//
you're reading...
BUDAYA

Happy Salma

Monolog “Inggit”

Happy Salma Dan Tubuh Yang Gagal

Oleh : Matdon-Sinar Harapan Desember 2011

 

Ingggit adalah sosok wanita cerdas, sabar dan semangat, ia juga sosok wanita  konvensional modern, sejumlah keputusan kontroversial bagi kultural daerah sunda telah ia lakukan; rela bercerai dengan suaminya bernama Sanusi demi menikah dengan Kusno, seorang student  yang kost di rumahnya, dan 20 tahun kemudian ia berkata tidak saat Kusno hendak menikah lagi.

Kusno adalah pemuda  yang  tumbuh dan berkembang menjadi sosok  luar biasa, bahkan ia mengguncang dunia dengan sebuah pembelaan sekaligus gugatan pada pemerintah Hindia Belanda yang termasyur – yang disebut “Indonesia Menggugat”, kelak Kusno menjadi presiden pertama Indonesia, ialah Soekarno.

Kesuksesaan Soekarno dalam dunia politik dan menjadi presiden tak lepas dari jasa tangan dingin Inggit Garnasih,  tangan lembut Inggit selalu meneduhkan Soekarno saat ia kelelahan sepulang dari pergerakan, Inggitlah yang menjahit satu kancing yang terlepas dari jas Soekarno sebelum Soekarno berpidato di Landraat, sebuah pengadilan Belanda yang telah menuding Soekarno sebagai pemberontak. Ia lah yang menyelundupkan buku-buku ke dalam penjara Banceuy agar suaminya bisa membaca dan menulis, sebagai referensi pembelaan dan gugatan Indonesia Menggugat.

Inggit pulalah yang kerap berbisik lirih pada Soekarno agar tak pernah berhenti berjuang,  Inggitlah yang terus memelihara semangat Bung Karno.

                                                                           ***

Kisah perjalanan cinta Inggit – Soekarno tadi “dipaparkan” Happy Salma di Gedung Dewi Asri  STSI Bandung Kamis (22/12/11) melalui pementasan monolog. Naskah berdurasi hampir dua jam ini dilalap Happy dengan sempurna sebagai sebuah kisah panjang yang menyedihkan, Happy lulus memaparkannya dengan hapalan dan ingatan yang cerdas. Seakan membuka kembali lembaran sejarah yang benar tentang bagaimana perjunagan seorang wanita sederhana yang mampu memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.

Lewat pementasan monolog berjudul “Inggit” ini, penulis naskah Ahda Imran hendak menegaskan kembali bahwa di negeri ini pernah ada wanita hebat yang mendukung perjungan suaminya, tanpa lelah berada terus di sisi suaminya selama 20 tahun, yang dengan rela berani miskin – mengeluarkan seluruh harta kekayaannya untuk membiaya suaminya berjuang demi kemerdekaan. Ya, sejak menikah dengan Soekarno, Inggitlah yang membiayai seluruhnya, Inggit lah yang mernyimpan deposito di bank Jasa nasional Indonesia.

Namun nama Inggit tenggelam dikubur sejarah, Bagi Inggit sendiri tak mengapa,  nama yang kerap disandingkan dengan nama besar Bunag Karno itu, tak mempersoalkan jasa, yang pentiung bagi Inggit ialah bagaimana ia mencintai dan mendukung suami. Inggit pun, dengan segala keberaniannya berkata tidak pada Bung Karno karena tak mau dimadu, kata “tidak” yang ia ucapkan pada Kusno menjadi penanda ia  wanita hebat meski tersakiti. Inggit telah mengantarkan Bung Karno menjadi presiden, tetapi ia pulang ke Bandung dengan sebuan kopor tuanya, meningalkan Jakarta dan Soekarno. Inggit tak sempat menikmati istana megah kepresidenan.

                                                ****

Naskah ini sempurna sebagai sebuah naskah berlatar sejarah, namun bagi pemanggungan peristiwa teater, Happy tak mampu membawakannya sebagai aktor teater. Puncak kenikmatan dari teater adalah akting, tidak ada teater jika tidak ada akting, dan malam itu Happy gagal meminjam tubuh Inggit sebagai Inggit yang hebat.

Sepanjang pertunjukan Happy tak lebih dari sekedar membacakan cerita pendek, bahasa tubuhnya tak bergerak apalagi me “ruh”,  ia tak berhasil membangun emosi penonton, kecuali saat  ia bercerita situasi di Bengkulu ketika ia menemani Soekarno di pembuangan.

Sebuah pertunjukan teater apalagi monolog, seorang aktor tentu saja dituntut untuk mampu membawakan naskah menjadi lebih dramatik, unsur dramatik dalam monolog adalah fardu ain. Dan peran sustradara tentu saja diubutuhkan, namun entah mengapa sutradara monolog Inggit, Wawan Sofwan membiarkan Happy dingin-dingin saja berakting.

          Satu hal yang berhasil pada diri  Happy Salma, ialah kesetian pada proses, ia rela bangun pagi untuk latihan, meninggalkan baju keartisan demi monolog ini.salut!! 

Tapi sekali lagi, unsur dramatik dalam sebuah pementasan monolog sangat penting, ia tak sekedar diam dalam kebesaran nama artis, teater tak butuh artis, ia butuh totalitas jiwa bagi semacam ritual pertunjukan, ia butuh bloking yang tak monoton, ia  butuh ruh bagi penggalian emosi. Jika unsur-unsur tadi hilang maka ia telah gagal sebagai seorang aktor, Happy memang berhasil mengingatkan publik pada perjuaangan hebat sosok Inggit melalui naskah itu, tapi ia gagal menjadi aktor teater monolog. Nah!

                                                ***

 

hepi

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: