//
you're reading...
BUDAYA

SHAKESAPEARE 2009

Teater “Shakespeare Carnivora”

HAMLET SIMBOL KEKERASAN

Matdon – Sinar Harapan April 2009

 

Bagaimana jika Hamlet (tokoh utama  dalam salah satu drama tragedi karya William Shakespeare), bertemu Dayang Sumbi dan si Tumang (tokoh legenda tanah Parahyangan) bertemu dalam sebuah panggung pertunjukan yang dikemas oleh Sutradara kawakan Beni Johanes (Benjon)?;

Dayang Sumbi bertemu dengan si Tumang, bercinta, lalu melahirkan anak namanya Hamlet, kelahiran Hamlet disambut Dayang Sumbi dengan kaish sayang. Hamlet tumbuh besar besar dan menjadi pemburu, suatu kali ia berburu anjing dan memenggal kepalanya, nyatanya anjing itu ialah si Tumang, bapaknya.

Hamlet si pemburu yang sudah dewasa mencoba memperkosa Dayang Sumbi, tapi Tumang bangkit dengan kepala kambing dan membunuh Hamlet, mati. Hamlet bangkit lagi dan menjadi manusia yang haus kehormatan, orang –orang dengan mudah mati di tangannya, menyerahkan kepala untuk dipenggal.

Memasuki fase kehidupan selanjutnya Hamlet berganti wajah menjadi Himler yang mencintai wanita berenama Ophelia, tapi Dayang Sumbi merayu Himler agar mau bercita dengannya, setalah itu Himler (Hamlet) berubah menjadi Hamlet Soekarno. Hamlet Soekarno bertemu RA. Kartini dan saling mencintai  namun kisah pembantaian terjadi sehingga semua mahluk mati. Dayang Sumbi yang lebih awal mati, ditemui William hakespeare dan berkata “Dayang Sumbi tak petnah mati, William yang menyelamatkannya”

Itulah naskah teater  “Shakespeare Carnivora” karya Benjon yang dipentaskan OYAG FORUM, di kampus STSI Jl.Buahbatu 212 bandung, selam dua hari, 1- 2 April 2009. Pementasan dengan durasi 3 jam ini terasa melelahkan tapi nikmat,  rumit tapi tak njelimet, liar tapi asyik,  penuh pesan moral.Perteamuan tokoh yang sudah dikenal masyarakat oleh Benjon diacak-acak menjadi identitas yang bukan sebenarnya, ditelanjangi bahkan menjadi seseorang yang tak jelas. Benjon menyutradarai naskah ini kolobarasi dengan sutradara/aktor muda Irwan Jamal.

 

 

Simbol Kekerasan

Menyaksikan drama “Shakespeare Carnivora” adalah membaca keliaran Benjon dan memahami eksplorasi Irwan Jamal, Sejak mementaskan nasjah darama “Manusia Kapuk” puluhan tahun silam, Benjon adalah sutradara/actor yang dikenal sebagai pribadi beride edan,hasratnya untuk menggabungkan sesuatu yang realistik menjadi fiktif atau sebaliknya selalu nampak dalam setiap karyanya, cita rasa mentertawakan kepahitan hidup, kekerasan, moral dan seks selalu dipersoalkan, “pada masa primitive sebelum manusia mengenal Agama, mereka bermoral, menghomati alam, cinta dan seks, kini setelah Agama melahirkan banyak ulama, moral, seks dan cinta tak lagi menjadi barang berharga,” begitu kira-kira salah satu perlawanan Benjon dalam naskah ini.

Hamlet adalah sebuah simbol manusia dengan berbagai sifat baik buruk, menonton drama ini seolah-olah kita sedang menonton ketololan sendiri, melihat bagaimana bangsa ini gamang dan penuh kemitrsan. Hamlet dalam naskah ini menjadi karakter berbeda bahkan lahir mati lahir mati hingga lima kali, hadir dengan wajah dan peristiwa  bebeda pul.

Menonton kisah ini, seperti melihat rumus fisika atau pelajaran matematika bagi mereka yang tidak menyukai  kerumitan, ibarat menaiki gunung yang tinggi yang penuh duri, teks teks yang muncul menjadi kontekstual dengan dunia nyata.  Apalagi ekspresi artistik yang dihadirkan memberikan kesan satire, pahit, ironis, ada banyak aspek simbolisasi yang tercurah pada pemanggungan peristiwa.

Sejak awal pertunjukan hingga selama tiga jam, sebanyak 300 penonton tidak beranjak dari tempat duduknya. Dan ketika pertunjukan selesai, masing-masing menyampaikan kekagumannya pada alur cerita Shakespaare Carnivora ini, meskipun banyak juga yang mengatakan, “wah..saya nggak ngerti tuh makna pertunjukan ini, ceritanya loncat loncat, kalau dalam permainan sepakbola seperti tidak memiliki permainan dan pola yang bagus….” Ujar Daus, salah seorang penonton.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: