//
you're reading...
BUDAYA

TEATER LOBA 2010

Pementasan Teater

LU ORANG BANGSA APA?

Matdon-Sinar Harapan Agutus 2010

 

Sebuah petilasan atau makam sesepuh bernama Kromobongso, dibangun menjadi cagar alam, orang-orangpun berdatangan untuk menggali sejarah di dalamnya. Makam ini dipelihara secara turun temurun oleh juru kunci sampai pada juru kunci terakhir bernama Mbah Mangin.

Mbah Mangin hidup bersama adiknya Tirah, seoang penari yang akhirnya gila karena diperkosa oleh para penggemanya. Mbah Mangin begitu setia memelihara makam Kromobongso, memelihara dari kebersihannya sampai pada menjaga dari kejahatan orang-orang yang akan merusaknya.

Suatu hari Mbah Mangin kedatangan kawan lamanya bernama Modin Kadiban yang menawarkan untuk melakukan upacara Ruwatan Bumi agar makam Kromobongso kembali banyak didatangi wisatawan. Niat Modin sebetulnya jahat, karena ia akan menggali makam dengan harapan menemukan harta karun berupa emas.

Srikandi dan seorang musafir sudah mengingatkan Mbah Mangin agar tidak termakan rayuan Modin Kadiban, namun terlanjur, makam pun digali oleh Modin. Rupanya arwah Kromobongso marah, maka terjadilah bencana gempa bumi, yang mengakibatkan Modin tewas.

Menyadari kekeliruannya, Mbang Mangin meminta maaf pada Tuhan dan kembali memelihara makam ini sampai ia meninggal dunia.

                                                ***

Kisah ini terdapat pada pementasan teater  berjudul LOBA (Lu Orang Bangsa Apa) karya Arthur S. Nalan, yang dipentaskan Teater Alibi dengan sutradara Irwan Guntari, pada 2-3-4 Agustus 2010 di kampus STSI Jl.Buahbatu Bandung.

LOBA berbicara dan banyak mengkritisi pentingnya pelestarian nilai sejarah, memberikan pencerahan kepada masyarakat, ilmuwan dan pemerintah tentang pentingnya nilai-nilai sejarah bagi pendidikan bangsanya. Karena masalah lunturnya rasa bangga dan penghargaan kepada benda-benda peninggalan sejarah serta kepada masyarakat yang menjaga benda-benda sejarah itu tetap saja terjadi hingga sekarang dan mungkin pada masa yang akan datang.

Menurut Arthur, naskah LOBA ditulis karena terjadinya segelintir orang yang menganggap adanya harta karun di petilasan Batu Tulis hingga orang-orang itu menggalinya bahkan sampai dilakukan oleh pejabat menteri. Dan ini terjadi pula di Monumen Jenderal Sudirman di Pacitan Jatim, yang akan dijual oleh  ahli waris pemilik lahan. “Naskah ini semacam otokritik bagi rakyat Indonesia yang tidak menghargai sejarah,” ujar Arthur.

Pementasan berdurasi satu jam ini, menandai kembalinya Irwan Guntari menjadi sutradara teater setelah 5 tahun, Irwanpun tidak mau  “terjebak” pada teater surrealisme seperti pada penyutradaraan sebelumnya, mungkin karena saat ini di Eropa juga sudah jenuh dengan surrealisme. Irwan seperti ingin mengungkap kembali permasalahan lama yang kerapkali muncul kembali. Pada penggarapan LOBA, Irwan berhasil menjadi sutradara yang bisa diam pada  wilayahnya.

Sayang sekali, pementasan yang diprakarsai oleh PT. Javadi Artwork ini tidak mendapat apresiasi bagus dari publik teater di Bandung, pada hari pertama pementasan hanya ditonton 5 orang, ditambah tiga wartawan dan 4 orang crew.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: