//
you're reading...
BUDAYA

GAIRAH REALISME 2008

Pameran Seni Rupa Surfacial

GAIRAH BARU REALISME

Matdon Sinar Harapan April 2008

 

Generasi baru dalam dunia seni rupa di Bandung selalu membawa perubahan, meski berangkat dari pendahulunya. Apalagi gejala realisme baru Cina begitu mengendap dalam dunia seni rupa di Indonesia, pun ketika sembilan perupa “generasi baru” (sekedar untuk menghindari kata pemula) dari ITB mengelar pameran di Selasara Sunaryo Art Space (SSAS) Jl.Dago Pakar Timur Bandung dengan tajuk “Surfacial”.

Pameran yang digelar 18 –30 April ini menunjukan gelegak gairah yang begitu meledak ledak, lukisan-lukisan mereka ibarat proses menyelami permukaan wajah benda benda (surface, Facial ; surfacial). Mereka adalah  Ayi Sahrul Hamzah, Cecep Taufik, Ferry Widaiantoro, Firly Gardia, Jabbar Muhamad, Rizki Rahadian, Kiki Rizki, Moch Rizal, dan Tomy Nelwan.

Lihat saja lukisan  wajah seorang wanita berjudul “Litle Sunshine” karya Firly Garda, nampak kental dengan estetika digital yang digabung dengan sapuan kuas yang lembut, wajah wanita dalam banyak bingkai segi emnpat ini mengingatkan kita pada photoshop yang ada di komputer , luar biasa!!. Atau pada likisan Moch Rizal berjudul “Mooi”, dua karikatur manusia zaman kuno tengah berdialog dengan latar belakang pemandangan indah. Ini perpaduan waktu lama dan kini, khayalan perupa yang satu ini memancing emosi estetika yang cukup matang, hal ini bisa dilihat pada lukisan-lukisan lainnya. Meski demikian secara keseluruhan, 27 lukisan para perupa ini belum menunjukan keliaran yang tasbih.

Dalam catatan pengantarnya, pengamat seni rupa Bambang Sugiharto menilai karya lukis kerap dilihat dalam kerangka platonian tentang mimesis atau peniruan, lukisan merupakan penipuan yang membelokan perhatian orang ke arah dunia tampilan, menjauhkan orang  dari dunia sesungguhnya.  Segala obyek di dunia pada dasarnya bisa dilihat sebagai apapun, wajah manusia misalnya bisa dipandang sebagai monyet, syetan, dungu, bloon, sebuah lukisan saat dilihat sebenarnya adalah dunia fiktip yang dibangun oleh penonton atau luksian itu sendiri, yang membedakan ialah soal apresiasi. Karya seni yang memancing emosi estetika adalah karya seni  yang memiki makna. Seluruh lukisan yang dipamerkan ini memiliki kacermatan mimesis yang cukup sempurna, ada distorsi digital yang hendak mereka usung, demikian Bambang menyampaikannya.

Hampir seluruh lukisan dalam pameran mereka menyuguhkan Objek lukisan lazim menjadi tak lazim, mereka begitu kuat memaksakan diri memasuki teknik realis, wajah manusia yang aneh, karikatur yang serius, kabal-kabel listrik, lukisan mobil yang rusak, daun-daun berserakan, mulut manusia dengan  gigi berantakan   dan lain-lain. Para perupa muda ini memang masih terus mencari bentuk yang sesungguhnya, jam terbang mereka dalam pameran rata-rata baru dua sampai lima kali, apalagi bagi Tommy Mackhel pameran ini baru pertama kali ia lakukan.

Mengutip apa yang dikatakan pengamat seni rupa Ahmad Senjaya, Memahami lukisan realisme kadang tak semudah menikmati keindahan obyek yang berpindah dari alam keseharian kita ke bidang kanvas. Realisme di tangan pelukis, mungkin bukan sekedar perpindahan obyek, tetapi juga alat untuk menyampaikan pikiran. emahaman Azam tentang hidup tidak selalu harus diungkapkan dengan gaya realisme. Seperti pada lukisan Firly Ggarda yang melakukan eksplorasi dengan menabrak bentuk wajah wanita, ia menuangkan apa  yang dilihat dan dirasakannya memiliki makna yang lebih jauh dari sekadar memotretnya, pemahamannya tentang wajah tidak selalu harus diungkapkan dengan gaya realisme yang biasa dilihat.

Ya,  Para perupa ini sah-sah saja menganggap diri mereka sebagai makhluk yang seakan baru saja terjun dari misteri penciptaan agung dan mendarat di sekitar mereka.. Pada seni rupa di Indonesia, keaslian diciptakan dan ditampilkan dengan istilah “terbebas dari ikatan normatif maupun tradisi seni sebelumnya,  hingga realisme seni rupa menjadi kembali menarik untuk diperbincangkan.  Sejumlah pengamat seni ruipa menyebutkan,  di Indonesia idiom seni lukis diperbarui- di antaranya oleh realisme fotografis pada dekade ’80-an.

Perkembangan pada jalur ini dianggap menyegarkan kembali hasrat “mencipta” manusia. Jika intuisi, geometri dan abstraksi menjadi makin senyap dan dingin serupa mumi, gaya realisme begitu bergairah “membuat hidup lebih hidup”. Tanda, permainan atau reproduksi bahasa tak perlu diklaim lagi sebagai ciri personal senimannya. “Paska realisme” baru ini menarik untuk diamati sampai hari ini di Indonesia. Meskipun para perupa yang berpameran ini harus lebih banyak lagi “membaca” realitas yang ada.

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: