//
you're reading...
BUDAYA

LUKISAN WAYANG

 

Wayang Golek Dalam Lukisan

Matdon – Sinar Harapan – 30 Juni 2007

 

Selama satu tahun terakhir, kurator Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat Isa Perkasa, susaha payah mencari pelukis yang biasa dan konsisten menggambar wayang golek. Upaya itu berhasil, empat perupa ditemukan lalu pameran bersama 16 – 23 Juni 2007 di Galeri Teh. Untuk melengkapi pameran Isa lalu menemui keluarga almarhum dalang kahot Ade Kosasih Sunandar Sunarya, dalang pertama yang membuat wayang Denawa dari bahan karet.

“Ini sebuah perkambangan snei rupa yang luar biasa,” katanya seraya mengatakan, almarahum Ade adalah dalang kontroversial, karena wayang ciptaannya itu lepas dari pakem yang ada, bayangkan saja wayang ciptaan Ade bisa makan kerupuk, muntah mie, kepalanya pecah, mata berkedip lidah menjulur. Sesuatu yang tidak lazim dalam wayang golek.

Selain itu, dalang Ade ternyata pandai melukis, meski bukan wayang yang dilukisnya, Maka lengkaplah pameran ini menjadi lima orang, yakni Abun Adira, Ating Sudirman, Eddy Swk, Ujang Oyon dan almarhum Ade Kosasih Sunarya.Sebagai sebuah cerita berlatar cerita Mahabrata dan Ramayana, wayang golek memiliki sejarah panjang, lahir pada tahun 1848 di daerah Cibiru Kabupaten Bandung.

Saat itu Bupati Bandung Wiranatakusumah III tertarik untuk membuat wayang yang terbuat dari kayu, maka iapun meminta Darman seorang pembuat wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru untuk membuat wayang kayu/golek, namun keahlian Darman rupanya hanya mampu membuat wayang berbentuk pipih, sehingga Wiranakusumah yang lebih dikenal dengan nama Dalem Karang Anyar harus menyempurnakannya, meraut wayang golek itu berbentuk tiga dimensi.

Ki Darman mengembangkan bentuk wayang golek tersebut hingga ke beberapa daerah seperti Ciparay, Jelekong, Cimareme, Sukabumi, Bogor, Karawang, Indramayu, Cirebon, Ciamis, Garut dll. Untuk akhirnya Jelekong Kabuaten Bandung menjadi kiblat kedua setelah Cibiru dalam pembutan wayang golek. Dari Jelekong inilah lahir dalang Abah Sunarya yang melahirkan anak-anaknya seperi Ade Kosasih Sunarya, Asep Sunandar Sunarya, Iden Sunandra Sunarya dll, mereka tergabung dalam Giri Harja.

Dalam pameran ini menurut Isa, bukan untuk membahas terlalu dalam soal wayang golek, tapi yang tepenting memanpilkan perupa yang konsisten dan masih mau melestarikan budaya peninggalan nenek moyang, sekalian tentu saja mengutamakan kecenderungan pengolahan unsur rupa dalam bentuk kekinian. Pengembangan bentuk ini terlihat pada karya Abun Adira, yang membuat Gatot Kaca tengah bercengkrama dengan Batman dan Sun Go Kong, atau pada karya Eddy Swk, selain melukis dalam kanvas ia juga membuat bentuk wayang dari daun singkong.

Pada gambar karya Ating berjudul “Wanita dan Arjuna” lebih inovatif lagi [di samping], dalam lukisannya ia menggambar seorang wanita setengah telanjang yang sedang memainkan wayang Arjuna, atau saat seroang ksatria nampak tengah menerima uang suap. “Wayang golek itu kan simbol bayangan hidup manusia, melukis wayang golek artinya melukis manusia dengan dalangnya,” ujar Ating.

Wayang dan dalang hanyalah simbol bayangan yang menjadi bagian penting dari arti sebenarnya tentang kehidupan manusia. Semua karya yang dipamerkan di Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat Jl. Ir. H.Djuanda Bandung ini merupakan proses perenungan perupa dalam menghadapi perkembangan zaman dalam dunia pewayangan , boleh jadi berangkat dari sebuah tafakur aatau mimpi. Abun mengakui jika ketertarikannya melukis tokoh wayang golek lantaran ia melihat keterpurukan negeri ini, sama halnya dengan Eddy Swk, meski tidak bisa mendalang tapi ia menyebut bahwa lukisan dan karyanya merupakan bagian dari mendalang.

Menarik untuk disimak, ketika pameran ini juga menghadirkan dalang muda Opik “Gelo” Sunandar Sunarya dan Dalang tua Uja Sukmajaya yang memainkan wayang catur di akhir acara pameran, dengan judul “Jabang Tutuka”, di usianya yang sudah memasuki 90 tahun, dalang Uja memainkan wayang catur, sebuah pergelaran wayang yang sudah punah.
 

  gatotW

Tentang pelukis

Ade Kosasih Sunandar Sunarya, ternyata pernah belajar melukis pada pelukis ternama Hendra Gunawan, lahir tahun 1948 dan mulai mendalang sejak usia 10 tahun, tahun 1970 mampu menciptakan wayang sendiri dan menjadi fenomenal ketika meciptakan wayang yang bisa muntah, makan dll. Ia wafat sembilan bulan lalu. Abun Adira adalah pemilik sebuah Galeri di Bandung, belajar melukis pada Barli (alm), pernah masuk 50 besar kompetisi seni lukis Jawa Barat.

Abun tertarik melukis wayang ketika ia mulai membaca komik karya RA. Kosasih dan sering nonton wayang golek sejak kecil, usianya tidak muda lagi, namun ia enggan menyebut berapa usianya itu. Sedangkan Ating adalah jebolan kelompok Gerbong, pameran di sejumlah kota di Indonesia, dan ia lebih menekuni gambar wayang serta membuat wayang golek, kemampuan membuat wayang itu menjadi inspirasi dalam karya di atas kanvas.Begitupun dengan Ujang Oyon, pria kelahiran 1972 ini, pandai membuat wayang golek dan menjualnya sesuai pesanan, pemesannya kebanyakan dalang muda di Jawa Barat. Sementara Eddy SWK yang sudah berpameran sejak tahun 1984, tertarik dengan wayang golek sejak anak-anak, ia sering memainkan wayang yang ia buat dari daun singkong dan kertas, kemudian mendalang dengan cerita yang ia ciptakan sendiri.

Jika pameran ini kemudian berkeinginan melestarikan wayang golek, itu menjadi bagian yang mulia, karena bagiamanapun sebuah budaya akan memiliki nilai keabadian.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: