//
you're reading...
BUDAYA

WAYANG KERTAS 2010

Wayang Kertas Sri Lanka

PERTUNJUKAN YANG GAGAL

Matdon _ Sinar Harapan Sabtu 24 April 2010

 

Awalnya, saya ber­harap pertunjuk­an wayang kertas oleh seniman Ko­sa­la Priyam Kumara, asal Sri Lanka ini bisa me­­nampilkan tontonan yang lain dari pertunjukan wa­yang-wayang yang ada di dunia. Namun, nyatanya atraksi itu hanya seperti sebuah latihan, gagap dan ragu, hambar tanpa greget, dan dingin tanpa emosi.

Kosala, seniman asal Sri lanka dan beberapa kawannya  datang ke Kota Bandung dalam rangka program darmasiswa dengan Kampus STSI Bandung, lalu melakukan riset tentang wa­yang yang ada di Indonesia, mengajak beberapa seniman asal Jatiwangi Majalengka Jawa Barat melakukan workshop. Maka lahirlah wayang kertas, dan menamakan pertujukannya dengan “Spirit of Nature”, sebuah  teater bayangan kontemporer.

 

Pertunjukan “Spirit of Na­ture” yang digelar di Kampus STSI Jumat (23/4) malam itu mereka artikan sebagai se­ma­ngat alami, ada­lah salah satu pentas teater bayangan kontemporer yang menceritakan bagaimana ke­budayaan dahulu punya ke­percayaan dan ke­hormatan kepada alam, karena mereka mengerti kalau han­cur yang lain pasti hancur mereka sendiri.

 

Namun, sejak panggung dibuka, narator dan penampil­an Yanti Garnita (Jatiwangi Art Factory, Bandung) sudah terasa tak mampu menggiring penonton ke alur cerita yang ajeg, ka­re­na selain tak “menjadi tea­ter”, dialog yang ngos-ngosan juga  membuat napas terganggu.

 

Cerita memang mengalir cukup sempurna, diiringi mu­sik kontemporer dari musisi asal Meksiko Daniel Milan Cabrera. Namun, pe­nampilan mereka terbata-bata sehingga memendekkan alur cerita itu.  Pertunjukan ini meng­gunakan kekuatan ca­ha­ya dan suara untuk menyampaikan pesan akan pentingnya menjaga ke­utuhan bumi.

Versi “Wayang Lain” di Dunia

Sekadar informasi, wayang tidak hanya ada di Indonesia (golek, wong, kulit, dll), tapi juga ada di Haiti yang dikenal dengan Recycled Cut Metal Nativity from Haiti. Di Inggris wayang dikenal dengan glove puppet yang diciptakan oleh orang Inggris bernama Walter Wilkinson.

Di Afrika wayang dikenal dengan “Recycled Glass Bead Nativity from Ghana”, sedangkan di Peru wayang dikenal dengan sebutan “Andean Finger Puppet Nativity from Peru”.

Sebenarnya, Srilanka me­miliki  tradisi wayang sendiri yang disebut dengan “Wood Nativity from Sri Lanka”, dan ada dalang terkenal Srilanka bernama Siri Kumarasinhe yang kini sudah meninggal. Namun, sebagai seniman muda, Kosala rupanya mencoba mencari bentuk baru di Indonesia.
Biasanya, di Sri Lanka lakon Ramayana berbeda versi dengan yang dari Indonesia. Di sana, Rahwana menjadi pahlawan karena diidentikkan dengan warga asli Sri Lanka, sedangkan Rama adalah penjajah yang didukung oleh suku Tamil.

Sebenarnya, jika Kosala mau memainkan wayang hasil warisan dalang Siri Kumaransihe, tentu pertunjukan akan lebih menarik. Tapi itulah pencarian, sebuah upaya menemukan jati diri seniman

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: