//
you're reading...
BUDAYA

BEN GOTUN STB 2012

STB Pentaskan “Ben-Gotun”

Dusta Itu Abadi Yang Fana

Matdon – Sinar Harapan Mei 2012

 

Seorang Veteran perang dengan bangga membeberkan kisah perjuangannya melawan Belanda dan Jepang di masa penjajahan, kepada wartawan. Berita pun tersebar.  Setelah itu Sang wartawan bekerja sama dengan seorang seniman berniat memeras Veteran dengan cara menyodorkan sejumlah bukti bahwa ia  bukanlah veteran.

Tentu saj sang Veteran panik, segera ia memanggil dukun agar berita jelek tentang dirinya ditutup, seorang mahaisiswa ikut membantu dukun untuk mengusir wartawan dan seniman, padahal sang dukun dan mahasiswa itu juga ingin menguras harta sanga Veteran.

Niat dukun dan mahsiswa ini kepergok wartawan dan seniman, sehinga terjadilah perkjelahian. Seorang Jenderal datang melarai, menengahi keadaan kisruh ini, sehingga seniman, wartawan, dukun dan mahasiswa itu akhirnya mengaku bahwa mereka bukanlah pofesi yang sebenaranya, alias palsu alias menipu.

 Sang Jenderal maarah dan menghukum meraka. Saat hukuman berlangsung, tiba-tiba datang bebarapa suster yang akan menjemput Sang Jenderal, yang ternyata sang Jenderal itupun bukan Jeneral yang sbenaranya melainkan seoarang pasien rumah sakit jiwa yang kabur dan mencuri seragam seorang jenderal dari seorang penjahit.

                                                ***

Kisah itu ada dalam naskah tetaer “Ben Gotun” karya Saini KM, yang dimainkan Studiklub Teater Bandung (STB) pada Selasa malam (1 Mei 2012) di GK.Rumentang Siang Bandung. Pementasan STB kali ini disutradarai oleh  Kemal Ferdiyansyah, seorang sutradara muda jebolan Laskar Panggung Bandung. Tentu saja dengan bekal pengalaman sebagai actor dan sutradara teater, garapan Kemal terasa beda dengan pementasan sebelumnya paska ditinngalkan almarhum Suyata Anirun.

Naskah yang ditulis Saini KM tahun 1977 ini, ditangan Kemal terasa apik dan segar. Komedi anti heronya terasa kental namun santun sebagaimana kebanyakan naskah Saini. Ben-Gotun adalah naskah Saini yang mencoba merekam kondisi social yang terjadi pada masa orde baru berkuasa (1977). Namun ketika dipentaskan saat ini, kondisi tersebut ternyata masih relevan, dimana pada realitas hidup kerap terjadi tipu menipu, dusta dan  pemerasan.

Bayangkan, tahun 1977 Saini sudah menulis perilaku wartawan yang suka memeras nara sumber, dan bukan tidak mungkin di tahun 2012 ini masih banyak perilaku wartawan seperti ini. Pun pada perilaku seniman pendsuta yang suka mengirim proposal pada pemerintah padahal ia tidak melalkukan aktivitas seni.

Dusta selalu menjadi sebuah peristiwa abadi yan melekat pada diri manusia, meski akhirnya terbongkar juga. Inilah pesan yang hendak disampaikan Ben Gotun.

Sejak menit pertama, Sutradara berhasil membuat plot yang mengalir cukup apik, setting panggung yang sederhana tanpa neko-neko, serta tentu saja “ruh” Laskar Panggung yang masuk pada beberapa adegan, membuat pentas STB kali ini benar-benar penting untuk adiapresiasi.

Naskah Ben-Gotun kembali dipentaskan 3 dan 4 Mei 2012 di kampus Universitas Maranatha Bandung dan kemungkinan dimainkan juga di sejumlah kota di Indoneisa seperti Jakarta, Solo dan Yogyakarta.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: