//
you're reading...
BUDAYA

ISA PERKASA 2009

Pameran Tunggal Isa Perkasa

MENYERAGAMKAN INGATAN

Matdon – Sinar Harapan Mei 2009

 

 

Sebanyak 30 lukisan karya perupa senior Isa Perkasa, dipamerkan di Selasar Sunaryo Arts Art Space Dago Bandung,  pada 29 Mei hingga  14 Juni mendatang, dengan tajuk “Ingatan Yang Diseragamkan”.

Ingatan Yang Diseragamkan merupakan serial hasil investigasi Isa Perkasa terhadap pelbagai sisi buruk bangsa dan negara. Hasil investigasi mengingatkan kita kembali bahwa masa-masa yang penuh represif dan korup – sebagaimana mengemuka di zaman Orde Baru – ternyata belum sepenuhnya berakhir.

Sejumlah lukisan pria lulusan ITB ini, nampak berupaya bahkan memaksa kita untuk kembali berada pada saat saat bangsa ini dibawah tekanan penguasa, dimana saat Orde Baru rakyat tak diberi keleluasaan untuk memberikan pendapat. Hak untuk memperoleh informasi, hak demokrasi digambarkan Isa sebagi sebuah perkosaan terhadap hak hak rakyat.

Kurator pameran Aminudin TH Siregar mengatakan, Dalam pameran Ingatan Yang Diseragamkan ini, Isa Perkasa menyuguhkan fragmen-fragmen manusia berseragam yang memprovokasi ingatan kita tentang suatu masa ketika bangsa ini (masih) dikuasai oleh rezim otoriter. Di dalam serial yang dikerjakan dengan teknik gambar negatif ini (sekaligus metafor untuk merefleksikan sisi buruk tanah air), Isa banyak memanfaatkan metafor-metafor yang secara gamblang menjadikan karyanya mudah untuk dibaca serta dipahami.

Seperti kebanyakan perupa kotemporer Bandung, drawing Isa Perkasa menjadi gejala perluasan kehadiran seni rupa dari media tradisional ke berbagai percampuran media baru seperti pada seni instalasi, seni objek, seni digital, seni penyadaran, seni publik, video, seni rupa pertunjukan (performance art), happening art dan sejenisnya. Ini sangat wajar, karena Isa Perkasa merupakan  salah satu seniman yang bergiat dengan gambar sekaligus seni rupa pertunjukan. Sejak 1988 di ITB ia sudah mencoba kemungkinan serbamedia rupa plus seni gerak dan ruang yang diambil dari seni teater.

Tubuh manusia menjadi khas drawing Isa, karena menurutnya tubuh adalah suatu proses untuk memperkenalkan diri secara terus menerus, dimana tempat dan lingkungan menyesuaikan diri dengan apa yang dikehendaki baik oleh tubuh kedirian atau tubuh lain. Proses inilah yang menghasilkan interaksi, sehingga lingkungan sosial terkendali dan dapat dilihat pola-pola loyalitasnya terhadap pemeliharaan tubuh. Tubuh dalam sudut pandang sosial memang mengalami benturan yang tidak dapat dihindarkan dengan tubuh lain.

Kebertubuhan membutuhkan identitas juga selain otoritas untuk mengisi ruang-ruang yang kadang sulit dikendalikan. Tubuh terproyeksi menjadi ‘sesuatu’ yang terlihat menghidupkan tatanan. “Ketika kondisi kritis dalam kehidupan sosial muncul, disinilah eksistensi tubuh menjadi sesuatu yang dibutuhkan, dinyatakan menjadi sesuatu yang kritis, kondisi memang mewujudkan tubuh sedemikian rupa untuk membentuk diri, terproyeksi dalam tekanan yang kritis, secara sosial,” ujar Isa Perkasa.

 

Visual Tubuh

Visual-visual benturan tubuh ini menghasilkan otoritas dinamika sosial yang berkesinambungan. Otoritas tubuh muncul dan menjadi sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dengan kondisi sosial, dimana kondisi itu menentukan tubuh itu sendiri. Melalui kondisi sosial yang kritis terlihat bagaimana peranan tubuh dalam menegakan diri membentuk identitasnya.

Dan dalam pameran Ingatan Yang Diseragamkan, Isa memamerkan karya-karya drawing terbaru yang dia kerjakan dengan memanfaatkan kain-kain seragam dinas dari elemen-elemen pemerintah: Satpol PP, Kejaksaan, Kehakiman, Kepolisian, Kehutanan, TNI, Pemda hingga seragam Sekolah Dasar sera Tahanan yang nempel di tubuh manusia.

Sementara Aminudin menilai Isa Perkasa cenderung menawarkan teks-teks writerly (scriptable) yang tidak memiliki perangkat solusi yang terang, namun memerlukan partisipasi pembaca yang terus-menerus agar aktif dalam konstruksinya. Namun menurut Amin strateginya cukup jelas, yaitu bagaimana seni bisa mengembalikan kesadaran kritis kepada setiap individu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: