//
you're reading...
BUDAYA

SASTRA SUNDA

SASTRA SUNDA YANG RIUH DAN SUNYI

Matdon – Sinar Harapan 17 Desember 2003

Memahami wilayah sastra sunda merupakan hal yang sulit. Pasalnya, yang paling intimenurut saya, karena sastra sunda selain ”menyembunyikan” diri dari hiruk pikuk kehidupan sastra nasional, juga pustaka sastra sunda juga susah dicari.

Alhasil, dalam setiap acara besar sering ”menyendiri”, jarang mau disentuh lewat ulasan media. Alasan itu entah benar atau tidak, tapi saya yang ”muallaf” mempelajari sastra sunda sejak dua puluh tahun terakhir menjumpai kenyataan itu.

Padahal harus diakui, khasanah sastra sunda memiliki corak perkembangan tersendiri, dibandingkan sastra-sastra daerah lainnya di Indonesia. Ia mendapat dukungan dari generasi mudanya yang berusaha melahirkan karya-karya sastra mengikuti jejak langkah para pendahulunya, serta mendapat dukungan dari orang atau lembaga tertentu yang siap menjadi ”Maecenas”.

Seorang pengamat sastra sunda, Hamid Marta, pernah menulis, misalnya saja Yayasan Kabudayaan ”Rancage” pimpinan Ajip Rosidi. Sejak tahun 1988, setiap tahun menyediakan ”Hadiah Sastra” untuk buku yang terbit tahun sebelumnya. ”Rancage” tampak semakin konsisten memberi stimulasi terhadap karya sastra sunda plus penerbitannya. Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu, hadiah itu diperluas ke wilayah sastra daerah Jawa dan Bali dengan jenis yang diperluas pula. Selain sastrawan, pengabdi sastra, dan penulis ceritra anak-anak pun mendapat perhatian.

Ada juga kemudian Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS). Sejak Kongres Basa Sunda Cipayung tahun 1988, LBSS menghidupkan kembali ”Hadiah Sastra LBSS” yang pernah dilaksanakannya tahun 1960-1961, tetapi terputus. Hadiah Sastra LBSS versi baru diberikan kepada karya sastra lepas yang termuat di majalah/surat kabar berbahasa Sunda, mencakup cerita pendek, sajak, dan esai.

Paguyuban Pasundan, sebuah organisasi kesundaan tertua yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, setiap tahun menyediakan hadiah untuk karya sastra, melalui cara yang berubah-ubah.ulai dari sayembara menulis cerpen, novel hingga guguritan. Sejak tahun 2000, memasukkan karya jurnalistik Sunda untuk ikut dinilai.

Menurut Hamid Marta, secara perseorangan, Drs. H. Uu Rukmana yang juga Ketua Umum LBSS sejak tahun 2000, selama 10 tahun lebih, setiap bulan menyediakan dana khusus untuk hadiah carpon pinilih (cerpen terpilih) yang dimuat di majalah Mangle. Besar hadiahnya, mula-mula Rp200.000, lalu meningkat menjadi Rp500.000. Alhasil, setiap tahun mencapai Rp 6 juta. Belum dana untuk dewan juri. Lumayan besar juga. Hampir sebanding dengan ”Hadiah Sastra Rancage” (Rp 5 juta untuk satu pengarang).

images
Sastra(wan) Sunda

Beberapa seniman/sastrawan sunda yang pernah saya ketahui melalui karyanya dan merajai dunia sastra,sebagian sudah wafat tapi di antaranya masih eksis, antara lain Ajip Rosidi, RusmanSurtiasumarga, Duduh Durahman, Abdullah Mustapa, Karno Kartadibrata. Ada pengarang dari generasi kelahiran akhir tahun 1930-1940-an, seperti Iskandarwassid (1939), almarhum Empu Surawinata (1938), Rukmana H.S. (1938), Dedy Windiagiri (1940), Sukaesih Sastrini (1940), Tety Suharti (1940), almarhum Trisna Mansur (1944 — meninggal 8 April 2003), dan Usep Romli H.M. (1949).

Generasi kelahiran 1950-an, Yous Hamdan, Yoseph Iskandar, Hidayat Susanto, Tatang Sumarsono, Godi Suwarna, Pipiet Senja. Generasi 1960-1970-1980-an, Cecep Burdansyah, Nana Sukmana, Imas Rohilah, Enang Rokajat Asura, Rudi Riadi, Dede Syafrudin, Dian Hendrayana, Rhien Candraresmi, Oom Somara de Uci, Risnawati, Chye Retty Isnendes, Dadan Sutisna, Riza Sada, Toni Lesmana dan lain-lain.

Jadi sebetulnya regenerasi di dunia sastra sunda tidak terputus sama sekali, terdapat kesinambungan yang cukup menggembirakan, permasalahannnya mungkin sekitar keterbatasan media saja, karena untuk menerbitkan karya berupa puisi, carpon, atau drama, butuh kesabaran, banyak penerbit yang berpikir dua kali untuk menerbitkan buku-buku sastra sunda sementara si pengarang harus siap karyanya berada di tumpukan sejarah sastra sunda, yang—mungkin akan terbongkar kembali sepuluh tahun yang akan datang, atau menjadi sampah pustaka?

Masih beruntung, untuk menampung semangat para sastrawan Sunda, Jawa Barat masih memliki ruang sempit pada majalah sunda Mangle yang terbit seminggu sekali dan surat kabar Mingguan Galura yang memuat karya carpon/cerpen, esai, dan puisi secara bergilir dalam setiap penerbitannya.

Penerbitan buku tampaknya belum begitu menonjol, setelah H. Rachmat, M.Sas. Karana yang begitu tekun mengelola penerbitan buku-buku Sunda Rahmat Cijulang, wafat (April 2002), penerbit buku Sunda hanya tinggal Kiblat Buku Utama dengan ”Girimukti Pasaka”-nya. Penerbit Geger Sunten lebih memfokuskan kepada penerbitan buku pelajaran bahasa sastra sunda (muatan lokal).

Jangan gurunggusuh  menerbitkan karya, apalagi bagi mereka yang masih membutuhkan ruang dan waktu dalam mematangkan lebih dulu karyanya, misalnya memanfaatkan media agar mau memuat karya-karya lepas mereka sebelum layak terbit menjadi buku, ditambah, dan yang paling penting jangan  alergi kritik.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: