//
you're reading...
BUDAYA

JANTE ARKIDAM!

 

JANTE ARKIDAM SANG ROBIN HOOD

Matdon – Pikiran Rakyat – minggu 2 Juni 2013

injuk 2

 

Apa jadinya jika puisi serius “Jante Arkidam” karya Ajip Rosidi dijadikan pertunjukan Longser yang sarat dengan humor, Agus Injuk sang sutradara berhasil mengubahnya tanpa keluar dari esensi puisi tersebut.

“Jante Arkidam” adalah puisi naratif yang berkisah tentang  kehebatan tokoh “Robin Hood” bernama Jante Arkidam. Ia merupakan sosok yang licin seperti belut, keamanan setingkat polisi saja tidak berdaya menangkapnya, dan bahkan jadi bulan-bulanan Jante. Puisi ini juga termasuk jenis puisi epik, karena bercerita tentang kesaktian seorang tokoh yang sulit ditaklukan.

Pada pertunjukan kelompok Longser 282 dalam lakon “Jante Arkidam” Minggu (26 Mei 2013) di Kebun seni Tamansari Bandung, imajinasi sutradara menggambarkan bagaimana para upas, menir dan wedana yang haus kekuasaan mengejar Jante.  Saat dikejar itulah Jante berteriak “Heuuuup”, seketika mereka berhenti dan bertanya pada Jante “Kunonm euerun?”, dengan enteng Jante menjawab “Lampu hejo mah kudu eureun” dang gerr penotnon tertawa ngakak.

Dalam naskah aslinya tidak ada adegan dan dialog itu, yanag ada adalah seperti ini:

‘Kejar jahanam yang lari!’

Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

‘Keluar Jante yang sakti!’
Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul
‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

Puisi Jante Arkidam ditulis Ajip dalam dua bahaasa (Indonesia dan Sunda), Jante adalah hantu yang menakutkan bagi orang kaya, kesaktian Jante tergambar dalam larik :

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang

Tawa penonton tak berhenti selesai disitu, ketika Jante diberondong tembakan yang bertubi-tubi, malah keluar dari tubuh Jante berbagai macam benda mulai dari permen, telpon genggam, buku dan lain-lain. Dan sejumlah jenis ketawa lainnya yang menghibur.

Jante sempat ditangkap Mantri polisi saat mabuk, kedua tangannya diborgol dan masuk penjara namun berhasil lolos dan kembali beraksi menjalani kehidupannya sebagai penjahat yang baik hati.

 

Longser dan Sindiran

Longser merupakan teater tradisional asli Bandung, memuat berbagai unsur akting, lawakan, musik, nyayian, tari, dan rupa. Menyaksikan longser setidaknya menyaksian dan atmosfer masyarakat Sunda yang terkenal bahasa lokalnya serta keakrabannya.

Sayang sekali tak banyak kelompok longser setelah peninggalan tokoh Ateng Jafar dengan kelompok Pancawana nya, kecuali Bandungmooi, Pancakaki, Adem Ayem, Antar Pulau dan 282, itupun masih dikelola oleh orang yang sama, artinya orang-orang yang aktif dalam kelompok longser tersebut masih  itu itu saja.

Di Jawa Barat, selain Longser ada juga jenis teater tradisional lainnya seperti Uyeg dari Sukabumi, Ubrug dari Banten, Matres dari Cirebon, Tarling dari Cirebon, dan Topeng Banjet dari Karawang, masing-masing mempunyai karakter dan cirri khas. Longser sendiri mirip dengan Lenong dan ludruk.

Potensi seni tradisional longser bisa berkembang pesat apabila proses pewarisan dan pendidikannya dilakukan sistimatis dan berkesinambungan. Diperlukan tangan-tangan terampil yang mampu memberikan spirit, sehingga para pewaris serta ahli waris seni tradisional terus bersemangat melibatkan diri memelihara dan mengembangkannya ke arah yang lebih maju.

Cerita dalam Longser umumnya spontanitas dan  merupakan pengulangan cerita lain yang pernah dipentaskan, saat ini naskah dipersiapkan dengan  skenario meskipun unsur spontanitas serta komunikasi dengan penonton masih dipertahankan.

Perubahan perubahan ini merupakan kreatifitas dalam mengolah seni tradisi agar sesuai dengan kekinian, yang penting tidak keluar ciri khasnya, yakni bodor dan sarat kritik atau sindiran.  Sindiran dalam longser serasa sebagai suatu skill evaluasi yang memiliki norma-norma dan mudah dinilai secara objektif.

Seperti pada kisah Jante Arkidam, lawakan segar dari awal hingga akhir pertunjukan tak pernah berhenti, tapi juga sesekali menyindir sifat menusia yang serakah dengan harta kekayaan seperti yang dilakukan oleh para mantri polisi, wedana dan kaum menir.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: