//
you're reading...
Tak Berkategori

BIRAHI ARTIS 2008

BIRAHI POLITIK PARA ARTIS

Matdon – Kompas 7 Juli 2008

 

Ronald Reagan, mantan Presiden Amerika Serikat itu adalah aktor film. Aktor laga Arnold Scwharzenneger, kini menjabat Gubernur California, Di Filipina kita mengenal Joseph Estrada, mantan aktor yang pernah menjabat sebagai presiden dan mungkin masih banyak lagi pejabat negara yang berasal dari kalangan artis.

 Di Indonesia, aktor Rano “So Doel” Karno kini sudah meninggalkan dunia gemerlap selebritis karenatelah terpilih menjadi wakil Bupati Tengerang. Sebelumnya aktris cantik Marissa Haque gagal merebut kursi Gubernur Banten, Belum genap dua bulan, aktor laga kita Dede Yusuf dilantik menjadi wakil Gubernur Jawa Barat. Artis-artis Indonesia terus bermunculan dan“kumpul kebo” dengan partai politik, setelah bertahun-tahun lamanya artis hanya menjadi bumbu penyedap politik ; ikut nyanyi di panggung-panggung kampanye lalu ada juga yang menjadi anggota dewan.

 Penyanyi dangdut, mantan suami Dewi Persik Syaeful Djamil tak mau ketinggalan latah berpolitik dengan mencalonkan diri sebagai wakil Bupati Serang, Dewi Yul mencalonkan diri jadi wakil Bupati Cirebon, Primus Yustisio melenggang menjadi calon Bupati Kabupaten Subang, dan terakhir Diki Chandra berniat menjadi Bupati Garut.Apakah ini fenomena menyegarkan, atau sekedar kejenuhan artis yang ingin merakyat?, pertanyaan itu agak susah dijawab, atau apakah karena dunia politik dan dunia artis hampir sama yakni sama-sama dunia akting.?

 Baiklah,memasuki wilayah politik adalah memasuki legalitas kebohongan yang tersusun rapi. Memasuki era pemilihan Presiden, Gubernur atau walikota dan Bupati,adalah memasuki wilayah impian dan harapan. Dan ketika rakyat disibukan dengan kampanye, para calon pemimpin tertingi pun sibuk memasuki wilayah wilayah-janji yang biasanya berisi kebohongan, impan dan harapan, mereka sibuk masuk pasar, sesuatu yang tidak pernah dilakukan saat sedang  berkuasa, ada yang sibuk naik ojeg dan delman, sebuah aktivitas yang tdak pernah mereka lakukan sebelumya. Inilah kampanye!

 Tentu saja rakyat sudah faham dengan semua ini, faham bahwa mereka sedang dibutuhkan untuk memuluskan jalan calon-calon pemimpin bisa naik ke pelaminan kekuasaan , Rakyat (miskin) jugasedang menyadari penuh bahwa mereka tidak butuh apa-apa kecuali harga minyak, bawang cabe, sayuran dan lain-lain murah.

Bagi rakyat mungkin tak peduli siapa pemimpin mereka, karena yang penting rakyat bisa makan, sekolah gratis, biaya dokter tidak mencekik dll.

Dari beberapa sumber saya menemukan bahwa politik merupakan sebuah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat . Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik dan kebohongan.

Tapi di sisi lain politik adalah melupakan segala tetek bengek kejujuran, bohong adalah kewajiban atau paling tidak fardu kifayah yang harus dijalani dalam politik . Lalu, jika kemudian di beberapa wilayah di Nusantara, dunia politik

kita dihuni oleh artis, mereka ada yang menjadi gubernur, walikota, Bupati, Camat bahkan lurah atau presiden, apakah perekonomian kita berubah pula. Jika politikus dinilai oleh kebanyakan orang pandai berakting dan berbohong, apa bedanya dengan artis, mereka juga sering berbohong melalui infotainment. Politikus dan artis memang lebih terkenal daripada Tuhan.

Selama ini kita jarang mendengar artis terjun langsung ke masyarakat berbaur dengan mereka untuk melakukan sosialisasi,

karena jadwal syuting yang padat dan pesta yang kelewat hasrat, jika ada bakti soaial artis itu mungkin hanya sekedar memenuhi persyaratan manusia untuk kepentingan berita infotainment belaka, selebihnya adalah bura-hura. Selama ini kita lebih sering melihat pejabat yang turun ke lapangan walaupun dengan tujuan yang buruk, seperti ingin mendapat simpati, setor muka menyembunyikan wajah korup dll.

Meragukan kemampuan intelekual artis tenu saja harus, simak saja apa yang disampaikan Syaeful Jamil di sebuah televisi swasta, ”Saya bisa menghibur rakyat yang sedang resah akibat kenaikan BBM, dengan menyannyi,” pernyataan ini tentu saja menjadi wakil intelektualitas artis kita, walaupun tidak seluruhnya intelektualitas artis kita berada dibawah rata-rata kecerdasan kaum politikus. Artinya, keraguan kita akan terjawab saat mereka benar-benar teruji

untuk dua atau tiga musim pilkada di tanah air, setelah mereka mau belajar memahami betapa rumitnya mengurus rakyat.Tetapi apakah mereka mampu seperti Presiden Reagen? yang pada awal kepemimpinannya ia memfokuskan diri pada penyegaran stagnasi kondisi ekonomi, inflasi dan pengangguran yang dikenal dengan gerakan Reaganomics, (konon ini julukan yang digunakan oleh pendukung sekaligus lawan politiknya).

Jika fenomena artis melamar partai politik atau sebaliknya, menjadi fenomena yang bagus, maka rakyat pasti akan senang, tapi jika fenomena ini merupakan preseden buruk bagi pasar politik kita, lebih baik birahi politik itu disimpan dulu saja, sampai saatnya tiba ketika kecerdasan berfikir sudah menjadi milik calon pemimpin entah dari

latar belakang apa. Jual tampang dan popularitas belum tentu membuat rakyat senang, memang siapun warga negara

berhak untuk terjun di politik, sistem demokrasi kita selalu menjunjung dan menghargai mereka yang ingin mewarnai hidup

dengan politik. Artis merupakan bagian dari masyarakat yang berhak mengabdi pada negara, Jika ada partai politik yang rela membuka pintu bagi artis, ya katakanlah sebagai hiburan politik yang mahal.

 

Namun biasanya artis yang memasuki wilayah politik biasanya mereka yang sudah mencapai puncak popularitas dan ingin tetap eksis setelah masa keemasannya berakhir, sebut saja Komar Empat Sekawan, Nurul Arifin, Adji Massaid, Angelina Sondakh dll  Saya kok yakin, sangat tidak mungkin para artis mampu memobilitas – mengaktualisasikan diri dan menjadi politikus dalam waktu yang sangat singkat, menjadi politikus itu perlu berpuluh-puluh tahun, perlu berdarah-darah dan perlu pengorbanan yang tinggi, tidak ujug-ujug bim salabim abrakadabra mampu merelaisasikan janji pada rakyat, politikus saja sangat sukar untuk membuktikan hal itu.

Kehadiran kaum selebritis di ranah politik tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap kesejahteraan rakyat dalam waktu sekejap, sebab cita-cita rakyat Indonesia menuju sejahtrera tidak bisa hanya diwujudkan oleh satu orang ataupun sekelompok orang tertentu, ia membutuhkan rasa peduli terhadap politik dan rakyat itu sendiri.

Birahi politik para artis sebaiknya jangan diumbar dulu, saya takut fenomena ini hanya menjadi pelacuran politik belaka!! .

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: