//
you're reading...
BUDAYA

STB:YANG TERSISA

“Yang Tersisa” Dari STB

Matdon – Sinar Harapan April 2010

 detty

Hidup menjadi letih dan capek bahkan sunyi, ketika oang-orang yang dulu berada di sekelling kita kini sudah tak ada lagi, hanya kabar angin yang ditunggu, itupun jika kemungkinan ada.  Kematian adalah sesuatu yang indah ketika impian menjadi tak lagi penting bagi kehidupan manusia. Kesunyian menjadi kematian tersendiri bagi kesepian yang ada.

Seperti itulah yang dialami pasangan suami istri yang sudah tua, dalam lakon teater “Yang Tersisa”, yang dimainkan Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah kelompok teater tertua di negeri ini, Rabu dan kamis (28-29 April  2010), di CCF Bandung.

Kali ini pementasan STSB disutradarai  Ria Ellysa Mifelsa, seorang sutradara wanita. Sepanjang sejarah STB sejak berdiri 52 tahun lalu, baru kali ini disutradarai seorang wanita sepeninggal Suyatna Anirun. Dan Ria berhasil memainkan ruang panggung menjadi hidup, pemanggungan peristiwa yang dibungkus lewat dialog suami istri menjadi sempurna dan nyaris tapa cacat.

Istri (diperankan Sugiyati Suyatna Anirun), dan suami (Gatot WD) larut dalam dialog dialog kecemasan, muai dari pembicaran tentang tetangga, tentang penyakit, tentang roti, air, sampai soal usia dan kematian. Namun sesekali mereka lupa apa yang mereka obrolkan.

Dua aktor senior STB ini bermain sempurna, kematangan memanggungkan peristiwa dalam teater menjadi tidak sukar bagi sutradara “mengatur” mereka, alur cerita yang mengalir selama 90 menit tak terasa berat dan membosankan, meski kemudian suasana dialog terasa “loncat” ketika seorang petugas pos (Kemal Ferdiansyah), berdalog dengan teriakan yang sangat kental teaterikal.

 

“Yang Tersisa” merupakan naskah dama karya  Serge Marcier, seorang penulis naskah teater dan televisi di Prancis, naskah ini ia tulis tahun 1967-1968. STB memilih naskah ini  selain realistis, juga karena naskah ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakar dunia pada umumnya.

Ia berkisah tentang sebuah gema kehidupan, melalui kehadiran rasa kasih sayang, rasa cinta. Pasangan suami-istri tua.  Pasangan ini disergap  sunyi namun meraka harus bertahan dan menanggung derita. Rasa kasih sayang telah mengabadikan kebahagian mengalahkan kesepian itu sendiri. Mereka masih punya sisa hidup dan cinta, hidup dan cinta yang sunyi.

 

STB Masih Ada

 

Studiklub Teater Bandung (STB), merupakan kelompok teater modern tertua di Indonesia. Didirikan pada tanggal 30 Oktober 1958 oleh 7 orang mahasiswa yang pada saat ini telah menjadi tokoh masyarakat dan bahkan sebagian telah almarhum. Sepanjang perjalanannya menempuh arus waktu hingga saat ini, Studiklub Teater Bandung telah banyak mementaskan naskah-naskah penulis Indonesia maupun dunia, antara lain karya Utuy T. Sontani, Misbach J Biran, Kirjomulyo, Saini KM, Ajip Rosidi, Bakdi Sumanto, dll. Sementara pustaka naskah dunia antara lain William Shakespeare, Moliere, Sopochles, Schiller, H von Kliest, Brecht, Goethe, Ionesco, Chekov, Tennese Williams, dll.

Selama berpuluh tahun STB disutradarai Suyatna Anirun hingga ia meningal dunia beberap tahun lalu, setelah itu  sejumlah nama menjadi sutrada STB, diantaranya Wawan Sofwan (kini mendirikan Main Teater), Yusef Muldiyana (aktor/sutradara Laskar Panggung), Yoyo C. Durahman (dosen STSI Bandung), Arya Sanjaya (tercatat paling lama menjadi sutradara STB, sembilan kali pementasan).

Kehadiran Ria menjadi sutradara adalah catatan tersendiri, selain muda, ia merupakan satu satunya sutradara wanita yang menggarap STB,  Ria sendiri merupakan pentolan STB yang dulu menerima “didikan” Suyatna.

Sebagai sebuah kelompok studi, para penggiat teater selalu datang dan pergi, menimba pengalaman dalam wadah yang memberi kesempatan bagi mereka untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang teater. Bagi Studiklub Teater Bandung, berkarya adalah identik dengan menciptakan suatu keindahan yang memperkaya batin

Ah, saya jadi teringat apa yang disampaikan Suyatna almarhum, “Jangan bercermin pada jumlah usia, tapi berkacalah pada karya,”,inilah (mungkin) yang memberi suntikan semangat STB agar tetap ada dan mengada, serta ingin tetap menjaga temali garapan yang selama puluhan tahun telah dijalin.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: