//
you're reading...
BUDAYA

PABRIK TEATER

Pabrik Teater Indonesia,

 Tersesat Dalam Tanda Tanya

Matdon-Sinar Harapan Mei 2010

                          

Pabrik Teater Indonesia (PTI), merupakan kelompok teater baru di Bandung, meskipun digawangi para penggiat  lama seperti Irwan Jamal, Wail Irsad dan Aguste Dharma. Senin dan Selasa kemarin (3-4 Mei 2010) mementaskan naskah “Tanda Tanya” karya/sutradara Irwan Jamal, di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung.

Naskah ini berkisah tentang seorang aktor teater yang tidak datang dalam sebuah pertunjukan yang harus mereka gelar, sehingga empat actor terlibat perbincangan bagaimana menghadapi penonton, kisah ini serupa dengan kisah nyata malam itu,  sejumlah penonton harus kecewa pada Pabrik Teater Indonesia lantaran pementasan molor hingga satu jam.

Ini sangat bertentangan dengan lakon diatas panggung,  empat actor membicarakan bagaimana tanggungjawab mereka terhadap penonton, dimana penonton  menjadi hakim dari pertunjukan mereka. Jika dalam naskah dikisahkan bahwa penonton sudah menunggu lama untuk pementasan lantaran seorang actor tidak datang, tapi molornya waktu  pementasan “Tanda Tanya” hanya karena sebuah lampu mati. “satu lampu mati, jadi kami telat,” ujar Consultan Production, Heliana Sinaga, tanpa mau minta maaf pada penonton di Rumentang Siang.

Dalam naskah ini, empat actor bicara bagaimana teater itu merupakan tempat berlabuhnya sebuah kemerdekaan, eksplorasi tubuh, naskah dan seluruh potensi yang ada dalam actor harus dikeluarkan dengan total.  Nyatanya Pabrik Teater Indonesia dan para actor serta sutradaranya sedang membual dan membohongi diri mereka dengan membiarkan penonton tidak merdeka menunggu waktu berlama lama hanya karena satu lampu  mati.

Dikisahkan dalam naskah “Tanda Tanya” ini, bahwa  ke empat aktor mencoba menghibur diri, mencari bebagai cara agar pementasan berlangsung tanpa cacat. Ini sangat bertentangan dengan realita yang ada, sang sutradara Irwan Jamal, stage manager Reggy Nurgian, peñata lampu Wahyono dan Consultan Production Heliana Sinaga tak mampu mengibur para public teater di Bandung dengan telatnya pementasan.

 index

Pusat Estetika Tanpa Etika

Irwan mengaku, Pabrik Teater merupakan pabrik estetika, sebuah ruang bagi sutradara, actor dan siapapun untuk  bereksperimen, sayang sekali seluruh awak Pabrik Teater malam itu kehilangan estetika untuk menghormati penonton sebagai hakim yang dapat memvonis mereka bahwa pertunjukan “Tanda Tanya”  adalah pertunjukan terjelek sepanjang sejarah pementasan di kota Bandung.

Kerja teater adalah penyajian keterampilan teknik pemanggungan yang indah, panggung teater adalah tempat  “pameran” kualitas penafsiran, serta  mengasah sensitivitas visual,  juga memberikan hiburan agar penonton mencapai puncak, bahkan mampu mengganggu batin. Namun dengan kekecewaan berat penonton terhadap Pabrik Teater, dugaan menyeruak jika kelompok ini tidak akan bertahan lama, jika pun bertahan lama, ia harus mempertanggungjawabkan semua persoalan yang ada, yakni persoalan kenapa mereka telat satu jam untuk memetaskan naskah.?

Yang perlu diingat penggiat  kelompok Pabrik Teater Indonesia adalah pernyataan Lenin, bahwa seniman harus meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton  membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Teater harus seperti itu.

Ingat pula Frank Castorf yang namanya terkenal sebagai penghancur karya drama telah menjadi teladan bagi generasi seniman teater di Jerman,  ia membiarkan teks sandiwara diutak-atik dan disusun kembali sesukanya, tapi dalam realita kehidupan Frank di masyarakat tetaplah ia bersosialisasi, mau menempatkan diri tepat waktu dan minta maaf.

Ah, mungkin Pabrik Teater Indonesia tengah meniru  Martin Kusej, René Pollesch, Michael Thalheimer, Armin Petras atau Christina Paulhofer yang  telah menciptakan bentuk pementasan dengan mengutamakan gaya daripada isi cerita.

Persoalan actor yang dibicarakan dalam naskah “Tanda Tanya” bukanlah tema baru yang harus disebut baru, meski memang persoalan ini belum selesai, jadi sebenarnya yang haraus dilakukan para penggiaat teataer sebelum mendirikan kelompok baru, ialah merubah paradigma dan stigma telat waktu. Teater adalah tempat bermuaranya kesadaran manusia dan kerja kolektif yang saling membantu. Inilah kompleksitas teater di Indoneia pada umumnya, juga kehidupan bangsa.

Tulisan ini pula, sebenarnya agak melenceng dari pembahasan naskah “Tanda Tanya”, namun saya hanya ingin menekankan lagi bahwa baik sutradara maupun actor hidup dengan lingkungan di luar teater, semacam komunalisme. Saya menyadari bahwa  teater  adalah kegelisahan sutaradara dan actor, tapi di luar itu actor dan sutradara harus bersikap professional, ciptakanlah sejarah tepat waktu.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: