//
you're reading...
BUDAYA

DAGO FETSIVAL 2003

Dago Festival 2003
FESTIVAL KENTUT DI TUMPUKAN SAMPAH

Matdon-Sinar Harapan Desember 2003

Diakui atau tidak, keruntuhan Jenderal tua Soeharto (meminjam istilah Rahmat Jabbaril, seniman/perupa Bandung) tahun 1998 lalu, menjadi awal krisis ekonomi yang tidak terelakkan di bumi pertiwi. Adalah kawasan Dago di kota Bandung, saat itu menjadi saksi bisu bagaimana para mahasiswa Bandung menembus jalan itu, mereka jadikan sebagai ruang orasi, teriak, baca puisi, happening art dan lain-lain.


Usai itu semua, saat krisis ekonomi terjadi, Dago dimanfaatkan sebagai ruang adu nasib para pedagang kecil dan besar, mal-mal mulai berdiri sembarangan, kafe-kafe yang dulu disebut warung pojok tumbuh subur, dan setiap malam minggu tiba. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba segerombolan anak muda mengusung musik di stage-stage pinggir jalan. Lalu…ketika waktu berjalan hingga sekarang, keramaian malam minggu di sepanjang kawasan Dago makin menjadi-jadi, keramaian malam minggu menjadi rutinitas wajib tanpa rekayasa.

 

Ingar-bingar itu pun menjadi sebuah pertemuan para remaja yang ingin sekadar jalan-jalan, pacaran, atau mencari jodoh, jalan Dago menjadi sebuah keindahan lain dari keasrian pohon-pohon yang mulai hilang. Apa boleh buat, lima tahun berjalan begitulah perkembangan Dago, sebuah fenomena spontan yang menarik, penuh romantisme dan jangan lupa, memacetkan jalan.
Kemudian muncul pemanfaatan lain, moment malam minggu Dago diakumulasikan oleh sebuah event organizer untuk membuat ”lain” malam minggu, diusunglah Dago Festival, kali ini akan digelar 27 Desember 2003, dan ini untuk yang ketiga kalinya.


Siapa pun boleh dan tidak ada yang melarang menggunakan ruang publik itu, ekspresi sederhana sampai ekspresi gila sah-sah saja dipanggungkan, musik jazz, rock, pop, dangdut, performance, motoris, jual bunga, jual cinta, mempertontokan bakat diri sendiri dan lain-lain. Persoalannya kemudian, Dago Festival menjadi semacam sebuah perayaan atau pesta di tengah hiruk-pikuknya rutinitas yang sudah ada. Bedanya, hanya penambahan panggung dan pelaku yang berbeda dari biasanya.


Dengan alasan Bandung sebagai salah satu pusat perkembangan seni apa pun, Dago Festival diakui penanggung jawab acara, Wawan Djuanda, merupakan kekayaan yang harus dipelihara. ”Ini kan sebuah pengembalian konteks kota Bandung,” guman Wawan tanpa saya mengerti maksudnya.

 

Festival Kentut

Dalam sebuah dialog, saya katakan pada Kang Wawan, bahwa setiap ada festival, pesta atau perayaan apa pun di kota Bandung, selalu berakhir dengan kekecewaan masyarakat. Kekecewaan itu pertama lantaran setiap festival atau perayaan apa pun, sering diiringi janji bahwa acara ini akan berlangsung setiap satu atau dua tahun sekali, nyatanya tidak demikian. ”Pesta Sastra” yang rencananya satu tahun sekali hanya mimpi, ”Bandung Art Event” hanya janji belaka, ”Festival Teater”, ”Pesta Ini”, ”Pesta Itu”, dan lain-lain, hanyalah sebuah janji yang tidak konsisten, entah apa penyebabnya.

 

Kedua, setiap festival yang ada, jika itu bertahan, selalu monoton dan terjebak pada rutinitas semu. Misalnya, yang hadir dan tampil hanyalah pelakon yang kenal dekat dengan event organizer bersangkutan, serta dianggap kurang mumpuni dan menghibur apalagi menjadi kesadaran kolektif masyarakat.
Adapun Festival Dago, hanyalah sebuah pemanfaatan malam minggu yang sudah ada, sebab saya yakin jika festival itu diselenggarakan di luar malam minggu dan bertempat tidak di Dago, akan lain jadinya, kekurangan pengunjung atau respons masyarakat akan terasa minim.
”Ini sama saja dengan festival kentut di tengah baunya tumpukan sampah,” saya coba lemparkan kritik itu pada Wawan, tapi kritikan itu ditepisnya, alasannya, ia ingin menjadikan kota Bandung sebagai kota festival yang tidak pernah berhenti dari denyut pertunjukan seni. Dago Festival akan menuju ke arah sana, ujarnya.


Kenyataan, dua kali Dago Festival berlangsung, benar-benar menjadi pelengkap penderita malam minggu. Performace art para seniman di salah satu titik Dago menjadi tidak menarik lagi kebanyakan pengunjung. Pertunjukan musik menjadi bagian kecil saja dari brang-breng- brongnya stage-stage yang digelar beberapa station radio tiap malam minggu.

 

Tapi lain apa yang disampaikan tokoh jeprut Bandung, Tisna Sanjaya, seorang pelaku/pengisi acara Dago Festival 2003, ia menyatakan setuju Dago Festival adalah Festival kentut di tumpukan sampah. ”Tapi saya benar-benar ingin kentut serius di sini, sehingga bau kentut saya dan kawan-kawan lebih besar ketimbang bau busuk sampah,” katanya bersemangat.

 

Menurut Tisna, kehadiran dia dan beberapa seniman lainnya seperti Isa Perkasa, Rahmat Jabbaril, Handy Hermansyah, Nandang Gawe, Wawan S Husen, Iman Soleh dan Ganiati UPI Bandung, akan membuat Festival Dago menjadi sebuah ekspresi ruang publik yang berbaur dengan seniman.
Tisna dan kawan-kawan akan melakukan performance art di sepanjang Jalan Dago, sejak siang hingga tengah malam secara bergantian. Ada yang statis ada yang bergerak dinamis.

Misalnya Ganiati akan menampilkan beberapa mahasiswa UPI dengan penampilan norak, Isa Perkasa akan memanggul lukisan bergambar awan, tapi hanya mampu berjalan di tempat, Nandang Gawe mendorong kereta bayi berisi mainan anak-anak terbuat dari plastik, Handy membawa trolley berisi cat, kuas dan segi tiga pengaman, pada setiap jalan yang berlubang ia akan berhenti, Tisna Sanjaya akan bermain layang-layang di tengah jalan, Rahmat Jabbaril akan menulis surat cinta dan membacakannnya di tengah keramaian, sedangkan wawan S Husein, pasti akan banyak mengejutkan orang dengan aksi spontan.


Performance art yang mereka mainkan hanyalah salah satu seni ”serius”, yang akan mengisi Dago Festival 2003, mereka pun telah menyiapkan konsep garapan itu dengan serius. ”Tidak apa-apa, kalau Matdon mengatakan ini festival kentut, tapi kami akan kentut dengan serius,” guman Tina menegaskan kembali.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: