//
you're reading...
BUDAYA

PANTONIM

 

MATI KETAWA CARA DABLO’S STREET MIME

dablo2

Matdon – Sinar Harapan 6 Maret 2002

 

Pantomim merupakan salah satu jenis, bentuk atau bagian dari teater, yang namanya populer, namun keberadaannya akhir-akhir ini tidak begitu sering muncul dalam bentuk pementasan. Apalagi setelah generasi Sena Utoyo (almarhum) dan Didi Petet serta generasi Septian Dwi Cahyo tidak lagi produktif berkarya.

Almarhum Sena Utoyo sebenarnya masih mempunyai ”sisa” murid, aktor pantomim yang tidak pernah berhenti berkarya, yang keandalan gerakannya, kreativitasnya serta eksistensinya mulai merayap ke tingkat nasional.
Dialah Dede Dablo, pria muda yang acapkali tampil memukau di pentas-pentas pantomim di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Denpasar, Makassar dan lain-lain. Seperti pada pentas pantomim Kamis pekan lalu (28/02/2002), di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung, dengan titel Wanted, Dede bersama kawan-kawan yang tergabung dalam Dablo’s Street Mime, tampil menghebohkan.

Betapa tidak, di akhir cerita Dede dengan berani telanjang bulat di hadapan penonton, meskipun (maaf) ”burungnya” dibalut dengan plester. Wanted berkisah tentang sebuah klab baru yang selalu dipenuhi pengunjung, karena di klab ini digelar berbagai hiburan atraktif seperti tarian erotik, Break Dance, sampai ke musik kontemporer. Para penonton pertunjukan yang dijadikan seolah-olah sebagai pengunjung klab disuguhi berbagai makanan dan minuman.

Beberapa penonton bahkan digusur para pemain untuk sama-sama berjoget menikmati musik. Ketika suasana kegembiraan tengah berlangsung, tiba-tiba beberapa agen khusus berpakaian ala teroris muncul dan mengacaukan suasana, para agen khusus ini datang ke sana dalam rangka mencari sesorang penjahat kelas kakap. Namun, penjahat yang dicari tak ditemukan, akhirnya klab malam itu bubar dan suasana menjadi sepi.

 

Pertunjukan berlangsung satu jam, selama itu pula penonton tak henti-hentinya menebar tawa melihat adegan demi adegan, gerakan para aktor pantomim yang disutradarai Dede ini. Gerakan-gerakan lucu dan sesekali ditimplali gerutuan yang meluncur dari mulut para pemain, otomatis menambah tawa penonton.

Kegembiraan penonton yang tengah melahap ketawa masing-masing, tiba-tiba harus bercampur jerit histeris penonton wanita, karena dalam suasana hening setelah klab itu ditinggalkan para agen khusus dan pengunjung, muncul Dede dalam sebuah tong besar berisi kopi.

Dengan gerekan terlatih, Dede yang berperan sebagai penjahat yang tak berhasil ditemukan para agen khusus itu, memakai celana dan baju, tapi dalam beberapa jenak, ia kembali menanggalkan baju, dan… telanjang bulat.

 

Main Di Trotoar

Dede Dablo, pria lulusan STSI Bandung ini mengawali kariernya di dunia pantomim ketika ia dengan susah payah mencari aktor Sena Utoyo di Jakarta untuk belajar pantomim. Ternyata, tidak gampang menaklukkan hati almarhum. Namun, karena kuatnya keinginan itu, Dede terus mendatangi rumah Sena dan melamar menjadi pembantu rumah tangganya tanpa dibayar, asal bisa belajar pantomim.

Kegigihan itu membuat hati Sena cair juga. Akhirnya, Dede berlatih di sana, setahun kemudian pulang ke Bandung dan mengembangkan ilmunya yang ia dapat dari Sena. Ternyata dukungan kawan-kawan seniman Bandung membuat Dede makin bersemangat untuk berpantomim, padahal sebelumnya, ia merupakan aktor teater dalam kelompok Satu Merah Panggung pimpinan Ratna Sarumpaet, Payung Hitam pimpinan Rahman Sabur, Laskar Panggung dan lain-lain. Terakhir, tahun 2001 lalu, Dede masih sempat bermain dengan Teater Payung Hitam dalam: Kaspar pada Art Sumsit di Jakarta.

 

Dalam pengembarannya sebagai aktor pantomim, Dede kerap kali bermain di kota-kota di Indonesia, dalam pentas tunggal maupun acara-acara lainnya, namun jika tidak sedang melakukan pementasan, sebagian warga kota Bandung bisa melihat Dede Dablo berpupur putih, berpantomim di trotoar-trotoar, di pertokoan BIP Jl. Merdeka, di Jl. Dago, di terminal, di pasar dan di mana saja. Sesekali bermain di atas mobil terbuka keliling kota. Menurut Dede, hal ini ia lakukan sebagai ajang latihan dan memperkaya khazanah pengalaman spiritual yang akan menjadi bahan karyanya.

Penampilannya malah makin mantap ketika ia bertemu Epik dan Ipin, personel Krakatau Band, berkat bantuan kedua seniman ini, pada tahun 1999 Dede memberanikan diri membuat nama Dablo’s Street Mime.

”Saya ingin menjadi aktor yang baik di dunia teater dan khususnya pantomim, paling tidak saya akan tetap berpantomim di mana saja, sampai saya tidak mampu,” aku juara kedua Festival Pantomim Sena Utoyo tahun 1999 ini.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: