//
you're reading...
BUDAYA

TEATER PICTORIAL 2011

Teater Pictorial

Pohon Mimpi Dan Para Pengungsi

Matdon – Sinar Harapn September 2011

 

Pembalakan liar hutan di tanah air terus dilakukan para cukong, pemerintah seakan tak mampu lagi mengejar keberadaan mereka atau malah turut membiarkan aksi kejahatan ini. Akibatnya, tentu saja alam murka dan balik menyerang manusia dengan bencana, mulai dari kekeringan, banjir dan kekurangan makanan buah buahan.

Itulah pesan sederhana yang disampaikan pada pergelaran teataer berjudul “Pohon Mimpi Dan Para Pengungsi, yang dimaikan Kelompok Teater Pictorial Bandung, Kamis dan Jumat (22-23 September 2011) di GK. Kesenaian Ruentang Saiang Bandung.

Pesan ini sangat sederhana namun penting bagi kesadaran manusia, harus terus diualang-ulang oleh siapapun, tanpa mengenal bosan., ibarat sebuah peringatan “DIlarang  Merorok” atau “Dilrang Buang Sampah Sembarangan ”. Mekipun pengulagan peringatan seperti ini belum tentu menyadarkan manusia dari sifat erakah.

Begitu halnya peringatan soal alam dan lingkungan lewat  pemangggungan peristiwa dalam teater, yang dilakukan dalam pementasan ini. Sang penulis naskah/sutradara Irwan Jamal berupaya kearah sana, mencoba memasukan pesan melalui para aktornya yang sebagian ternyata penyandang tunarungu.

Irwan tentu saja bekerja keras agar para tunarungu yang terlibat dalam pementasannya bisa total berakting mengikuti para pemain normal, atau sebaliknya para pemain yang normal ikut memahami akting para tuna rungu. Hasilnya memang agak kurang sempurna, tapi paling tidak – Irwan Jamal sudah bersusah payah menuju ke arah sana.

Setting panggung dibuat temaram  menyerupai hutan rimba, sangat tepat menggambarkan situasi hutan sampai akhirnya pohon yang tinggal ranting, sempurna. Sayang sekali semuanya tidak diimbangi dengan penyutradaraan yang sempurna Bahasa verbal dan non verbal sepanjang pertunjukan membuat  jenuh, bloking monoton para pemain tidak membuat petunjukan jadi hidup.  Sehingga pesan yan disampaikan agak sulit dicerna, para penonton hanya tertolong oleh  buklet berisi synopsis, catatan sutradara, dan profil pemain.

Irwan nampaknya tengah melakukan eksplorasi dan eksperimen, berupaya menemukan bentuk baru dalam teater, 79 kali terlibat dalam pertunjukan membuat ia gelisah dan terus mencari sesuatu yang layak dinikmati. Kelompok Teater Pictorial yang ia bangun sejak tahun 2004 lalu adalah bukti kegelisahannya selama ini, Kelompok ini kemudian menamakan diri sebagai kelompok teater tanpa batas dan meyakini bahwa seni memiliki fungsi kesadaran sosial, meski itu semua butuh proses yang panjang

Namun demikian, sebagai sebuah upaya penyadaran manusia terhadap alam patut dihormati, karena itulah fungsi teater. Yang perlu dicatat oleh Irwan Jamal ialah, teater bukan sekedar akting dan penataan panggung yang baik, tapi bagaimana sebuah pertunjukan dapat “dibaca” oleh penonton, hingga penonton tidak perlu mengernyitkan kening untuk memahami semua peristiwa  di atas panggung.  

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: