//
you're reading...
BUDAYA

SASTRA DANGDUT

SASTRA DANGDUT

Matdon – Pikiran Rakyat, Minggu 7 Juli 2-13

 

Kami berbincang-bincang lewat obrolan di Thread inbox Pesbuk, bicara soal sastra dangdut. Obrolan yang semula ngaler ngidul ini jadi serius. Saya, Ahda Imran, Bambang Q Anees, Bode Riswandi, Bunyamin Fasya dan lain lain jadi semakin “khusuk” memperbincangkan sastra dangdut, hingga larut pagi obrolan kami makin “wihdatul Dangdut” dan tak selesai.

Sastra Dangdut adalah pembacaan puisi diiringi musik dangdut,kata Bunymin Fasya. Yang lain menimpali, tidak hanya itu, tapi lirik lagu dangdut benar benar puitis dan itu sudah masuk pada wilayah puisi.

Mari kita simak syair lagu Fazal Dath yang dinyanyikan oleh Meggy Z:

Aku bagaikan kupu-kupu di atas mata air
Ingin rasanya ku minum…
Tapi aku takut tenggelam
Ho..Oo..Oo…

 

“Nah, itu kan mengandung tafsir yang sangat dalam dan multi tafsir, biasa juga ditafsir sebagai posisioning seks,” timpal Ahda Imran.  Lagu-lagu Meggy Z memang lebih kuat dari syair para penyair Indonesia” Bambang Q Anees tak mau kalah seraya mengatakan bahwa kupu-kupu itu  akhir maqam dalam tasawuf dan mata air bisa ditafsir sumber kebenaran.

Lebih jauh pada lirik lagu Meggy Z, menurut Bunyamin Fasya “Kau yang nyalakan, engkau pula yang padamkan, tah eta mah makrifat tingkat tinggi” Katanya.

Begitulah kami berbincang, dan pada akhirnya sampai pada penyesalan bahwa dangdut kekinian hanya mengandalkan penampilan saja, goyangnya saja. Dangut sekarang hanya sebagai pertunjukan tidak sampai pada lirik yang bagus.

Simak juga lagu dangdut karya Rhoma irama berjudul “Janji” yang dinyanyian Rita Sugiarto dan Evie Tamala:

Syurga yang engkau janjikan/neraka yang kau berikan/

Manis yang aku khayalkan/pahit yang aku rasakan/

Tinggginya janjimu padaku/mengalahkan langit yang  biru/

Manisnya jannjimu padaku/mengalakan manisnya madu//

Keindahan bunyi dalam syair lagu tersebut, dan pegolahan kata serta empirisme, mampu membawa pendengar memahaminya (dengan penilaian subyektif masing-masing tentunya). Puisi dangdut memang bisa memberi kita makna yang sangat dalam ketika ditulis dengan kejujuran dan berdasar pada kehidupan yang sesungguhnya

Atau juga pada lirik lagu “Adu Domba”

Adu domba adu domba mengadu domba/

Demi keuntungan domba dipertauhkan/

……

Jadilah seorang gembala/

Di antara kawanan domba/

Binalah dan peliharalah Kerukunan antara domba/

Bila ada orang suka memecah belah

Maka dia dikatakan pengadu domba//

 

Puisi dangdut pada “Adu Doma” ini memang sangat gagah sebenarnya kalau dikatakan puisi yang baik, ibarat kapak tajam yang memecahkan kebekuan es dalam kepala kita. Tapi memang harus diakui, puisi dangdut Rhoma Irama selalu menggoda kita untuk mendengarkannya berulang kali. Beberapa puisi Rhoma Irama memiliki daya tarik unsur bunyi yang indah, gagasan dan liriknya bersenyawa, idiomnya sederhana, ada kejutan, jujur dan imaji liar.

Dalam beberapa lagunya Rhoma memasuki wilayah sosial, politik dan budaya, sebagian besar lagunya mencoba “masuk” ke dalam persoalan itu. Ada semacam protes lembut dari hampir semua puisi dangdutnya. Sejumlah pengalaman batin, menggambarkan realitas hidup, penuh estetika, idiom, dan metafor ditulis secara gamblang. Bang Haji tengah menulis realitas. Kematangan nalar kemudian menjadi persoalan dalam bekerja menulis puisi dandut, karena meskipun lagunya ditulis dengan rekaan kata, tapi isinya adalah realitas kata.

Setiap penulis lagu dangdut memiliki wilayah perhatian tersendiri, pun pada lagu lagi dangdut masa kini, hingga akhirya muncul lagu “Goyang Inul”, “Alamat Palsu” ,“Pacar Lima Langkah”,”ABG Tua”,dll

 

Halo (Sastra) Dangdut

Musik dangdut, sebagai salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an lalu, musik ini sudah mengakar sejak  tahun 1970-an, dimana popularitas musik dangdut  sudah mulai terbuka untuk mempermisikan pengaruh jazz, rock, keroncong, regae dan house music.

Sejak Rhoma Irama mempopulerkan musik dangdut dengan besutan rock, diakui atau tidak musik dangdut melejit dan menembus industri pasar. Lalu lahir penyanyi- penyanyi dangdut generasi kemudian seperti  Mansyur S, Megi Z, Muksin Alatas, Elvi Sukaesih, Camelia Malik, Rita Sugiarto, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Nita Thalia, dan seabreg nama lainnya. Suatu masa dangdut heboh dengan lahirnya Inul Daraitsa, Dewi Persik, Ayu Tingting dan Trio Macan.

Musik dangdut sebenarnya merupakan musik yang tak pernah padam, pada setiap generasi selalu hadir, meski tak sehebat pada era tahun 1990-an, dimana musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beraliran pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu Pop Dangdut, Rock Dangdut, Dangdut Reagea, Dangdut Jazz, hingga Dangdut Campursari.

Dan dari uraian diatas, saya yakin dangdut akan tidak menjadi musik murahan jika ia bersentuhan dengan sastra yan baik seperti “sastra dangdut”nya Rhoma Irama, Fazal Dath dan Meggy Z. Sebuah syair dangdut akan terasa sastranya manakala ia bisa diiringi joget yang sederhana, joget yang tak mengumbar napsu, bahkan jogednya pun menjadi joged yang puitis.

Nah, dari sekian banyak musik, nampaknya jarang ahli sastra Indonesia, menulis mengenai Sastra Dangdut dan Musik Dangdut. Padahal Dangdut adalah salah satu genre musik dan sastra yang menjadi mainstream rakyat di Indonesia.

Hayu ah…Tarik Mang…!.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: