//
you're reading...
UMUM

FENOMENA RADIO BANDUNG 2004

FENOMENA RADIO SWASTA DI BANDUNG

Matdon – Sinar Harapan 3 Mei 2004

 radio

Lupakan penyiar pujaan, karena fenomena itu sudah lewat jauh. Sekarang liriklah program acara di radio-radio swasta di Bandung, semuanya menjanjikan dan memanjakan pendengar. Sedikitrnya 33 radio siaran swasta di kota Bandung, kini tengah berebut pendengar dengan serangkaian acara, mulai dari musik, kuis, sampai informasi.

Yang menarik dari perkembangan radio di Bandung adalah program informasi, inilah fenomena baru yang ditawarkan banyak radio di Bandung, padahal sebelumnya, kota-kota lain seperti Jakarta, Medan, Yogyakarta dan Surabaya sudah lama melakukan hal ini, untuk yang satu ini, Bandung memang agak terlambat.

Radio Mara (Maraghita) Bandung, adalah radio paling dewasa dalam mengemas informasi dari lapangan langsung, dengan tenaga muda yang dinamis, selama puluhan tahun, informasi/reportase langsung dari lapangan sangat ditunggu-tunggu pendengar. Selama itu pula, hingga hari ini, pengemasan apik sebuah reportase radio, baru dimiliki Mara.

Tiga tahun lalu, hadir Radio Mora FM, sebuah radio yang mempropagandakan diri sebagai radio news, 22 reporter dari berbagai media direkrut untuk menunjang program reportase. Kehadiran Mora sebagai radio news pertama di Bandung, sempat menjadi idola warga Bandung bahkan nyaris berhasil sebagai radio news murni. Namun sayang, satu per satu reporter andalannya hengkang entah ke mana dan entah kenapa.

Semangat news radio Mora tampaknya mendarahi radio-radio lain di kota Bandung, sehingga lahir Fire FM, yang kemudian hanya bertahan enam bulan lalu bangkrut dan berubah menjadi Pass FM, meskipun masih ada reportase khusus bidang ekonomi. Kemudian lahir Bandung News Radio (BNR), radio milik Muhaemin Iskandar (pentolan PKB) ini memiliki beberapa tenaga reporter muda, dan kehadirannya menjadi bagian penting dari keberadaan radio-radio lainnya. Ada juga Radio Ganesha, radio milik Ebiet G Ade ini sempat bertahan satu tahun untuk acara reportase, untuk kemudian tenggelam lagi.

Radio-radio yang kemudian memiliki reporter bermunculan, sebut saja radio Rase, Shinta, Garuda, Barani (AM), MQ FM (Radio Milik Aa Gymnastiar) , GMR, Paramuda (khusus reportase olahraga), Selebihnya, radio-radio lain tidak memiliki reporter secara khusus, kecuali hanya reportase yang sifatnya off air atau pada acara-acara hiburan yang lebih pada promosi radio itu sendiri.
Apa pun bentuknya, kehadiran radio-radio yang memiliki reportase di kota Bandung, merupakan langkah maju, artinya keberadaan radio masih dibutuhkan oleh masyarakat bukan hanya karena permintaan lagu, tapi juga layanan informasi terkini. Apalagi, konon menurut informasi, di Bandung sudah terbentuk Ikatan Jurnalistik Radio (IJRI).

 

Fenomena Radio Dangdut

Tiba-tiba, dunia radio dangdut di kota Bandung geger, dengan kehadiran radio Cosmo yang berada di frekuensi 100,9 FM. Dengan format acara yang beragam dan dinamis, Cosmo FM menggebrak ketenangan radio Dahlia yang semula adem ayem kemudian menjadi gerah. Maka, setelah dua tahun terakhir sejak Cosmo hadir di kota Bandung, dinamika radio yang bersegmen dangdut serta merta mulai bersaing, sebelumnya gairah persaingan hanya milik radio-radio segmen anak muda, seperti Ardan, OZ, Paramuda, GMR dan 99,9.

Fenemona ini perlu dicermati, ada apa dengan dangdut?. Kehadiran musik dangdut yang kini sudah menjadi bagian integral dari kemanjaan telinga rakyat Indonesia, menjadi penting juga bagi keberadaan sebuah stasion radio, setelah televisi mulai beralih berebut pemirsa dengan menyuguhkan program-program dangdut.

Radio Dahlia, identik dengan dangdut. Eksitensinya selama puluhan tahun telah tak mungkin dapat terkalahkan oleh keberadaan radio-radio lainnya di Bandung, sebut saja Radio Rama, Radio Garuda dan Radio Antassalam. Katakanlah – Radio Dahlia semacam mitos bagi dunia musik dangdut. Tapi mitos itu menjadi hancur ketika radio Cosmo hadir.

Sebenarnya tak ada yang beda antara program acara radio Dahlia dan Cosmo, yang membedakan hanyalah penyiar Cosmo yang lebih muda, dinamis dan cerdas dalam mengemas acara, sedangkan radio Dahlia masih mengandalkan penyiar lama yang notabene masih menjadi ”jagoan” dangdut. Selain itu, upaya radio Cosmo sebagai radio dangdut dihiasi dengan reportase aktual, peristiwa-peristiwa kriminal yang ada di kota Bandung dilalap Cosmo.

Reportase ini pun, kemudin menjadi bagian yang sangat kuat dari senjata Cosmo dalam menggebrak pendengarnya, karena reportase Comso selalu berada langsung di lapangan atau di tempat kejadian perkara, tak hanya kriminal, politik dan ekonomi pun disentuhnya sebagai pelengkap informasi bagi pendengarnya.. Sedangkan radio Dahlia sampai hari ini belum memiliki reporter khususnya reporter yang berada di lapangan langsung, apalagi menyuguhkan berita aktual kriminal.

Diakui atau tidak, akhirnya radio Dahlia harus ”berperang” melawan radio Cosmo, dalam berbagai kesempatan Dahlia mencoba menyikut Cosmo dengan berbagai program, misalnya menggandeng acara-acara dangdut di televisi, dengan mencoba menampilkan logo Dahlia pada setiap akhir acara dangdut televisi. Upaya ini, bolehlah, tapi akan menjadi naïf kalau Dahlia masih tetap mempertanankan format acara yang sekarang masih berlangsung.

Sebab, warga kota Bandung bukan cuma butuh branding atau memutar lagu-lagu, melainkan sudah pada tingkat kebutuhan menyuguhkan informasi, yang tidak melulu dibacakan penyiar dari koran, tapi juga menyiarkan atau reportase dari lapangan langsung, khususnya kejadian kriminal dan politik.
Pada sisi lain, banyak sekali program radio Cosmo yang diadopsi Dahlia. Ini pun menjadi sayang sekali, karena Dahlia merupakan radio senior, tapi seolah-olah tidak pede dan ketakutan untuk bersaing secara sehat dengan radio Cosmo yang masih bayi. Sehingga dalam beberapa program, terkesan Radio Dahlia yang mengekor, bukan sebaliknya. Kalau pun akhirnya Dahlia mampu juga menghadirkan reportase, tentu sebuah upaya bagus dalam bersaing, meskipun tentu saja ini langkah yang terlambat dan sangat berat, tanpa ditunjang kemampuan serta rasa tanggung jawab sebagai sebuah radio yang menjadi wadah informasi, selain hiburan.

Dan memang sudah saatnya, kota Bandung sebagai sebuah kota yang menyimpan banyak informasi, memiliki banyak pengolahan berita, radio adalah salah satunya, sebagai pelengkap media cetak dan televisi. Ok!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: