//
you're reading...
BUDAYA

NYIAR LUMAR 2008

NYIAR LUMAR  TERAKHIR DIGELAR

Matdon –Sinar Harapan Juni 2008

 

 

Wagub Jabar Dede Yusuf dan Bupati Ciamis H Engkon Komara batal membuka acara budaya dua tahunan Nyiar Lumar di Kawali Ciamis pada Sabtu lalu (26/6), panitia pun akhirnya berkeyakinan bahwa Nyiar Lumar yang sudah digelar selama 14 tahun ini merupakan Nyiar Lumar terakhir.

Selain karena kecewa oleh ketidakhadiran para pejabat, juga karena pemerintah tidak pernah member dana yang memadai untuk kelangsungan Nyiar Lumar ini. “selama Nyiar Lumar berlangsung sejak 1998, belum pernah ada pejabat tinggi yang datang,” ujar pelopor acara tradisional ini, Godi Suwarna.

Yang hadir pada pembukaan Nyiar Lumar ke 7 kemarin, hanya wakil bupatim para kepala desa, dan sejarawan Nina Lubis, saat Nina Lubis memberi sambutan dan menyampaikan salam dari Gubernur Jabar kepada para seniman/budayawan Jabar serta warga Ciamis, dinilai para panitia hanya  basa basi.

Meski demikian, acara Nyiar Lumar tetap  berlangsung  meriah, acara yang dimulai sejak pukul 9 pagi hingga minggu dini hari  ini tak terpengaruh oleh ketidakhadiran para pejabat, seperti Nyiar Lumar sebelumnya, dengan khidmat acara berlangsung sukses.

Setelah dibuka dengan berbagai acara suguhan tarian, kacapi suling, sosio drama dan lain-lain, dilanjutkan dengan “lalampahan”,  yakni berjalan kaki dari halaman Pendopo Kawali ke Situs Astana Gede Kawali menyusuri jalan kampung dan pematang sawah di bawah penerangan obor dan irigan genjring ronyok dari pukul 20.00 sampai pukul 22.00.

Tiba di depan gerbang Situs Astana Gede Kawali, disambut penampilan tari “parancah” oleh Studio Titik Dua arahan Neng Peking, isteri seniman Godi Suwarna, sang  penggagas Nyiar Lumar.  Kemudian dilanjutkan dengan tawasulan di titik Prasasti I.

Di panggung utama di dalam Astana Gede, ada  penampilan pembacaan puisi sunda oleh para penyair Yopi Setia Umbara, Anggi Sri Wilujeng, Soni Farid Maulana, Saepul Badar, dan pementasan teater Laskar Panggung.  Di panggung lainnya, masih di  sekitar situs makam Adipati Singacala hingga Cikawali ada music Tarawangsa.

Di bawah bulan purnama, puncak acara yang dutunggu-tunggu tepat tengah  malam, ialah penampilan Bi Raspi- maestro Rongeng Gunung – seni tradisi Galuh Ciamis yang sekarang di ambang kepunahan. Bersama Bi Raspi, semua pengunjung larut dalam tarian irama kawih Bi Raspi, satu persatu pengunjung turut menari hingga menjelang subuh.

 

Nyiar Lumar-Mencari Jati Diri

Dalam bahasa Sunda, Nyiar berarti mencari, sedangkan  Lumar  adalah jamur cahaya. Jika dua kata ini disatukan menjadi Nyiar Lumar yang berarti perjalanan mencari jamur cahaya (makna kehidupan), sebuah tradisi perjalanan kontemplasi bagi warga Kawali Ciamis. Kontemplasi karuhun sunda dalam mencari jati diri. Lumar adalah jamur yang selalu tumbuh pada saat  bulan purnama dan memancarkan cahaya yang indah.

Event yang bisa dibaca sebagai sebuah festival ini bisa pula dimaknai sebagai “ritus” kolektif yang tak hanya menjadi peristiwa seni, melainkan juga menjadi peristiwa sosial yang melibatkan langsung masyarakat sekitarnya. Bukan hanya interaksi mereka dengan peristiwa seni, melainkan interaksi di antara mereka dalam bentuk berbagai aktivitas ekonomi

Nyiar Lumar digelar semalam suntuk saat bulan purrnama, di sebuah situs bernama Astana Gede, tarian sunda klasik dipertontonkan pada warga Camis dan sekitarnya, dari luar kota bahkan beberapa bule yang sengaja datang. Ada juga pementasan teater,  Pencak silat, Tarawangsa, Genjring Ronyok Kawali,  dan yang tak lalah ritual adalah Pergelaran Ronggeng Gunung  di Sungai Cibulan.

Nyiar Lumar benar benar telah menjadi tradisi masyarakat Kawali, menjadi semacam pesta rakyat- semacam ruwatan jagat di Situraja Sumedang, atau acara Nyangku di Panjalu, Ciamis dan sejumlah kegiatan budaya di Sukabumi, pesisir pantai Cianjur dll.

Astana Gede adalah salah satu saksi sejarah Kawali, alamnya masih tertata apik. Di sinilah terdapat peninggalan sejarah yang tidak ternilai, ada prasasti peninggalan Kerajaan Galuh yang menjadi cikal bakal Kerajaan Padjadjaran, dan yang menjadi pintu pelestariannya tak lain adalah Nyiar Lumar.

Acara Nyiar Lumar ke 7 ini seharusnya digelar bulan Mei lalu, namun karena tidak ada dana, akhirnya diundur menjadi 26 Juni kemarin. “Perhatian pemerintah terhadap  acara Nyiar Lumar memang dirasakan sangat kurang, jangankan member dana, untuk hadir saja belum pernah”, ujar Godi Suwarna.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: