//
you're reading...
BUDAYA

BABAKAN SILIWANGI 2002


 

Leuweung Lebak Siliwangi Digusur,

 Seniman Bandung Berontak 

 Matdon – Sinar Harapan Senin, 25 November 2002 

 

 

Di Bandung, sejak beberapa pekan terakhir dihebohkan dengan rencana penggusuran kawasan Lebak Siliwangi sebagai bagian dari kawasan Babakan Siliwangi Bandung, yang terletak di Jl. Babakan Siliwangi, sebuah jalan tembusan Jl. Tamansari melewati Jl.Ganesa Bandung.

Kawasan Babakan Siliwangi memang bukan situs resmi yang dapat dikunjungi oleh sembarang orang. Namun, bagi sebagian besar para karuhun Sunda, kawasan ini menyimpan sejarah panjang bagi kelangsungan hidup budaya, ekologi, seni dan senimannya itu sendiri. Penggusuran ini akan dilakukan oleh pengembang PT Esa Gemilang Indah (EGI), yang berniat ”memanjakan” impian ke arah komersial, dengan dalih bahwa di kawasan tersebut akan dibangun kompleks Pusat Budaya Jawa Barat yang bernuansa seni dan budaya serta (ini dia) menghasilkan fulus yang banyak.

Tentu saja niat itu patut ”diwaspadai” sebagai sebuah iming-iming bahwa kawasan ini akan dijadikan kawasan wisata, cottage, penginapan mahasiswa dan pusat seni Sunda, biasanya dilakukan oleh kelompok tertentu untuk meredam amarah warga. Ini pula yang membuat para seniman Bandung sepakat mengadakan pertemuan untuk kemudian membentuk sebuah wadah perlawanan pada EGI. Maka, ditetapkanlah nama ”SOS Lebak Siliwangi” yang diartikan sebagai ”Selamatkan Jiwa Lebak Siliwangi!!”.

Pembentukan wadah ini bukan untuk menentang program serta niat baik pengembang atau pemerintah, tetapi sebagai sebuah kepedulian sosial budaya, serta wujud ketakutan akan berubahnya kawasan Lebak Siliwangi menjadi hutan beton yang angkuh, padahal sebelumnya Lebak Siliwangi dikenal sebagai hutan kota yang asri, segar, dingin dan akrab. Ketakutan ini tentu saja sangat mendasar, sebab bagi kelompok pengusaha dalam hal ini pengembang, janji manis untuk meraih keuntungan sudah merupakan hal yang biasa, bahkan boleh jadi janji manis merupakan Sunah Muakkad yang harus dilakukan pengusaha.

Inilah salah satu yang mendasari ketersinggungan para seniman Bandung.

 ??????????

Mata Air Prabu Siliwangi  

Kawasan Babakan Siliwangi sebenarnya terbentang sejak Kebun Binatang, Sabuga ITB, sampai lahan yang selama ini dipakai Rumah Makan Babakan Siliwangi. Luas kawasan ini kira-kira belasan hektar, lahan yang tersisa dari lahan yang dulu dibeli oleh dana APBN ini adalah lahan yang berbentuk Tapal Kuda yang dibatasi oleh Jl. Tamansari dan Sabuga ITB, seluas 3,8 ha, lahan inilah yang disebut Lebak Siliwangi.

Kawasan Babakan Siliwangi merupakan bagian dari sejarah kota Bandung, sebuah kawasan hijau yang menyimpan banyak kenangan dan kesuksesan banyak orang., selain juga merupakan daerah resapan air, bahkan konon menurut para orangtua, di sana terdapat empat mata air yang disebut mata air Prabu Siliwangi. Sejak berdirinya Sabuga yang konon waktu berdiri diperuntukkan bagi seniman tetapi nyatanya menjadi sebuah gedung angkuh yang sulit disentuh para seniman, serta salah satu sumber mata air dijadikan lahan bisnis air mineral ”ganesa”, maka fungsi resapan air menjadi berkurang.

Adalah para seniman seperti Wawan S Husen, Deden Sambas, Ahda Imran, Tisna Sanjaya, Heru Hikayat, Imam Abda, Bambang Subarnas, dan lain-lain, mencoba menengok kembali fungsi Lebak Siliwangi ini sebagai bahan kajian dalam rangka gerakan pemberontakan seniman Bandung terhadap pengembang EGI. Banyak sudah akhirnya data-data yang memperkuat bahwa kawasan Lebak Siliwangi harus tetap menjadi hutan kota, kepentingan budaya, ekologi dan kemaslahatan warga kota Bandung.

Dari mereka saya mendapatkan kisah kecil yang menarik, sejak tahun 1950-an, kawasan Babakan Siliwangi masih berbentuk hutan geledegan (belantara), air sungai Barani yang mengalir menuju sungai Cikapundung selalu menarik perhatian, pohon-pohon yang rimbun, angin yang semilir, cicit burung dan bulan purnama menjadi bagian integral dari pemandangan yang ada, disanalah para seniman dan warga setempat niis (sekedar cari angin) untuk mendapatkan kesegaran alamiah.

Begitulah bertahun-tahun lamanya, tempat ini menjadi sakral bagi mereka yang ingin mencari jodoh, mendapat ilham, menulis, mengarang, melukis, atau apa saja, ular-ular sanca yang ada di sana tidak pernah mengganggu warga setempat, hingga kini ular-ular tersebut masih tetap hidup di rerimbunan pohon.

Seorang pelukis terkenal, Thoni R. Yoesoef bahkan kemudian memanfaatkan keberadaan Lebak Siliwangi, ia mendirikan Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, berdiri tahun 1982, bersamaan dengan berdirinya Rumah Makan Babakan Siliwangi, diresmikan oleh seniman Anang Sumarna yang waktu itu menjabat sebagai kepala Kanwil Depparpostel Jawa Barat. Thoni R Yoesosef akhirnya melahirkan pelukis ternama seperti Tisna Saleh, Deden Sambas, Suratman, Harkardi, Anang Ruhiat, Fredi Sofyan, Dodo Abdullah, Rosid, dan Edi Turmudi, seorang sastrawan Sunda yang menjadi anggota DPR setelah ”mesantren” di sana.

Lepas dari ada atau tidak ada SOS Babakan Siliwangi, kawasan ini tetaplah hutan kota yang patut dipertahankan keaslian dan keasriannya. Boleh saja Abrianto Effendi Direktur Teknis PT EGI mengatakan bahwa pembangunan kawasan Lebak Siliwangi didesain pusat budaya yang diarahkan menjadi ikon pariwisata yang kuat dengan kelengkapan dari sisi seni-budaya-komersial, misalnya pusat seni dan kegiatan pemuda, amphiteater, rumah makan, kafe, dan didukung oleh tersedianya graha, yaitu fasilitas hunian yang ditujukan bagi masyarakat banyak dengan fasilitas selengkap hotel, dengan tetap memperhatikan lingkungan.

Dalih dan iming-iming itu, tentu saja bukan harga mati yang patut dipercayai begitu saja, karena kalau tiba-tiba kita angkat tangan dan menyatakan setuju, maka ujung-ujungnya tempat ini tetap saja menjadi sebuah pusat keuntungan pengembang dan pengusaha hiburan, dan sebagian besar warga Bandung mengetahui dengan jelas, bahwa akhir-akhir ini mall-mall dan pertokoan yang ada di kota Bandung ditangani oleh pengembang PT Istana Group, yang di dalamnya terdapat PT EGI, PT APP, dan lain-lain.

Proyek yang pernah dan sedang digarap mereka antara lain ITC Kebon Kelapa (simpang Jl. Mohammad Toha – Jl. Pungkur) , Pembangunan Pasar Baru (Jl. Otista), Istana Plaza (Jl. Pasirkaliki-Pajajaran), Bandung Electro Centre (Jl. Purnawarman) dan lain-lain? Semua pembangunan tersebut selalu bermasalah, selain membuat lingkungan tidak ramah juga menambah daftar dosa kemacetan kota Bandung.

Kejadian-kejadian tersebut harus menjadi kewaspadaan bagi warga kota Bandung, saya tidak bisa membayangkan betapa hutan kota Bandung Lebak Siliwangi, menjadi hutan beton yang kokoh dan angkuh, di mana lagi Prabu Siliwangi akan menangis?, di mana lagi air akan tertampung?. 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: