//
you're reading...
BUDAYA

TEATER JEPANG 2008

Kudan Project Dan Bigeikoh

TEATER MODERN JEPANG

Matdon – Sabtu 22 Nopember 2008

 

Bigeikoh adalah seorang pembuat film di Jepang, suatau hari ia mengalami musibah kecelakaan saat tengah mengambil gambar untuk sebuah film di kota pertambangan batubara. Akibatnya Bigeikoh dan Taro Yajima, seorang penulis skenario yang juga teman kecilnya, diasingkan dari masyarkat perfilman dan mulai terjun ke dunia teater.

Di dunia teater ini keduanya selalu memikirkan bagaimana caranya kembali ke dunia perfilman, selama bertahun-tahun Yajima dan Bigeikoh berada dalam suasana teater yang beragam, tapi mereka tetap merindukan dunia film yang penuh warna. Akhirnya mereka pun giat menulis skenario untuk sebuah produksi teater agar dapat kembali ke dunia perfilman yang penuh warna itu. Dan ternyata Bigeikoh dan Yajima, berhasil mengawinkan esensi teater dan film.    

Kisah perjuangan Bigeikoh ini dipentaskan Kudan Project, sebuah kelompok teater asal Jepang, di gadung STSI Jl. Buah Batu Bandung, selama tiga malam berturut-turut (18 – 20 Nopember 2008). Naskah Bigeikoh sendiri diambil dari novell karya Yasutaka Tsutsui, penulis ternama dari Jepang. Bigeikoh merupakan  salah satu karya maseterpiece Tsutsui yang sangat populer, dan diakui sebagai karya novel besar yang unik dengan latarbelakang  masyarakat perfilman yang memperlihatkan momen-momen indah dan mengkritik kemunduran moral dalam kenyataan melalui penggambaran glamour dari realitas ketelanjangan para pemeran.

Di Jepang, novel Bigeikoh diterbitkan sebagai buku mewah pada tahun 1981, novel yang laris manis pada zamannya. Setelah bertahun-tahun lamanya muncul ide untuk memproduksi Bigeikoh versi teater. Amano, seorang penulis naskah tetaer Jepang kemudian menulis skenario dan sekaligus menyutradarainya. Produksi ini telah dipentaskan pertama kali di Jepang tahun 2007 dengan merombak total seluruh konstruksi elemen-elemen perfilman. Produksi ini meraih sukses besar dan diakui serta diapresiasi sangat tinggi di wilayah Tokyo dan Nogoya..

Sedangkan di Indonesia baru dipentaskan di Bandung, meski memakai bahasa Jepang namun sesekali muncul bahasa Indonesia dalam bentuk poster yang dibawa para pemainnnya. Teater mini kata ini menyedot perhatian public teater di Bandung, sehingga tak heran sesekali terdengar gerr tawa penonton.

 

Kudan Project

Kudan Project berpusat di Nagoya Jepang, didirikan tahun 1998 oleh Tengai Amano- seorang penulis skenario yang juga seorang sutradara, bersama Hideji Oguma, seorang aktor dan produser. Kelompok ini beranggotakan para aktor dari berbagai grup ternama dan juga para artis lepasan. Ini mengingatkan peristiwa yang sama di dunia teater di Bandung, para aktor kelompok teater di Bandung biasanya merupakan gabungan alias cabutan dari kelompok teater lainnya, sehingga tak heran jika suatu saat Laskar Panggung mementaskan sebuah naskah, para pemainnya bisa dari Tetaer Bel, STB atau sebaliknya. Dalam dunia sepakbola kita megenal galatama, mungkin tak jauh beda!!.  

Kudan Project mengkombinasikan tehnik tinggi dari berbagai grup dan dengan memanfaatkan genre yang berbeda, proyek ini dapat menyerap berbagai kemungkinan di bidang seni teater, sehingga teater ini merupakan teater modern Jepang, di tengah tradisi teater konvensional lainnya yang bertahan di Jepang. Kudan Project tidak hanya pentas di Jepang tetapi juga di sembilan negara  Asia lainnya termasuk  Beijing, Hong Kong, Taipei, Pusan, Manila dan Kuala Lumpur.  Kelompok ini memiliki teknik keselarasan teater dan kaya akan berbagai gaya serta ekspresi termasuk penggunaan multimedia. Pementasan mereka telah mengejutkan banyak orang namun mereka telah diterima dan mendapat pengakuan tinggi sebagai sebuah teater eksperimen yang baru secara keseluruhan. Kelompok ini dinilai telah memberikan  pengaruh besar di dunia teater Asia. 

Bigeikoh merupakan produksi kesekian Kudan Project yang dipentaskan di Indonesia dan Kuala Lumpur. Karya ini selalu ditampilkan dalam bahasa Jepang, tetepi sebagai ganti dari penayangan subtitles, pertunjukan ini menampilkan ratusan panel dengan terjemahannya di panggung, mirip seperti balon kata dalam komik. Panel ini juga menempati posisi penting dan berfungsi menghidupkan panggung. Pada akhirnya, penonton akan merasakan bahwa mereka tengah menikmati pertunjukan dalam bahasa mereka. Ini adalah salah satu bentuk tehnik unik dari Amano yang selalu berusaha membiarkan segalanya hidup di atas pentas. Metode penggunaan panel dalam pertunjukan di luar negeri mengejutkan namun mendapat sambutan meriah dari penonton dan komunitas teater

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: