//
you're reading...
BUDAYA

TOPENG CIREBON

                                                                                          MERAWAT DAN MENGHORMATI

WARISAN BUDAYA

 

Matdon –

Seputar Indonesia Tuesday, 14 December 2010

 

 nani

MEMASUKI rumah dan Sanggar Topeng Purwakencana di Desa Astanalanggar Losari,Kabupaten Cirebon serasa memasuki museum mini di hutan raya.

 

Di sana terdapat dua rumah milik maestro tari topeng Losari,Dewi dan Sawitri.Di belakang rumah Sawitri terdapat bangunan kecil yang sejak dulu hingga kini menjadi sanggar dan melahirkan fenomena tersendiri bagi dunia tari topeng. Di sanggar yang (maaf) terlalu sempit untuk disebut sanggar itulah,Selasa (23/11),kami terlibat perbincangan dengan Nur Anani atau biasa dipanggil Nani Sawitri, 30,cucu dari Dewi. Sanggar ini terletak di antara sebuah home industry rokok, lantainya berdebu, sebuah kotak berisi topeng-topeng tampak termangu sepi.


Di sudut kanan terdapat seperangkat gamelan tari topeng Losari yang sebagian sudah tak terawat. Bicara Topeng Cirebon, tidak mungkin melupakan nama Mimi Dewi dan Mimi Sawitri.Dua wanita kakak beradik ini sepertinya dipilih sejarah untuk menjadi salah satu penjaga kemurnian seni tradisi dan budaya (tari topeng) di tanah Cirebon.

 

Nama Nani disebut-sebut sebagai pewaris tunggal untuk tetap menjaga topeng Losari Dewi dan Sawitri. Seperti halnya Topeng Slangit Sudjana Ardja yang juga diwariskan kepada Inu Kertapati, Wangi Indriya,dan Aerly,mewarisi maestro Topeng Indramayu Mimi Rasinah. Boleh jadi banyak sanggar atau kantong budaya di Tanah Air hanya sebagai “kenangan” masa lalu, sebagai memori yang dibiarkan telantar dan hanya menjadi milik masa lalu.


Tapi Nani tak begitu, dia ingin tari topeng menjadi milik masa depan,meski di tengah perjalanan topeng harus berjibaku dengan seni (tari) yang lebih modern dan dinilai “masuk akal”. Mimi Dewi,Mimi Sawitri,Mimi Rasinah,Mimi Sudji,Mama Sudjana Arja adalah nama-nama maestro tari topeng,mereka telah dengan baik melaksanakan tugas sebagai warosatul budaya (khalifah yang bertugas mewarisi budaya), mereka tak lain adalah pahlawan kearifan lokal dalam bangunan tari tradisi menjadi peradaban modern dari budaya global.

Lalu,mampukah mereka anakanak muda seperti Nani ikut menjaga warisan budaya ini? “Berat rasanya,tapi saya harus tetap mempertahankan dan menghidupkan tari topeng,” ujar Nani seraya menunjukkan sejumlah topeng yang dulu dipakai Sawitri untuk menari, juga beberapa keris dan buku naskah kuno peninggalan nenek moyang Sawitri. “Topeng ini pernah dicuri orang.

Namun kembali lagi, naskah- naskah ini sebagian hilang karena dipinjam dan tidak kembali, tiga keris ini masih utuh, barang-barang ini tetap kami rawat,” demikian Nani memaparkan benda-benda sejarah milik Sawitri, sambil terus menerangkan bahwa benda tersebut turun-temurun diwariskan dari Sukanta, Darim, Sumitra, Dewi, Sawitri,hingga Nani.

***

SESUNGGUHNYA merawat benda sejarah tidak sama dengan mengurus benda lainnya, karena dia harus berbenturan dengan berbagai hal seperti kepentingan kelompok atau pribadi, misalnya tiba-tiba banyak orang berniat membeli topeng dengan harga ratusan juta.

Jika tergiur dengan tawaran itu, tentu saja benda-benda itu akan hilang dari ahli warisnya dan sejarah terputus. Karena itu, merawat dan memelihara benda sejarah sama dengan merawat diri sendiri, menjaga bagaimana warisan itu tidak tercerabut dari identitasnya.

Apalagi jika harus turut merawat keseluruhan warisan dalam bentuk sanggar yang sudah ada sejak generasi Buyut Sukanta, diteruskan oleh generasi Buyut Darim, Sumitra, Mimi Sawitri, hingga akhirnya nasib sanggar ada di tangan Nani untuk tetap mengada,jangan sampai musnah seperti musnahnya topeng di Losari Timur bernama Mama Rasbin,sejarahnya terputus akibat tidak ada generasi pewaris.


Nani memang memikul tugas berat bagaimana meluruskan niat ikhlas memelihara warisan budaya yang satu ini, sebuah warisan yang lebih berharga dari emas dan gelimang harta benda.Upaya ini harus dibantu pemerintah, meski jangan terlalu percaya penuh pada pemerintah yang notabene cenderung lebih konsumtif atau hanya sekadar formal mencintai seni budaya demi kekuasaan dan berahi politik. Topeng Cirebon memang unik.

Dia merupakan modifikasi antara seni tari dan drama, kedok dalam Topeng Cirebon adalah identifikasi karakter manusia.Maka ketika kita menonton tari Topeng Cirebon seperti tengah menonton diri––becermin dan memahami sejumlah ajaran baik mitos atau agama.


Kematian setiap tokoh (seniman) tradisi adalah kematian yang mengkhawatirkan generasi selanjutnya ibarat kematian para ulama pimpinan pondok pesantren yang sulit mencari pengganti, sehingga kematian mereka adalah kematian yang riuh pujian sekaligus kesunyian yang mahadahsyat. Dibutuhkan semangat Nabi Ibrahim dan ketulusan Nabi Ismail untuk menghidupkan kembali “roh” mereka ke dalam pergaulan global. Mungkin geraknya masih sama, mungkin topengnya masih yang itu-itu juga, tapi industri dan pasar mengancam keikhlasan penerusnya.

Ketulus-ikhlasan inilah yang sebenarnya mampu merawat masa depan itu. Dari hanya perjalanan menengok “peninggalan” Sawitri, saya terlalu sering mendengar tokoh yang lost generation. Kita telah kehilangan Mang Koko, Kang Nano, Kang Ibing, Mang Udjo, Sawitri, Rasinah, Mimi Sudji, Mama Sudjana Arja, dan sejumlah tokoh lainnya dari genre seni tradisi yang berbeda-beda. Mereka sebenarnya telah memberi kekuatan meminjamkan aura, di samping ahli warisnya juga harus berupaya keras memelihara dan merawat energi semangat mereka.


Kita boleh jadi adalah ahli waris mereka,bukan ahli waris secara genetika,tapi ahli waris budaya itu sendiri,itu pun jika kita tidak mau seni tradisi menderita. (*)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: