//
you're reading...
BUDAYA

USTADZ TELEVISI

USTADZ TELEVISI 

Oleh : Matdon

 

 Kau kibarkan sorbanmu seperti mengibarkan bendera merah putih atau celana dalam.  Di setiap kibasannya ada ayat-ayat suci ada hadits ada fatwa dan berjuta teks amanat suci yang kau biarkan melayang diatas langit karena kau terlalu sibuk menjadi matahari bagi siang, dan terlalu sibuk menjadi rembulan bagi malam hari.  dan kau begitu  khusuk menikmati ketenaran selebritis. Kau tengah berlari menuju ruang sunyi paling sunyi, ruang yang di dalamnya ada tangan malaikat yang siap mencekik lehermu dan masa depanmu.

 Tapi tak pernah  kau sadadari. Karena yang kau fahami hanyalah wajah sendiri terpampang di televisi tiap pagi, siang, sore dan malam. Dari mulutmu meluncur  kegembiraan, keindahan, kesederhanaan. Sedang kau sibuk dalam kemewahan gelar sesibuk pemain sinteron sesibuk mengatur jadwal, sesibuk mengatur napas kebohongan. Kau lupa tuhan tak sesibuk dirimu. Kau habiskan dzikirmu di televisi

 Hari ini kau makin sibuk,puluhan kamera infotainment sudah disiapkan di sudut halaman rumah. Subuh harus sholat, kamera jangan lengah mengambil penyelenggaraan wudlumu. Usai berdoa menuju stasiun televisi, jangan lupa shoot saat kau pake sandal dan menyiapkan baju koko, bahkan bibirmu yang basah oleh bismilah harus zoom shoot agar nampak lebih beraklhakul karimah.

 Siang hari kau presscon,menyiapkan album, acting di film dakwah, merapihkan jadwal menyederhanakan  pendapat. Kalau perlu ada air mata menetes agar lebih sempurna. Sore hari siap-siap menuju rumah, kamera harus waspada agar langkahmu tetap terjaga.

“Pemirsa ayo ikuti saya, setelah seharian sibuk saya istrihat di rumah, nah ini kamar mandi saya, ini tempat baju dan sorban saya, ini tempat kaos kaki dan sepatu. saya, ini kamar tidur saya, ini tempat menyimpan Al-quran,  saya selalu baca quran, saya selalu sholat, sudah yaaa, saya mau istirahat dulu,dadaah….wassalalu alaikum”.  kamera  zoom out.

Oh belum selesai, malam hari ceramah di mesjid mewah. Kamera harus semangat memungut gambar kau naik mobil. Informasi ini harus segera tersebar ke pelosok-pelosok  televisi. Kau makin larut dalam kemewahan berita dan makin tak menyadari kamera-kamera itu sedang menyeretmu menuju ke ruang paling sunyi.

ruang yang menyediakan waktu untuk bunuh diri.  Larut malam kau sampai kembali di rumah dan tidur; Kini kau sibuk mendekap mimpi. Kamera tak boleh tidur di samping ranjagmu.

Begitulah hari demi hari kau lalui, tak secuil kisahpun luput kau lipat di lemari waktu agar kelak anak cucumu tahu bahwa orang tuanya pernah jadi ustadz, sering ceramah di televisi, pernah main sinteron, pernah jadi bintang iklan sabun mandi dan pernah pacaran dengan artis  terkenal. 

Biarkan malaikat sibuk dengan catatan-catatan kecil,kau sibuk  menyembunyikan  dzikir dan dzakar.  Kau begitu dekat dengan ummat hanya dalam ukuran 14 inci. Selebihnya hanya jargon, tagline, serta julukanmu yang sohor  menembus batas ketenaran.

 “Jama’ah oh jama’ah, Alhamdulillah….?”. Pada hamparan kalimat  nyinyir itu kau terbawa arus, sesekali centil diwawancara infotainment.

Begitulah berabad-abad lamanya kisah mu terulang dan diulang sejarah seperti kisah Barsisoh dalam versi lain, seperti kisah kaum munafik zaman nabi, seperti cerita kesombongan Fir’aun dalam genre absurd.

Mestinya kau faham bahwa pengkhianat ummat bukan hanya korupsi bukan hanya perubahan pemikiran kaum wahabi. Tidak pula hanya kisah Kemal Attaturk tapi juga  sifat buruk yang kau balut dengan sifat baik,tapi juga keinginanmu untuk senantiasa  ditonton dan diperhatikan ummat, sedangkan ummat kau lupakan sebagai amanat.

Suatu hari kelak kau akan menemui kesunyian hebat yang kuramalkan tadi. Kesunyian adalah neraka well dunia. Lalu pada siapa kau pasrah?. Kamera-kamera itu tak mampu menolongmu.  Tuhan tak ada dalam kameramu

 Tuhan hanya akan bilang kepadamu; Lo gue..end!

 

 bandung 2011-2012

sumber JURNAL SAJAK #4 (Oktober 2012)kopeah

 

Diskusi

36 thoughts on “USTADZ TELEVISI

  1. Astaghfirullah
    Semoga dibukakan Pintu hatinya agar meninggalkan segala bentuk KeRIYAan dan kembali mencontoh Panutan kita Rasulullah SAW yang senantiasa memperlihatkan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari aamiin

    Posted by Moch Atang S | 13/08/2013, 16:24
  2. Yaa Allah… Saya nangis baca nasihat Bapak. SAJAK nasihat ini mdh2an jadi doa dan pengingat agar saya tidak menjadi seperti yg di dalam sajak. Doakan, doakan, doakan. Salam hormat, yusuf mansur.

    Posted by yusuf mansur | 14/08/2013, 08:03
  3. menyentuh sekali

    Posted by coding | 14/08/2013, 08:14
  4. Pendapat anda belum tentu benar mas bro

    Posted by loesy | 14/08/2013, 10:11
  5. Itulah fenomena zaman skg, Ustadz Komersil jd Panutan.

    Posted by selalu berbagi | 14/08/2013, 12:54
  6. Sae,
    1) Pakailah baju ini | ah tidak mau karena org tidak akan melihat dan mnilaiku hanya karena baju
    2) pakailah wewangian ini | ah tidak mau, Ke imanan ku tidak tergantung seberapa wangi aku
    3) berkicaulah kamu | ah tidak mau, kicauanku hanyalah kicauan, tak semua insan menoleh dg kicauanku, org lain belum tentu mengerti isi kicauanku

    Posted by Ebith | 14/08/2013, 13:52
  7. Tenang Tadz itu sajak,sajak sair ajaran agama Hindu jgn hiaraukan masih banyak pengikutmu yg percaya pada Ustadz,Ustadz hanya manusia bkn malaikat.klo pun ada ustadz infotaiment kita doakan supaya jd Ustadz yg bener2 aja ini jamannya beda bung ma jaman dulu.ORTODOK amat pikiran.namanya Kyaimatdon tp banyak dari sajak ente katanya ga mendidik ya ngaca Kyai yg punya tweet bynk anak yg masih di bawah umur loh

    Posted by Hadi supriatna | 14/08/2013, 14:19
    • sajak saya religius.kakau anda belum baca sajak sajak saya jangan “katanya” atuh Kang. katanya mah cenah tea. gak obyektif “katanya” mah.
      Pak Yusuf Mansur aja dengan saya gak ada masalah kok, woles saja.ini mah buat yang merasa, kalau ngak merasa mah kaya pa Yusuf Mansur, santai saja.he he he he

      Posted by kyaimatdon | 17/08/2013, 11:10
  8. Astaghfirullohaladzim.. Istighfar Mas Bro.. Banyakin positif thinking. Berkacalah seberapa banyak manfaat yg mreka berikan utk orang laen daripada yg sudah kita lakukan

    Posted by corvy | 14/08/2013, 15:24
  9. naudzubillahu mindzalik berlindung diatas kedok agama, sebenarnya ini sudah ada di salah satu ayat di Al-Qur’an tapi lebay nih kalau disejajarkan dengan Mestinya pengkhianat ummat seperti korupsi dan perubahan pemikiran kaum wahabi. Golongan itu mah sudah sangat dewa

    Posted by Arief Ridwan | 14/08/2013, 16:31
  10. untunglah televisi di rumah saya sudah lama mati. kini saya cukup mengaji di surau bersama buya. Buya yang tampil apa adanya. Terima kasih puisinya yang telah mewakili kata-kata saya.

    Posted by idris | 15/08/2013, 03:33
  11. Pesan yang bagus dan menyentuh. permaslahannya bukan maslah masuk atau tidak masuk TV. Dalam berdakwah mau di TV atau tidak harus Ikhlas dan istiqamah (qaulan wa amalan). lebih dari itu “Huwa A’lamu bimani ttaqa” (Allah lah yg lbh mengetahui siapa hambanya yg lbh bertaqwa). khawatirnya kita bisa berkata seperti itu krn kita blm dpat kesempatan, jgn2 kl ada kesempatan kita gak ada bedanya dg ust2 yg dimaksud atau malah lbh parah. he2

    Posted by Bagus Purnomo | 15/08/2013, 04:39
  12. Terima kasih sajaknya, sangat bagus dan nendang.🙂

    Posted by Yuli Duryat | 19/08/2013, 06:36
  13. Puisinya bagus, mdh2an kita tdk spt itu.

    Yuu kita doakan, mdh2an tdk hanya tontonan tapi jadi tuntunan….. Aamiin.y.r.a…..

    Posted by Castinah | 19/08/2013, 08:02
  14. Barangkali menjadi penceramah/ustadz memang sangat berat, tidak sekedar menyampaikan ayat-ayat dan menerima honornya. bila saya tidak salah persepsi, pernah membaca sebuah artikel bahwa ketika nabi menyampaikan sebuah ayat, memang “tingkat kesadarannya” sudah sampai pada level ayat yang disampaikan itu, atau barangkali sudah menjadi perilakunya/akhlaknya. wallahu a’lam.

    Posted by Awie | 19/08/2013, 09:20
  15. Menurut saya,tugas dakwah bukan
    hanya tugas ustadz atau ustadzah saja tapi tugas kita semua kaum muslimin dan muslimat. Wajib sesama muslim untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

    Posted by friska | 31/08/2013, 14:08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: