//
you're reading...
BUDAYA

MURAL KOTA

 

MURAL KOTA BANDUNG

SENI RUPA YANG TERCECER

Matdon – Seputar Indonesia 2007

 

Awal Pebruari 2007 lalu, seni lukis mural di sepanjang Jalan Siliwangi Bandung  diperbaharui, sejumlah mahasiswa seni rupa ITB  secara serentak melakukan kerjasama untuk memperbaiki lukisan pada dinding sepanjang 500 meter dan tinggi 3 meter ini. Untuk mural yang ada disini pemerintah begitu serius menanganinya, bahkan mural yang dikerjakan tahun 2003 ini telah dua kali mengalami perubahan gambar, tetapi masih dalam tema yang relatif sama.

Setelah hampir satu bulan, mural yang sempat masuk MURI inipun nampak indah dipandang, warna biru dan kuning mendominasi gambar abstrak yang ada, sehingga para pengendara dimanjakan dengan pemandangan seni lukis jalanan. Walaupun di jalan-jalan lain di kota Bandung gambar-gambar masih tercecer dimana-mana, sebuah seni lukis pemberontakan yang biasa disebut vandalisme tersebar di dinding-dinding kota, mulai dari tulisan Brigez dan  XTC (sebuah kelompok geng motor yang tengah diincar polisi), Persib Aing, Wasit Goblok, gambar wanita telanjang, nama sebuah SMA, tulisan-tulisan cinta dll,  pemandangan ini sangat menyakitkan mata.

Tetapi lupakan semua itu, karena kini banyak seniman kota Bandung yang peduli terhadap keindahan kota, mereka secara pribadi maupun kelompok membuat mural dimana-mana dengan cara patungan biaya untuk membeli cat dan peralatan lainnya. Dan mural yang digagas atas inisiatif kelompok masyarakat ini cukup bagus, tanpa bantuan pemerintah  warga kota mulai menyadari untuk membersihkan kota dari “kekotoran“ gambar-gambar porno yang ada, tempelan poster iklan yang tak beraturan dan caci maki kata-kata, seperti  terdapat di Jalan Maleer II, mural yang berada pada salah satu dinding bangunan di jalan tersebut dibuat bergaya natural dengan gambar berupa aliran sungai dan air terjun.

Atau tengok mural di jalan persimpangan Jalan Sukajadi, sebuah gardu listrik menjadi indah dengan mural bergaya lukisan dekoratif bunga berwarna merah, kuning, jingga terang yang cerah di tengah taman kota, serta di sejumlah gardu lainnya yang dibuat secara pribadi oleh seniman dengan kocek pribadi pula. Beberapa di antaranya tampil secara kontras sebagai elemen fisik yang estetik di tengah taman, seperti pada gardu mural yang berada di Taman Pramuka yang bergaya dekoratif puzzle. Selain itu, di gedung pencakar langit, gardu di Taman Ciujung, Jalan Supratman, dengan mural bergaya lukisan abstrak kupu-kupu dengan dominansi warna hijau.

Mural adalah seni lukis yang digarap pada dinding, plafon (atap), atau bidang besar lainnya yang bersifat permanen. Mural sebenarnya telah dikenal sejak zaman prasejarah. Salah satu mural yang cukup terkenal adalah lukisan di dinding Goa Lascaux di Perancis selatan. Namun, mural baru dikenal setelah dipopulerkan seniman mural Meksiko (Mexican muralista art movement), seperti Diego Rivera, David Siqueiros, atau Jose Orozco.

Salah satu kelebihan mural adalah bisa menjadi alat yang cukup efektif untuk menggalang partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan politik. Bahkan, tidak jarang mural dibuat untuk memprotes atau mengkritisi suatu kebijakan pemerintah, seperti yang dilakukan para seniman mural di Jakarta beberapa waktu lalu saat mengkritisi Rancangan Undang-Undang Antipornoaksi dan Pornografi, mengekspose persoalan-persoalan sosial, membangkitkan kebencian, atau mengadvokasi masyarakat untuk menentang pemerintah. Mural sering kali berfungsi sebagai media kontrol dan propaganda meskipun beberapa di antaranya dibuat sangat artistik.

images

Dinas Pariwisata kota Bandung pernah berjanji untuk membuat mural di sepanjang jalan layang Paspati Bandung sepanjang 2 km, janji itu disebar di media massa dan akan dilaksanakan pada Januari 2007 lalu, namun pemerintah bohong,  janji itu tak terbukti. Beberapa seniman kemudian melakukan inisiatif sendiri dan menggambar beberapa titik pada dinding Jalan Paspati, namun karena atas biaya sendiri gambar-gambar itu banyak yang tak selesai.

Dua  bulan lalu PT. Kereta Api menggelar Lomba Grafiti dalam rangka ulang tahunnya yang ke-62, diikuti 150 peserta, uniknya lomba ini tidak hanya diikuti seniman dan mahasiswa dengan latar belakang pendidikan seni, tapi masyarakat umum pun terlibat dalam lomba adu kreativitas imajinasi itu, bahkan ada peserta dari luar negeri seperti  dari Spanyol, Australia, Belanda, Yunani, Perancis, dan Timor Leste. Walaupun pada akhirnya sebagian 62 mural yang terpampang di sepanjang tembok di Jl. Stasiun Barat Bandung itu tiap hari harus dibersihkan dari tumpukan sampah, karena malam harinya banyak orang yang membuang sampah sembarangan di sekitar tembok.

Mural memang berfungsi sebagai elemen estetik kota, penyajian mural tampaknya cukup efektif melawan vandalisme, lepas dari tujuan politik dan sosial dalam pembuatannya. Namun mural menjadi  fenomena baru dalam pembentukan elemen estetik kota atau penyajian karya seni di area publik dan upaya untuk melawan serbuan tempelan poster/reklame pada dinding-dinding bangunan dan vandalisme/graffiti yang acak acakan.

Menurut Lianda, Direktur RES Institute; Praktisi Urban Design,  lingkungan fisik yang dirancang dengan baik dapat mengubah perilaku, mural dapat memberikan solusi desain yang rasional untuk mengatasi persoalan nondesain, seperti mengurangi keinginan menempel segala macam poster/reklame gambar/pengumuman yang bukan pada tempatnya, atau mengurangi perilaku merusak yang sudah tak terkendali.

Sama halnya dengan Farhan, seniman Bandung ini pernah  membuat teks dan gambar-gambar mencolok bersama kelompok “Apotik Komik“ di lorong Gramedia Jl. Merdeka  Bandung dengan judul Pseudo bla..bla..bla. Lalu menggambari tiang-tiang listrik dan rambu lalu lintas dengan gambar bunga dengan tema  Return to Kota Kembang.  Hal itu pernah ia lakukan juga di Jakarta dan Yogyakarta. Bagi peraih Saraswati Prize dari Walikota Denpasar (1997) ini, berkarya di ruang publik sangat mengesankan, harus pintar-pintar berstrategi dan bereksperimen, agar tidak bertabrakan dengan konsensus yang berlaku.

Dialog dengan publik sebelum menggambar mural sangat diperlukan,untuk membaca, menandai dan memaknai sebuah ruang dengan segala isi dan fenomena yang terjadi di tempat di mana ia akan berkarya, untuk untuk memudahkan proses berkarya di ruang publik, karena bagaimanapun karya seni di ruang publik akan kehilangan kesakralannya, ia tidak lagi high art, adiluhung seperti di galeri atau museum yang setiap pengunjungnya sudah berbekal asumsi bahwa apa pun yang dilihatnya nanti adalah karya seni yang high-art meski itu seonggok sandal jepit yang di-displayed manis saja. Berbeda jika lukisan itu berada di ruang publik, mungkin pegrafis sekelas Tisna Sanjaya bukanlah siapa-siapa di tengah masyarakat luas, ia hanyalah orang biasa dan hanya memfasilitasi terjadinya pertemuan bersama lewat gambar.

Jadi, mural di kota Bandung boleh jadi merupakan keseimbangan lingkungan, yang membawa dampak cukup besar pada perkembangan kota, dan memperindah kota, ditengah hiruk pikuknya kendaraan yang memacetkan. Walaupun saat ini, mural di kota Bandung belum seluruhnya mampu menjadi penyejuk mata untuk menangkap kesan estetik kota. Benarkah?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: