//
you're reading...
BUDAYA

WS.RENDRA 2009

SENIMAN BANDUNG TAHLILAN

 UNTUK RENDRA

Matdon – Sinar Harapan Jumat 18 September 2009

           

Sekitar 100 seniman Bandung dan Jawa Barat, Selasa malam, 15 September 2009 menggelar tahlilan 40 hari wafatnya penyair, dramawan, dan budayawan WS Rendra, di Gedung Indonesia Menggugat JlPerintis Kemerdekaan 5 Bandung.

Sebelumnya, para seniman dari berbagai bidang ini salat tarawih bersama dipimpin Kiai Maman Immanul Haq, penyair dan salah seorang pemimpin Pondok Pesantren di Majalengka, dan berlanjut dengan tahlil yang dipimpin Kiai Ahmad Faisal Imron, penyair sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Baetul Arqom Ciparay, Bandung.


Berbeda dengan acara seniman yang biasa digelar di Bandung, kali ini mereka khusuk membacakan sejumlah ayat suci dan berdoa bersama. Tidak ada pembacaan puisi, orasi, atau peunjukan seni lainnya. “Ini memang bukan acara kesenian, tapi kami berdoa untuk Mas Willy,”  ujar Herry Dim, penggagas acara ini.


Tahlilan merupakan ritual doa bersama yang dilakukan sebagian umat Islam di Tanah Air untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40 serta  ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1.000.

******


Acara Tahlilan merupakan awal dari rangkaian acara “Bandung Mengenang 100 Hari Rendra”,yang digelar sejak 15 September hingga 11 November 2009. Menurut Herry, rangkaian acara Bandung Mengenang Rendra diisi berbagai kegiatan yang sangat padat.

Sejumlah acara yang akan digelar oleh para seniman Bandung selain tahlil antara lain diskusi sastra, pembacaan puisi Rendra, pemutaran Film Kantata Takwa, pameran seni rupa, pemutaran orasi Megatruh Rendra, dan puncaknya pementasan teater “Kisah Perjuangan Suku Naga”, sebuah karya drama fenomenal Rendra, pada 7-11 November 2009.

Pada “Kisah Perjuangan Suku Naga”, bertindak selaku sutradara Yusef Muldiyana dan Gusjus Mahesa. Para pemain diambil dari sekitar 40 kelompok teater di Bandung dan Jawa Barat.

WS Rendra, atau  Wahyu Sulaeman Rendra terlahir sebagai Willibrordus Surendra Broto Rendra. Ia lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 (wafat di Jakarta, 6 Agustus 2009, pada umur 73 tahun). Penyair ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok.

Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.
Bengkel Teater Rendra sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di Tanah Air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

“Kisah Perjuangan Suku Naga” merupakan karya yang sangat berarti bagi Rendra. Naskah ini ditulis pada tahun 1974 dan hingga kini masih relevan untuk diapresiasai kembali oleh publik Indonesia.

“Rendra adalah seniman yang mampu membaca ayat-ayat alam. Ia bisa membaca situasi sosial dan politik masa depan negeri ini, salah satunya dalam naskah perjuangan suku naga,” papar Herry Dim.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: