//
you're reading...
BUDAYA

ANTIGONE

Antigone dan Refleksi Heroisme

Matdon – Sinar Harapan September 2002

 

Selain merupakan sebuah realitas, kehidupan manusia juga merupakan realitas yang secara langsung dapat didekati, lantaran kehidupan manusia merupakan kehidupan yang layak, usaha terbaik untuk itu adalah berusaha memahaminya. Pada kebudayaan Yunani misalnya, nilai-nilai kemanusiaan lebih penting ketimbang di berbagai kebudayaan kuno lainnya di dunia, bahkan di kebudayaan Yunani, kesatuan hidup dapat dipahami dalam istilah-istilah agamis.

Itu pulakah yang hendak dicapai kelompok teater Actors Unlimited (AUL), Bandung, dengan mementaskan naskah teater purba Yunani, ”Antigone” karya Sophocles, di Bentara Budaya Jakarta 30 Agustus 2002? Jika ya, maka rupanya kehidupan modern ini harus dikembalikan pada asali kebudayaan kuno yang ternyata menyimpan kekayaan moral yang cukup tinggi dan mampu direalisaikan serta dipahami untuk zaman kiwari. Tentu pengembalian kehidupan dalam arti mengembalikan nilai-nilai semangat menentang segala bentuk kesewenang-wenangan, mengembalikan segala upaya dan usaha pada sebuah kekuatan supernatural yang disebut tuhan, god, sang hyang atau apa pun.

Antigone adalah sebuah lakon yang mengedepankan tafsir modern salah seorang dramawan Prancis yang paling populer sejak perang dunia kedua, Jean Anouilh (1910-1987), terhadap makna eksistensial yang terkandung dalam tragedi Antigone. Naskah ini termaktub dalam trilogi Yunani klasik karya Sophocles; Oedipus Sang Raja, Oediphus di Kolonus dan Antiogne. Jean menulis naskah ini pada tahun 1944 yang semula dimaksudkan sebagai ungkapan resistensi dan sikap menolak tunduk pada kesewenang-wenangan NAZI, tokoh Antigone merupakan wakil dari sebuah kekuatan semangat yang menentang dan menyerukan perlawanan terhadap tirani raja Creon.

Naskah Antigone merupakan salah satu dari puluhan naskah Yunani yang masih ada, di mana naskah-naskah itu ditulis tiga orang penulis, masing-masing Aeskilos (525-456SM), Sophocles (496-406 SM), Euripides (484-406 SM). Khusus Sophocles, setiap naskahnya selalu melukiskan manusia seperti seharusnya, bukan apa adanya. Dalam drama-drama Sophocles tidak mempersoalkan kejahatan dan hukumnya yang abstrak. Namun ia lebih mengutamakan perjuangan tokoh kuat dalam melawan nasibnya. Pola drama Sophocles selalu memunculkan tokoh pribadi kuat. Jalan yang ditempuh tokohnya selalu berat dan sulit serta menderita, tapi sikap ini justru membuat sang tokoh makin mulia dan berperikemanusiaan.

Sepanjang hidup, Sophocles menulis ratusan naskah namun hanya tujuh naskah saja yang tersisa, yakni Wanita-Wanita Trachia, Ajak, Antigone, Oeidiphus Sang Raja, Oeidiphus di Kolonus, Electra, dan Philocteles.

Tokoh Antigone merupakan tokoh wanita heroik yang berani berkata tidak pada saat banyak orang berkata iya, mati merupakan sebuah pilihan yang terbaik, karena di mata Antigone, perempuan kecil, kurus dan kurang cantik ini kematian merupakan tiket mahal untuk pengganti senjata melawan tirani. Antigone rela dirinya dihukum gantung demi keselamatan rakyatnya.

Pengambaran tokoh yang demikian, meski ditulis Sophocles ratusan tahun lalu, masih relevan untuk sindiran kehidupan nyata hari ini, di mana saja, di negeri mana pun. Sebab pemikiran teater sebagai sebuah pemanggungan peristiwa, juga merupakan kesadaran kolektif sosial manusia, sebuah pertunjukan teater – mungkin – bisa jadi sebuah kegiatan yang menegursapa kesadaran manusia.

Pementasan Antigone misalnya, boleh jadi merupakan ironi bagi kenyataan hidup masa kini. Sebuah kekuasaan yang mengatasnamakan demokrasi, atas nama stabilitas nasional, atas nama kepentingan rakyat, yang ternyata hanya bertujuan untuk menumpuk harta kekayaan serta kepentingan kelompok, akhirnya akan luluh juga, meskipun membutuhkan waktu yang panjang. Semangat juang Antigone dan normalnya diri sebagai wanita yang jatuh cinta terhadap lawan jenis. Sayang ternyata pria idamannya, Hermon, berselingkuh dengan Ismene, saudara sepupunya. Toh, kenyataan ini tak membuat ia putus asa berjuang mempertahankan kekuatan cinta terhadap perdamaian.

antigone

Dalam pementasan Antigone, semua terjawab bahwa cinta mampu mengalahkan pemerintahan yang korup, kekuatan cinta tak mampu dibendung dengan senjata atau hukuman mati sekalipun, lalu apakah Antigone pun mampu mengubah segalanya?.

Bagi Actors Unlimited, Antigone merupakan produksi ke sekian yang digarapnya, kali ini AUL menampilkan beberapa aktor teater dengan bakat akting yang kuat, Asep Budiman, Ria Ellysa Mifelsa, Lena Guslina, Dwiana P Andan, Roni Boand, Kohar, Alit Wirachma, Udin G Anda, Indrasitas, Hermana HMT dan aktor gaek Mohammad Sunjaya alias Kang Yoyon, bertindak selaku sutradara, Fathul A Husein. Setelah pementasan di Bentara Jakarta, Antigone akan dimainkan di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung 26, 27, 28 September mendatang.

Setelah Anda menyaksikan pementasan ini, tentu berbagai kritik harus dilemparkan, serta berbagai penafsiran akan lahir, jadi Anda bebas mengartikulasikan bahasa teater dalam Antigone dengan cara masing-masing. Atau bisa saja Anda memberi perumpamaan tokoh-tokoh yang ada dalam pementasan ini, dengan tokoh-tokoh politik Indonesia, misalnya Raja Creon adalah mantan presiden Soeharto, Thebes adalah Orde Lama, Hemon adalah Tommy, sedangkan Antigone adalah Anda sendiri. Nah…! ***

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: