betul, dengan cara apapun seorang ustadz memang harus menyampaikan kebenaran walaupun satu ayat. Itulah dakwah, tapi tidak usah “kecentilan” di televisi dengan mengumbar kegiatan duniawyah belaka. Sungguh ini peristiwa yang narsis, miris dan ngeri.

Saya tertarik komentar Pak Usep Romli (Wartawan Senior), saat mengomentari puisi panjang saya yang berjudul “Ustadz Televisi”,  bahwa  Ustadz non-televisi, setiap saat menjalani rutinitas kehidupan di bawah sorotan kamera Kiroman Katibin yang tak pernah lengah mencatat. Menyabit rumput untuk makanan ternak sebelum ia memberi kesejukan kepada ummat di sebuah masjid tua yang tak pernah masuk anggaran dana karena Ustadz non Televisi malas mengajukan proposal dan sowan ke kabupaten atau gubernuran . Setiap hari turun ke sawah. Kuli mencangkul dan memikul untuk mempertahankan dapur supaya tetap ngebul. Menyisihkan sedikit uang untuk membeli kitab dan bahan-bahan bacaan. Sementara elit-elit organisasi yang ia ikuti, sibuk dengan aneka macam found-found dari lembaga-lembaga asing yang tidak menghendaki syiar Islam berkembang secara alamiah dan wajar, melainkan harus sesuai program-program yang telah dirancang berdasarkan besaran uang yang masuk ke kantung para petinggi organisasi yang mengandalkan jumlah anggota di desa-desa binaan ustadz non-televisi yang ikhlas tadi. Innalillahi…

Apa yang disampaikan Pak Usep saya pikir benar, menjadi Ustadz itu harus Kaffah, tidak narsis apalagi lebay. Tidak ingin dipublikasi (dengan sengaja) soal kehidupan pribadinya di TV. Jauh sekali kalau saya menganjurkan kepada para ustadz televisi untuk dakwah cara Rasulullah SAW, coba tiru dulu ceramah seperti halnya Quraish Shihab yang santun dan tidak neko-neko, Quraish Shihab sering menyelipkan humor-humor tapi sangat pas dan wajar. Ya, pintu taubat masih terbuka untuk mefeka agar mamapu memperbaiki diri.

Akhirnya saya kutip bagian akhir puisi berjudul “Ustadz Televisi” :

…….

Mestinya kau faham bahwa pengkhianat ummat bukan hanya korupsi. bukan hanya perubahan pemikiran kaum wahabi. Tidak pula hanya kisah Kemal Attaturk, tapi juga sifat buruk yang kau balut dengan sifat baik,tapi juga keinginanmu untuk senantiasa ditonton dan diperhatikan ummat, sedangkan ummat kau lupakan sebagai amanat.

 

Ustdaz televisi,

Suatu hari kelak kau akan menemui kesunyian hebat yang kuramalkan tadi.

Lalu pada siapa kau pasrah dan meminta pertolongan?.

Kamera-kamera itu tak mampu menolongmu.

Tuhan tak ada dalam kameramu

 Tuhan hanya akan bilang kepadamu;

Lo gue..end!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: