//
you're reading...
BUDAYA

BABU YANG MALANG 2009

Pentas Teater Bandung Mooi

BABU BABU YANG MALANG

Matdon-Sinar Harapan 14 Maret 2009

 

Pembantu atau babu selalu menjadi kasta paling rendah dalam sebuah tatanan rumah tangga, ia menjadi obyek paling empuk untuk dihina, dicaci maki dan diperbudak oleh majikannya. Pekerjaan babu biasanya dijalankan oleh perampuan, karena babu perempuan selain apik, telaten juga gampang dijajah dan menerima

Inilah yang tergambar dalam pentas teater Bandung Mooi dengan judul “Babu Babu” karya Jean Genet dengan sutradara Hermana HMT, Sabtu malam (7/3) di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) de Bandung.

 

Adalah dua wanita bekerja sebagai pembantu rumah tangga, mereka sudah kesal dengan perlakuakn majikannya yang kerap meyiksa dan menganiaya, tindakan kasar tiap hari menjadi sarapan pagi, hianan siang dan jeritan malam. Status sosial keduanya makin rendah manakala majikan tak pernah memberi gaji tiap bulan, cukup makan dan minum.

Sebuah pemberontakan dari rasa sakit yang dalam membuat mereka nekad akan meracun majikannya, rencana sudah disusun, keduanya memasukan 10 tablet racun arsenik pada segelas air teh majikannya. Mumpung Tuannya dipenjara dan  Nyonya sang majikan sedang  pesta.

Sayang sang Nyonya tak kunjung pulang, keduanya menjadi kesal. Maka untuk melampiaskan kekesalannya bergantian kedua babu ini berperan menjadi nyonya, tak pelak lagi the dalam gelas diminum juga oleh salah seorang babu hingga tewas.

Hermana Hmt selaku sutradara berhasil membuat konflik sederhana dalam pementasan tetaer ini, apalagi jika ia berani membuat konflik lebih tragis, misalnya kedua babu menjadi lesbian atau keduanya mati bersama minum racun.

Tapi mungkin Hermana tidak begitu konsentrasi dengan naskah ini, tidak seperti biasanya. Saya tahu persis bagaimana ia kesulitan mencari pemain dalam waktu enam bulan, dan baru sebulan menjelang pementasan ia menemukan dua pemain yang kemudian dipercepat menjadi “Babu”. Sebuah langkah berani dalam penyutradaraan teater dengan waktu yang singkat.

Teater Sabrehna

“Babu-Babu” merupakan adaptasi dari “Les bonnes” karya Jean Genet, sebuah naskah Prancis terkenal. Hermana dengan Bandung Mooi-nya dipercaya menggarap naskah ini dalam rangka memperingati Hari Perempuan se-Dunia.

Lumayan menarik mengenal Hermana dan Bandung Mooi nya, Hermana HMT sering dipanggil Mang Hermana,  lahir di Bandung, 11 Oktober 1969. Mulai menggeluti dunia teater sejak masuk SMA dengan bergabung bersama Teater Bapensi (1986-1989). Dari tahun 1989 bergabung dengan Teater Bel Bandung, aktif sebagai pemain, Instuktur, penata artistik dan sekarang sebagai kepala bidang pendidikan/kursus Acting.

Tahun 1998 masuk STSI Bandung spesialisasi penyutradaraan hingga selesai. Selain itu, ia juga seorang wartawan Koran berbahasa sunda.

Pada setiap proses garapan teaternya, ia sering kali mengusung gagasan yang tidak mengacu pada gaya pemanggugan realisme Stnaslavsky, tetapi lebih berpijak pada spirit teater tradisonal ( Longser ) dan Teater epis Brecht. Spirit itu merupakan dasar pijakan, yang kemudian dikembangkan dengan gaya dan pengalaman yang dimiliki sehingga menjadi “gagasan baru” yang mewujud dalam “bentuk baru”, dan Hermana  menyebutnya dengan sebutan Teater Sabrehna.

Sabrehna diambil dari bahasa Sunda yang artinya seadanya, senyatanya. Sabrehna dalam teater Bandung Mooi adalah konsep teater yang tercipta dari hasil percampuran berbagai konsepsi teater yang sudah ada, kemudian diramu kembali dengan hasil penemuan-penemuan sendiri dari pengalaman selama berproses, hingga terlahir satu bentuk teater yang tidak dikatagorikan lagi sebagai penganut mazhab tertentu (Stanislavky-an, Brecht-an, grotovsky-an atau Artaud-an dan lainnya lagi).

Sabrehna apa yang dilihat, di pikirkan, dirasakan dan sabrehna apa yang digerakan, dalam koridor penuh kesadaran tanpa mengesampikan etika dan kekuatan estetik sebagai pertanggungjawaban kepada publik. Perlakuan seperti itu dilakukan bukan berarti menyepelekan mazhab-mazhab teater yang sudah ada, tapi lebih pada kekhawatiran terjebak dalam pergulatan mazhab.

Pun pada naskah “Babu Babu”, Hermana kembali mengungkapkan Sabrehna persoalan perempuan yang selalu ternistakan. Kekurangan dalam pementasan ini, karena terlalu singkat dalam penggarapan, terlalu sabrehna. Apa adanya

 

 

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: