//
you're reading...
Tak Berkategori

TUK TAK

MENGUTUK TUK, MENGGERTAK TAK

 Matdon – Sinar Harapan 27 Juli 2007

 

Jumat malam 20 Juli 2007, selepas acara pembukaan “Ode Kampung#2″  Temu Komunitas sastra se-Nusantara, di Komunitas Rumah Dunia Desa Ciloang Serang Banten, penyair Wan Anwar (Serang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Toto St Radik (Serang), Wowok Hesty Prabowo (Presiden Panyair Buruh/Tangerang), dan Gola Gong (pemilik Rumah Dunia) terlibat perbincangan serius, masih soal keberadaan Teater Utan Kayu (TUK), yang dinilai arogan dan mencemari kehidupan sastra Indonesia, “Ada kekuatan asing yang menebakan virus lewat K untuk mencemari kebudayan Indonesia lewat seni khususnya kessusatraan,” seloroh Wowok.  

Saut bersungut-sungut memaparkan bagaimana TUK dengan jumawa melalui Hudan Hidayat terang terangan menyebut dirinya sebagai satu satunya sastrawan di Indonesia, “Ini arogansi sastra, masa Hudan menyebut mereka yang tidak diundang oleh TUK bukan sastrawan,”. Ujar Saut.

Alhasil kritikan terhadap TUK berseliweran pada perhelatan Ode Kapung #2 ini, pun ketika esok harinya sabtu 21 Juli 2007, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan pembicara Saut Situmorang, Asma Nadia, Kurnia Efendi, dan Hudan Hidayat (sebagai seniman yang disebut sebut saut orang TUK).
Hudan diserbu kanan kiri depan belakang oleh 250 sastrawan yang datang dari pelosok tanah air.

“Sastra yang hanya mementingkan estetika tanpa nasionalisme adalah sastra sampah,” teriak Wowok seraya menuding muka Hudan dan mengatakan bahwa Gunawan Muhammad dengan TUK-nya tidak peduli terhadap nasionalisme dan kebudayaan, terbukti dia memasang iklan dukungan kenaikan BBM deangan sponsor Freedom Institute, jadi menurut Wowok, GM adalah pelacur budaya!!. Saut menimpali bahwa arogansi yang cuma bersandar pada besarnya jumlah uang dan retorika dusta merajalela dalam dunia kongkow sastra Indonesia, para petualang sastra merajalela menjadi paus-paus sastra baru, tapi mereka tidak mampu membuktikan dimana kedahsyatan sastra mereka.Lain halnya dengan Toto ST Radik yang mengatakan bahwa menjamurnya komunitas sastra sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni pusat kesenian, juga kemandirian sastrawan. Tapi TUK merasa sebaai pusat legitimasi sastra, padahal berkarya TUK dibayar oleh mereka yang memiki dana.

Sampai sejauh ini saya belum mendengar langsung arogansi TUK, namun ketika giliran Hudan berbicara “Tidak ada sastrawan di Indonesia kecuali Hudan dan Mariana’” begitu sesumbar Hudan yang disoraki audience.

Kemudian Hudan menjelaskan bahwa liberalisme dalam sastra sangat perlu, Tuhan telah memberi kebebasan, artinya Tuhan memberi juga kebebasan untuk memeluk liberalisme dalam sastra, jika orang-orang TUK mengumbar kelamin pada karya mereka itu artinya menurut Hudan sastrawan TUK sudah mencapai Anak haq (Saya adalah Tuhan). Disitu barulah saya merasa sadar, Hudan mengaku Tuhan!!

Sebenarnya Hudan Hidayat sudah memulai membuka front dengan mengeritik Taufiq Ismail dan menganggapnya sebagai sastrawan yang sok moralis dengan pidato kebudayaan Taufiq yang pernah dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam rangka memberangus gerakan sastra “syahwat merdeka”. Setelah itu TUK dicap sebagai penyebar aliran neo-liberalisme yang cenderung memperbolehkan pengikutnya berbuat apa saja sebagai perayaan “hak asasi manusia”.

Sedang Taufik Ismail menanggapi Hudan yang cenderung mempraktekkan kebebasan kreatif secara berlebihan, sehingga terkesan mendukung peradaban porno-praksis yang memuja tubuh dan seks.Ini pula yang disampaikan Asma Nadia pada diksusi itu.

Sebelumnya GM pernah menjelaskan, kalau disangka TUK menguasai semuanya tidak betul juga. Misalnya festival sastra internasional tidak hanya yang diselenggerakan TUK tapi juga DKJ dan Rendra. Kedua, pilihan luar negeri itu tidak ditentukan oleh TUK. Dunia internasional dekat dengan TUK tapi mereka memilih sendiri.

Awal bulan Juli sejumlah media massa nasional memuat tulisan yang menghajar peradaban termasuk sastra neo-liberalisme dan porno-praxisme yang kini sedang mendapat angin di Indonesia sejak reformasi ditafsirkan keliru dengan memperbolehkan apa saja sebagai kemerdekaan “hak asasi manusia” dan menafikan “hak asasi masyarakat. Taufik Ismail pernah mengingatkan Hudan Hidayat agar tidak terlalu bangga dengan gaya sastra porno-praxisnya. Bentuk-bentuk sastra yang sudah kita kenal lahir dari lingkungan TUK umumnya memang berciri porno-praxis (mendewakan tubuh dan seks), seperti Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu dll, yang cenderung anti peran agama.

 

TERINGAT Forum Sastra Bandung

“Matdon, ayo kamu mau ngomong apa Bandung belum bicara!!,” teriak Saut, saya terdiam lalu pelan-pelan harus bicara juga.Saya tahu kalau TUK menjadi sebuah kekuatan, mendominasi, dan memiliki hegemoni di jagat sastra Nusantara ini, sehingga bisa memberikan rekomendasi siapa saja yang berhak mengikuti event-event sastra, saya jadi teringat Forum Sastra Bandung (FSB), mungkin FSB dan TUK setali tiga uang, bedanya karya sastra FSB lebih santun, namun dalam setiap event selalu menentukan pilihan siapa sastrawan yang berhak mengikuti event adalah sastrawan yang mereka kenal dekat, FSB tidak berusaha merangkul sastrawan yang lebih muda dan baru memulai.

Pusat FSB tertumpu pada Juniarso Ridwan, pendanaan kehidupan sastra FSB ada padanya, berbeda dengan komunitas yang lahir kemudian seperti Mnemonic, Forum Lingkar Pena, Klub Tulis Commonroom, dll yang mengandalkan dana dari anggotanya, bersyukur saat ini ada karya-karya penyair muda dari ASAS UPI yang mulai muncul di media.

Sebenarnya saya tidak mau pusing dengan TUK atau FSB, toh pusat kegiaan sastra terdapat pada setiap pribadi sastrawan bukan hanya milik kelompok.

Jika TUK berhasil mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai tempat dan daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra”untuk liberalisasi. TUK juga berupaya merebut kursi-kursi strategis di bidang sastra. Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah berhasil dikuasai oleh orang-orang TUK.

Komite Sastra DKJ belum lama ini menggelar pertunjukan sastra erotis, yang sempat membuat Taufiq dan banyak sastrawan lain merasa prihatin. Maka FSB lebih santun membiarkan komunitas komunitas sastra berkembang sendiri-sendiri, namun FSB agak menutup mata dan enggan mengakui orang lain sebagai sastrawan, ditambah FSB dikabarkan lebih dekat dengan pemerintah.

“Penyair-penyair senior di Bandung itu cuma cengengesan kalau ada bencana atau peristiwa budaya,” begitu Kang Tisna Sanjaya berkomentar.

“Mestinya kamu melakukan perlawanan Matdon!!,” ujar Saut mengompori saya, saya katakan pada mereka yang hadir di Ode Kampung#2, bahwa saya tidak akan melakukan perlawanan, karena tidak ada yang salah dalam hal ini, kehidupan sastra di Bandung sudah sedemikian bagus dan kondusif, sastrawan (penyair) muncul dengan sendirinya karena para sastrawan di Bandung sadar bahwa pengakuan diri sebagai sastrawan bukan datang dari komunitas besar, melainkan dari publik, sama halnya dengan kyai atau ulama, ia tidak memerlukan legitimasi dengan pengakuan sendiri, tapi pengakuan pasti datang dari ummat.

Jika Ode Kampung#2 di akhir acara Minggu 22 Juli 2007 akhirnya mengeluarkan pernyataan anti TUK, dalam beberap hal saya setuju!, tapi saya menolak perlawanan fisik, itu TAK boleh dilakukan. Jikapun saya harus melakukan perlawanan, saya akan mengajak para sastrawan muda di Bandung untuk membuat karya sebanyak mungkin, terus bekarya tak peduli karya itu dimuat di koran atau tidak, “berkarya adalah perlawanan yang sesungguhnya,” begitu saya katakan pada mereka, anak-anak muda di Bandung masih bisa membuat karya lewat penerbitan buku jika karya mereka “disembunyikan” oleh redaktur, caranya bisa patungan uang, juga masih ada website yang mau menampung karya sastrawan muda, masih ada tembok-tembok kota yang bersih, masih ada bulettin kampus, masih ada nurani untuk tidak jumawa dan sombong.

Selain itu, sudah saatnya komunitas-komunitas sastra di Bandung bertemu, melakukan musyawarah agar kehidupan sastra lebih bergairah. Berjamaah untuk nenentukan langkah, bisa lebih baik ketimbang hidup sendirian.

tuk

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: