//
you're reading...
BUDAYA

WAYANG KERONCONG 2009

 Teater Wayang Keroncong

DUA KEMATIAN TRAGIS

MatdonSinar Harapan Mei 2009

 

Pemanggungan peristiwa dalam Pertunjukan teater, adalah pilihan sutradara setelah melalui perenungan dan diskusi dengan pemain dan crew lainya tentu (jika itu dilakukan), sehingga lahirlah bentuk teater yang inginnya sih dikatakan lain daripada yang lain.

Seperti yang dilakukan sutaradara Behind The Actors, Asep Budiman, pada pertunjukan teater berjudul “Cuk dan Cis”, Minggu malam kemarin (3/5), di Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Jl.Buah Batu Bandung.  Ini merupakan adaptasi dari dua buah Cerpen (Cerita Pendek) karya Vincent Mahieu berjudul  Cuk dan Cis, disatukan dalam sebuah pementasan teater oleh Behind The Actors, dan karena dalam pementasannya diiringi musik keroncong serta teks narasi dalang wayang golek, maka Asep menamakan pertunjuknanya kali ini degan nama Teater Wayang Keroncong

Cuk  merupakan Cerpen karya  Vincent yang berkisah tentang suasana konflik antara Belanda dan Indonesia dengan setting Jawa Timur, sedangkan Cis berkisah konflik sebuah keluarga dengan latar belakang suasana Betawi. Vincent sendiri seorang Indo Belanda yang berprofesi sebagai wartawan serta penulis Cerpen. Sejak lahir hingga dewasa ia tinggal di Jakarta, namun meninggal dunia pada tahun 1974 di Belanda.

Vincent dan Dua kumpulan Cerpennya berjudul Cuk dan Cis ini sangat terkenal pada zamannya, sehingga orang-orang yang mencintainya di Teluk Jakarta, sempat menaburkan abu jenasahnya di pasar ikan diiringi lagu lagu keroncong kesukaannya.

Cuk adalah seorang wanita yang terbiasa hidup keras, pekerjaannya berburu, perang dan pemberontakan, ia jatuh cinta pada Tuan Barres, seorang guru music. Perbedaan sifat keduanya menyebabkan cinta Cuk tak terbalas, Cuk keras sedangkan Barres seorang yang kalem. Sebenarnya Cuk merupakan sifat yang disukai Barres karena Cuk tidak pernah mempersoalkan status sosial, harta maupun jabatan. Namun Cuk selalu merasa tidak pernah membunuh saat berburu, “Memburu sebenarnya sangat bagus untuk para binatang, agar mereka berhati-hati terhadap bahaya yang mengintai,” begitu teriaknya dalam membela diri.

Tapi Cuk malang, ia kemudian mati di pangkuan Man, sahabatanya. Kematian tragis ini menyisakan kenangan tersendiri bagi Man dan Berres. Cuk mati dengan kepenasaran yang dalam terhadap perdamaian dirinya, bathinnya.Ia mati dan mengubur cintanya dalam hembusan napas yang esetetik.

 

Tragis Estetis?

Sedangkan pada kisah Cis berkisah tentang wanita muda yatim yang menikah dengan Stirman orang Belanda. Gadis malang ini sebenarnya sudah hamil sebelum menikah dengan Stirman, lelaki yang menghamilinya adalah Teddy yang ternyata tak pernah bertanggungjawab.  Dalam keadaan hamil, perempuan ini pun ditinggal suaminya ke Belanda. Sebelum menikah dengan Stirman, ia memang selalu menyerahkan hidup dan cintanya untuk kaum lelaki, gairah birahi wanita ini menggelegak dasyat bercampur kebencian terhadap cinta

Dalam situasi yang menegangkan, Jepang datang ke Indonesia menggantikan kedudukan Belanda, Sang perempuan dituding sebagai penjahat yang membahayakan posisi Jepang. Tentara Jepang akhirnya membunuh perempuan hamil ini dan  mati serta  mengubur cintanya dalam hembusan napas yang estetik juga, seperti pada kisah Cuk.

Kedua kisah pada pementasan yang disutradarai Asep Budiman ini terasa sebagai pemanggungan peristiwa yang cukup greget, Sebagian  pemain dengan kostum wayang namun dialog teaterikal menjadi paduan sinergis, apalagi Dalang sebagai penutur alur cerita mampu menuturkkannya dengan bahasa Indoneia, Jawa dan Sunda yang  kental.

Musik keroncong sebagai pengiring dalang menjadi bagian integral dari pertunjukan ini, tempelan Multimedia dengan layar lebar di belakang dalang sangat membantu dramatikal yang dikehendaki sutradara. Sayang, antara teks naratif dalang dan teks dramatik pertunjukan menjadi berdiri sendiri, seolah terpisah dari ruh panggung. Padahal  tanpa teks narastif pun, pertunjukan ini sudah sangat sempurna. Multimedia lagi-lagi hanya pelengkap dari kelemahan hampir semua pertunjukan teater di tanah air

Tepat  atau tidak tepat pemilihan genre Teater Wayang Keroncong ini bukan masalah, karena sekali lagi ini soal pilihan. Jika pertunjukan Cuk dan Cis dikatakan sukses, maka yang menolongnya tak lain adalah music keroncong yang memperhalus dua kematian tragis tokoh, sehingga kematian dua tokoh ini terasa estetis meski tragis, tragis yang estetis.

Selain itu, pemahaman penonton pada setiap pertunjukan di Indoneia selalu dibantu oleh sinopsis yang dibagikan sebelum pertunjukan, pun pada pementasan Cuk dan Cis, selembar sinopsis menjadi pembantu utama pemahaman penonton, sebuah teks di luar bentuk acting dan di luar teks naratif serta  teks dramatik di atas panggung.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: