//
you're reading...
BUDAYA

LEAR ASIA 2009

Lear Asia STB

KEJUTAN YANG HAMPA

Matdon – Sinar Harapan  Pebruari 2009

 lear

Pasukan tentara kerajaan bergeragam pakaian Bali berbaris, diiringi mantera tak beraturan seorang penyair, musik gamelan dewata lapat lapat terdengar, lalu..kisah  Lear Asia pun mengalir ;

Dibantu sanag kekasih, seorang putri Raja nekad melengserkan ayahandanya namun setelah ia berkuasa, sang kekasih malah berkhianat. Pasca revolusi itulah sang puteri mengalami stress berat, selalu curiga terhadap gerakan politik dari oposisi maupun rekan kerja dan steakholder kerajaan. Iapun tenggelam dalam  kesepian yang amat mendera hidupnya, karena orang-orang mulai meninggalakannya, sementara seluruh kerajaan dan orang-orahg di sekelilingnya kemudian hancur, termasuk ayahandaya yang jadi gila.

Naskah drama Kisah Lear Asia atau  Kavia Sang Natha ini karya penulis Jepang Rio Kishida, dipentaskan oleh STB (Studiklub Teater Bandung) pada 6-7 Pebruari 2009 di GK. Rumentang Siang Bandung.

Ada yang lain dari pementasan STB kali ini, sutradara IGN Arya Sanjaya mangadaptasinya menjadi sebuah kisah ala Bali, tanpa merubah alur cerita. Namun sayang, “ruh” Bali yang dihadirkan tidak kental, selain tubuh pemain/penarinya tidak selentur orang Bali, juga aura panggung yang minim ke-Bali-annya.  Sebagai penonton saya merasa tidak terbawa terbang ke alam pikiran Bali, tapi serasa berada di pentas Bali yang dipaksakan.

“kata kata adalah sebuah upaya untuk mempertahankan hidup”, teriak sang Putri Sulung dalam bagian dialog pada pementasan ini, seperti sebuah otokritik pada STB yang sudah setengah abad hidup dan menjadi kelompok teater tertua di tanah air. Saya melihat pementasan ini ibarat sebuah upaya untuk mempertahankan hidup STB, pementasan adalah kata pembuktian bahwa STB masih ada.

Secara keseluruhan, Kavia Sang Natha dipentaskan total oleh para aktornya, sebuah pementasan yang sempurna dalam memanggungkan peristiwa hangat situasi saat ini, hanya pada minimnya ruh Bali saja pementasan ini agak mengganggu otak saya, untung terobati dengan dialog-dilaog puitik yang dasyat, dengan dukungan para aktor handalan STB seperti Ria Mifelsa, Dedi Warsana, Deden Bell, Kemal Ferdiansyah, Indrasitas dll.

Yang harus dikaui oleh semua pihak, selama ini STB dikenal masyarakat teater di tanah air sebagai kelompok teater dengan garapan garapan missal, pun pada naskah ini, dengan keberanian STB merubah adaptasi kostum dan situasi pangggung, ini memang sajian yang berbeda dari sebelumnya. Entah apakah STB sedang melakukan keseimbangan yang tidak mapan atau sedang mencari dinamika nan penuh kejutan.  Jika ya, saya berharap kejutan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat melainkan akibat dari intensitas pergumulan dengan proses.

Teater modern menjadi ciri di berbagai kota di Indonesia, begitupun dengan STB, tanpa mengenal lelah terus berpentas dari tahun ke tahun dengan ciri modern tadi, walaupun saya yakin dengan penonton yang itu-itu juga. Tetapi itulah takdir sebuah kelompok teater yang kadung dicintai oleh masyarakatnya, sama seperti halnya teater Koma Nano Riantiarno, memiliki penonton fanatik.

Dalam usianya yang  setengah abad, STB telah melahirkan banyak aktor yang kemudian ”alumninya” membentuk kelompok sendiri, sebut saja Actor’s Unlimited, Creamer Box, Bandoengmooij dan MainTeater Laskar Panggung, Kelompok Payung Hitam (KPH), Teater Re-Publik, dll.

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: