//
you're reading...
BUDAYA

MANIFESTO SIHAR RAMSES

MANIFESTO SIHAR
BILA PENYAIR ME-MENEJ MARAH
Catatan : Matdon
Disampaikan pada diskusi buku Ultimus Mei 2009
 
 sihar

Sebanyak 9 puisi milik Sihar Ramses Simatupang saya terima via email, ke  9 puisi ini ada dalam kumpulan puisi terbarunya Manifesto, saya yakin benar jika ke 9 puisi ini merupakan wakil  dari sekian banyak puisinya dalam buku.

Membaca puisi Sihar tak perlu mengernyitkan mata berlama lama, karena maknanya gampang difahami, ibarat sozis, tinggal lep, semua bergizi, penuh vitamin dan segar

Sebagai penyair yang wartawan, Sihar mengumpulkan pengalaman rilnya ke dalam puisi, agar ia menjadi berita tanpa sensor, tak butuh 5 w  1h, cukup menjungkarbalikan bahasa indah ke dalam emosi yang menggebu, ke dalam ruang sajak, ke relung amarah yang bijak. Karena bagi penyair, marah harus dimenej dengan baik, agar menghasilkan puisi yang baik pula. Penyair adalah pewaris nabi yang harus mampu menjadi bagian dari seluruh persoalan di sekelilingnya.

Ya, puisi Sihar penuh gejolak amarah,   kegelisahan nya sebagai wartawan dan penyair menyatu dalam larik larik pamplet, penuh kecurigaan, kebencian, nyinyir, kecemasan dan kesedihan, semua menyatu jadi satu.

Manifesto adalah luka negeri dalam tubuh Sihar, ia menikmati luka itu dengan kemarahan estetis dan kesedihan lirirs

 

Lihat saja penggalan puisi ini :

 

Tuhan…Tuhan…

masih kudengar lantunan nyanyian dari ujung tanah.

dari negeri mapenduma papua, pidie aceh, lautan indah amboina

suara berserak, melantunkan lafadz dan doamu

berlembar-lembar sejarah

telah mengalir di darah kita

tak hanya di museum bisu

karena beribu kertas sejarah telah mencatat

duka tanjung priok, tragedi sampang. kesedihan banyuwangi,

teriakan Semanggi, airmata Poso,

dengan pena dan tinta apa harus kualirkan bahasa airmata kepadaMu?

 

                (DOA BUAT INDONESIA)

 

 

Pada Doa Buat Indonesia, Sihar nampak tengah istidraj – semacam sungkunan (nyungkun, bshs sunda) – namun memberi sesuatu mencoba nothing to lose

 

kita terus mengeja kepenatan kanak-kanak akan kekerasan

kedinginan dan letih sangsai dari pengemis jalanan

duka mengalir di jalan-jalan

dari piring para gembel yang masih mencomoti nasi sisa-sisa

kemarin malam

sebuah episode duka yang tak kunjung selesai

mendung adalah pagelaran tari

dari sebuah notasi-notasi kebiadaban

 

kepedihan atas situasi negeri yang carut marut, kemarahan yan tak bisa keluar sebagai amukan fisik, napsu kapegung amarah teu kawadahan,  adalah sikap kebanyakan rakyat  kecil negeri ini, saya jadi teringat puisi Wiji Thukul berjudul  Bunga dan Tembok

 

Seumpama bunga/Kami adalah bunga yang tak/Kau hendaki tumbuh//

Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah//

Seumpama bunga /Kami adalah bunga yang tak /Kau kehendaki adanya//

Engkau lebih suka membangun Jalan raya dan pagar besi//

Seumpama bunga / Kami adalah bunga yang /Dirontokkan di bumi kami sendiri // dst……

Puisi Puisi Sihar lainnya seperti Ambivalensi, Di Pengadilan Munir (1) Kini Kau Jadi Wacana Bisu, Indonesia: Adalah Nafas Kita, Doa Buat Indonesia, Catetan Doeka (3) , Bila Ibu Pertiwi Terbangun , Ambivalensi, Aku Mengenalmu Malam Itu, dan  Aku Mendengar Kesaksian Itu, memliki napas yang sama.

Sebagai penyair yang waktunya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, Sihar telah berhasil mengartikulasikan dirinya ke dalam sajak, pertempuran hidup yang dilalaminya di jalan adalah sebuah kesaksian yang sunyi. Yang dibutuhkan SIhar saat ini adalah sebuah ruang untuk  menarik napas panjang, agar amarahnya terhadap negeri ini tidak membahayakan dirinya, agar  luka hatinya sedikit terobati, agar kekecewaannya terhadap situasi bisa sedikit berarti. Saya tidak tahu ruang apa namanya.

Bisa saja ia melakukan Sublimasiatau displacement, sebuah mekanisme pertahanan diri yang lebih sehat, yaitu mengatasi energi (stres atau kemarahan) ke kegiatan lain seperti melakukan olahraga, berkebun, dll.  Ruang lainnya adalah Represi, yaitu menekan hal-hal yang tidak diinginkan ke dalam ketidaksadaran dan menyimpannya di sana. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan, yang ditakuti, atau keinginan yang menimbulkan rasa bersalah dalam diri kita, cobalah sesklai Sihar memanjakan diri seperti Karaoke, minum bir, nonton bioskop, atau fesbukan

Bisa  juga Sihar melakukann Regres,  yaitu kembali ke fase perkembangan sebelumnya. Manusia secara wajar selalu mencari keadaan yang menimbulkan kenyamanan, terutama bila sedang stress, misalnya menghisap jempol, pensil, permen, rokok, membaca  puisi  adalah bentuk-bentukregresi oral

Atau ada ruang lain yang diperlukan Sihar? Pernikahan misalnya? Uff maaf!!

 

Bandung, 26 Mei 2009

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: