//
you're reading...
BUDAYA

FAUST GOETHE

 

 

Pergelaran Drama “Faust”

MENCARI KEBENARAN BERSAMA SETAN

Matdon – Sinar Harapan Senin, 22 Oktober 2001

 picture

FAUST seorang ilmuwan yang terus-menerus mencari hakikat hidup dan kebenaran jati diri. Satu hari, ia bertemu dengan Mephisto, setan yang kemudian menguasai daya nalar dan kehidupan Faust. Keduanya berjanji dalam sebuah kesepakaan, untuk sehidup semati, meski akhirnya persekutuan tersebut melahirkan malapetaka bagi manusia lainnya.

Faust merupakan sastra lakon teragung karya Johann Wolfgang Von Goethe (1749 – 1832), yang pengaruhnya masih tetap bergetar, menyelinap ke seluruh nadi-nadi sastra dan teater di dunia. Sebagimana tokoh Ken Arok atau Sangkuriang, Faust juga memiliki daya pesona yang tiada habisnya. Para sastrawan dari zaman ke zaman menulis dan menafsirkannya kembali sesuai dengan zaman yang melakoninya. Gambaran manusia, sebagai mikrokosmos yang sombong, mungkin sebagai salah satu alasannya.

Dalam cerita-cerita yang bersifat “perkawinan” teknologi otak, kemahiran berpikir dengan dunia di luar “dunianya”, selalu menarik. Di sana terkandung pola purba pengalaman manusia yang paling dasar. Dalam Sangkuriang kita dapat menemukan ketidakmengertian kenapa ia mencintai Dayang Sumbi. Dalam Ken Arok kita mendapatkan kengerian, kenapa ia sejahat itu merebut Ken Dedes dari sang Raja.

Pun pada Faust, alam pikiran kita menemukan sosok seorang manusia yang berani melanggar pikiran-pikiran tradisional, melabrak ketidaklaziman seorang ilmuwan dengan kemampuan daya nalar yang tinggi, tapi belum menemukan jati diri dan kebenaran hakikat hidup. Pada akhirnya, ia memilih setan sebagai sahabat untuk mencapai tujuannya.

Kelompok Main Teater Bandung, dengan sutradara muda Wawan Sofwan, kemudian memanggungkan peristiwa tersebut pada pergelaran teater di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, tanggal 18 dan 19 Oktober yang lalu. Dibantu oleh Yayasan Goethe Indonesia, drama Faust juga akan dibawa keliling Indonesia, yakni akan manggung di Auditorirum RRI Yogyakarta (8 November), Auditorium Universitas Kristen Petra Surabaya (10 November) dan di Goethe Institut Jakarta (13 – 14 November).

Empata jam durasi pergelaran yang hampir empat jam ini, sungguh menjadi sebuah tontonan yang patut direnungkan. Empat jam dalam pergelaran memang belum cukup memahami, mendalami serta memasuki kemauan alam pikiran Goethe.

Meskipun sebenarnya, kita kerap kali menemukan kejanggalan berpikir manusia di sekeliling kita. Katakanlah ada orang yang ingin kaya lalu memuja babi atau ngepet, ngipri, nyegik dan lain-lain.

Atau seringkali terdengar ada orang ingin cepat kaya, enteng jodoh, dagangan laku dan lain-lain, pergi ke dukun dan bersekutu dengan setan. Tapi, persahabatan Faust dengan setan, tidak dalam rangka menumpuk harta atau mempertahankan jabatan. Ia bergandengan dengan Mephisto lantaran benar-benar mencari hakikat kehidupan.

Hal itu ia lakukan karena ternyata proses pencarian melalui ilmu pengetahuan tidak membuat ia lebih pintar.

Dalam perjalanannya, sebagaimana manusia, Faust pun jatuh cinta pada gadis cantik, Gretchen yang juga mencintai Faust. Tapi asmara keduanya menjadi malepataka, ibu dan kakak Gretchen tewas di tangan Faust. Gretchen dipenjara. Faust yang gamang mencoba mengajak lari, tapi Gretchen menolaknya, sehingga Faust memutuskan untuk pergi bersama Mephisto. Faust telah menemukan tuhannya.

 

Karya Besar Goethe

Faust ditulis oleh seorang negarawan, ilmuwan dan filsuf Jerman, Johann Wolfgang Von Goethe (1749 – 1832), dan dianggap sebagai karya terbesar Goethe setelah karya lainnya seperti Stella, Egmont, Torquato Tasso dan lain-lain.

Goethe lahir di Frankfurt Jerman, di tengah keluarga kaya yang sangat memperhatikan pendidikan. Kemampuan menulis-terutama puisi-sudah terlihat sejak kecil oleh guru-guru privatnya. Akhirnya, minatnya pada gaya sastra yang tidak konvensional bangkit dan menggairahkan.
Di Jerman sendiri, pengaruh Faust hingga kini masih terasa. Bahkan, naskahnya sudah berkali-kali difilmkan. Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah pembahasan kesusastraan tentang Faust. Demikian pula dengan perbincangan di luar dunia sastra, panggung-panggung teater dan kegiatan seni. Begitu gandrungnya akan kisah Faust, sebuah perusahaan sepatu memberi merk “Mephisto”, atau terdapat beberapa iklan bermotif Faust.

Faust merupakan pembentukan material ilmiah filosofis, estetis yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan sastra dan teater. Alam pikiran Goethe yang cerdas tertuang dalam nalar Faust. Akibatnya, banyak yang menyebut Faust adalah Goethe, Goethe adalah Faust.

Peristiwa manusiawi, terdapat dalam Faust, dan kita harus merenungkannya tidak sebelah mata, agar dalam kehidupan nyata, mampu menimbang antara salah dan benar; pencarian Faust adalah pencarian hakikat manusia, pencarian kita selama ini, seperti dalam salah satu pembukaan di panggung :

Gunakanlah cahaya langit yang besar maupun yang kecil Kalian boleh memboroskan cahaya bintang bintang Kita tidak kekurangan air, api, dinding karang Mengukur seluruh ruang maha pencipta. Ubahlah ia dengan kecepatan yang diperhitungkan Atau kita renungkan pertanyaan Gretchen “Sekarang katakanlah!, bagaimana hubunganmu dengan agama?”

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: