//
you're reading...
BUDAYA

BEHIND THE ACTORS 2010

                                                                                                              

Behind The Actors’

 Hebat Di Vietnam Tapi Banyak Utang

Matdon – Sinar Harapan Oktober 2010

 

“Kami dipuji oleh sejumlah negara sebagai kelompok teater yang hebat dan kami menjadi juara, tapi saat kembali ke tanah air kami dililit utang 32 juta rupiah. Kami berharap Gubernur atau walikota agar proposal sebelum kami berangkat ke Vietnam bisa dipenuhi untuk membayar utang, karena kami yakin berada di sana membawa kepentingan negara dan bangsa.”

                                                ***

SMS ini saya terima dari Hermana HMT,  asisten sutradara Behind The Actors (BTA) Bandung, yang sukses mementaskan “Wayang Keroncong” di Veitnam dalam Festival Internasional  Marionette ke-2. Dalam festival ini BTA meraih prestasi dua juara pertama, yaitu Juara I Pertunjukan dengan cerita Bisma dan Juara I Aktor/Dalang. Kelompok ini juga meraih dua nominasi, desain pertunjukan wayang dan desain artistik pertunjukan. Sungguh prestasi yang luar biasa.

Kiriman SMS ini membuat saya penasaran, lalu bertemu dengan Asep Budiman sang sutradara pertunjukan didampingi Hermana. Dari mereka saya memperoleh keterangan lengkap, bahwa kelompok ini mendapat undangan untuk mengiktui festival teater  Internasional di Vietnam, namanya  Festival Internasional Marionette, ini festival untuk kedua kalinya digelar,  diikuti 21 kelompok teater dari 15 negara seperti Jepang,Cina, Turki, Israel, Thailan, Laos, Vietnam dan lain-lain, berlangsung 2-7 September 2010.

Undangan ini mereka penuhi, lalu latihan siang malam di kampus STSI Bandung. Tapi persoalan muncul mereka tak punya biaya untuk pergi ke . Kegilaan sempat terlontar bahwa mereka akan pergi kesana dengan jalan kaki, namun waktu yang sudah makin mendekat tidak memungkinkan bagi meraka melakukan kegilaan itu disamping tentu saja mereka sedang melakoni ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Maka dibuatlah proposal dan dikirim ke Gubernur Jawa Barat dan walikota Bandung, sia-sia, hingga hari keberangkatan tak secuil kertas jawaban mereka terima. Akhirnya mereka pinjam uang ke lembaga pendidikan STSI tempat dimana mereka bermarkas sebesar Rp. 70 juta. Berangkatlah 10 orang anggota BTA ke Vietnam dan diterima oleh KBRI disana.

Semangat mereka makin mengebu saat “orang-orang KBRI” menerima mereka dengan baik, mereka diberi fasilitas meninap dan makan dengan catatan harus dibayar dengan pertunjukan pemanasan sebelum “pertarungan” di ajang festival. Deal!!

Waktu yang dinanti tiba juga, giliran Behind The Actors pentas pada tanggal 7 September 2010 di Gedung  Teater Wayang Hanoi,  menampilkan kolaborasi permaina actor teater dan wayang golek diiringi musik keroncong. Pertunjukan itu dilengkapi dengan layar multimedia dan tata pencahayaan yang apik serta menarik. Perjuangan mereka berbuah hasil fantastis, nyaris tak ada penonton yang tidak tepuk tangan.

“Kami membawakan cerita tentang pertarungan yang hebat antar tokoh-tokoh wayang dalam cerita Bisma, ada banyak dialog yang membuat penonton terpingkal-pingkal karrena kami sesekali mengunakan bahawa Vietnam dan Inggris yang bisa difahami oleh mereka.

Betapa bahagia, karena selain menjadi juara, juga Ki Dalang Dede C. Sumirat, yang kemudian dinobatkan sebagai aktor/dalang terbaik. Diakui atau tidak, Behidn The Actors memang telah menyumbang sesuatu untuk keharuman negara.

Potret Buram

Persoalan kembali melanda mereka, setiba di tanah air (mereka berlebaran di Vietnam), hadiah sebesar Rp.40 juta dari festival tidak mampu menutupi utang mereka, jadi saat ini mereka masih punya utang Rp.3 juta. Sisanya, mereka masih mengernyitkan dahi agar melunasi utang itu.

Inilah wajah teater kita, wajah buram potret negri ini.

perkembangnya teater nyaris sama dengan seni pertunjukan lainnya di tanah air, yang terabaikan dan luput dari perhatian pemerintah daerah maupun pusat. Meski seni ini tetap survive, karena  seni merupakan produk sosial budaya yang diperkuat oleh pelakunya – katakanlah seniman, sementara lembaga kebudayaan seharusnya menjadi corong dan bahkan harus menjadi kekuatan kultur, misalnya dengan menganggarkan hal itu di APBD dan banyak lagi upaya ke arah sana.

Ketika pemerintah tidak lagi peduli dengan semua persoalan seni budaya, lalu apa yang bisa diandalkan oleh para seniman?, tentu saja banyak, lupakan dulu kesibukan penguasa mengurus korupsi dan segala macam kesibukan menterengnya anggota dewan, para seniman bisa melirik sponsor perusahaan swasta. Tidak gampang memang, tapi harus diupayakan!.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: