//
you're reading...
BUDAYA

MUNDINGLAYA

Teatrikalitas pantun Sunda

“Mundinglaya Dikusumah”

Oleh : Matdon

Sinar Harapan sabtu 18 Mei 2013

 

Inilah kisah Pantun Sunda dalam kisah “Mundinglaya Dikusumah” yang oleh sutradara Asep Budiman diadaptasi dalam pementasan Teatrikalitas Pantun Sunda:

Seorang tokoh bernama Mundinglaya Dikusumah harus mencari pusaka yang diimpikan ibundanya, sementara di tengah pencarian pusaka tokoh Sunten Jaya mengincar Dewi Asri tunangannya. Berbagai cara diupayakan keluarga Dewi Asri agar Sunten Jaya gagal mempersuntingnya, tapi tak berhasil karena semua persyaratan yang diajukan selalu dikabulkan Sunten Jaya.

Isyu bahwa Mundinglaya telah meninggal pun dihebuskan Sunten Jaya, maka dengan berat hati Dewi Asri menerima pinangan. Namun di saat pernikahan Mundinglaya muncul dan membuyarkan impian Sunten Jaya.

***

46180513 teaterBANDUNG-1

Cerita pantun memang sangat kaya imajinasi ketika dituturkan oleh juru pantun yang memberi ruang imajiner. Khas dari sajian cerita yang memiliki kekuatan mistis dalam aura pertunjukan ini sangat menarik diwujudkan dalam bentuk teater.

Asep Budiman terbilang berani mengacak-acak naskah keluar dari pakemnya, dari mulai dialog, kostum, sampai multimedia. Bingkai imaji penonton digiring untuk mengikuti cerita yang dibalut dalam kisah kekinian. Sutradara mencoba mewujudkan imaji secara real dalam kondisi struktur dramatis realitas pentasnya. Sayang keliarannya tak sempurna karena beberapa hal. Misalnya musin yang terlalu manis, cerita terlalu singkat, dan ending yang ragu.

Teater adalah seni yang bisa dicerna secara audio dan visual. Ia memiliki ruang-ruang imajiner yang harus real dalam realitas pentasnya. Pantun memang sajian auditif yang merangasang para apresiator hanya dengan mendengarkan saja. Namun teater adalah bagian yang sangat kompleks untuk merangsang para apresiator untuk berimaji dan mungkin terinspirasi

Ada sisi menarik dari pertunjukkan pantun “Mundinglaya Dikusumah” ditarik menjadi pertunjukan teater. Teks-teks lama disuguhkan kembali dalam teks baru. Pertunjukan pantun itu sangat langka, apalagi untuk menciptakan generasi berikutnya.

Latar belakang Asep Budiman sebagai orang teater telah mengggiringnya “menciptakan” teatrikalitas pantun Sunda “Mundinglaya Dikusumah”. Sebelumnya Asep telah berhasil mementaskan Wayang Keroncong di beberapa Negara, seperti Vietnam, Turki, dan Belanda.

Pada pementasan ini memang ada pola pantun dalam bingkai pertunjukan teater modern. Pola pantun nyatanya bisa diadopsi oleh pertunjukan teater modern. Mungkin karena menyimpan makna geografi yang sangat dekat.

Artinya pola pantun begitu spiritual untuk memulai satu bentuk pertunjukan. Asep tengah mencoba untuk bagaimana sumber pantun asli bisa tearasa muncul kembali dalam pertunjukan teatrikalitas pantun Sunda ini, berusaha memutar balik pikiran-pikiran pantun bisa dipakai dalam pertunjukan. Metode pantun tidak kalahnya dengan metode Aristotelian yang termasyur itu.

Namun apa pun yang ada dalam benak sutradara, ini adalah pertunjukan hebat yang kurang greget, keliaran yang kurang edan, emosi yang kurang kental, meskipun menggambarkan proses kreatif yang tidak pernah berhenti.

Namun saya juga sangat menghormati Asep Budiman yang telah mendobrak paradoks-paradoks yang menjadi rintangan kreativitas.

Seharusnya ia memang tidak puas sampai di situ. Eksplorasinya terbilang berani karena ternyata ia tidak tidak pernah melihat langsung pertunjukan pantun yang sesungguhnya. Asep hanya menonton secara intertekstual dengan berimajinasi, serta membaca beberapa tulisan mengenai pantun dan sajiannya

Klik disini : http://www.shnews.co/detile-19622-%E2%80%9Cmundinglaya-dikusumah%E2%80%9D.html

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: