//
you're reading...
BUDAYA

SANDEK DAN MALIN

Pementasan Interogasi III;

MANUSIA SANDEK DAN MALIN

Oleh : Matdon

Sinar Harapan, bulan Maret 2013

 

 

Korupsi..korupsi

korupsi sampai mati!!

Hati-hati

hati-hati

hati-hati provokasi!!

 

***

Laskar Panggung d stsi 09

Tokoh Sandek dan Malin, masih dipakai pada pementasan teater Laskar Panggung Bandung (LPB) di Kebun Seni Tamansari Bandung Mimggu 10 Maret 2013, dan di Sunan Ambu STSI Bandung, 13 dan 14 Maret 2013 dalam lakon “Interogasi III atawa Selapas Ari-Ari” karya/sutdara Yusef Muldiyana, setelah sebelumnya tokoh tersebut dipakai  oleh Arifin C Noer (alm) dalam lakon “Interagoasi I atawa Dalam Bayangan Tuhan” dan “Interogasi II atawa Ari-Ari”. Sebab lakon Interogai III, didedikasikan Yusef Muldiyana sebagai murid tercinta Arifin C Noer..  

Jika pada Intergoasi I yang ditulis tahun 1990 berkisah tentang Sandek berhadapan dengan alter-ego-nya Direktur Umum alias Malin Kundang. Sandek adalah pekerja, wong cilik yang berteriak dan digilas. Bagi Sandek, semua pikiran manusia harus diam jika hendak mengatasi
absurditas kehidupan. Maka dalam kebisuan itu, bersuaralah Sandek dengan menggunakan suara Tuhan.

Pada lakon Interogasi II bercerita dimana Malin dan Sandek merasa terganggu dan dibunuhlah Sutradara. Harapan para pemain, dengan matinya sutradara, para pemain lebih leluasa berhubungan dengan penonton dan persoalan pokok sandiwara akan bertambah jelas gamblang. Malin kaget karena ternyata Ibu Sandek  adalah ibunya juga. Artinya ia terpaksa harus mengakui skandal yang selama ini ia sembunyikan ibu.

Maka pada interogasi III, Sandek adalah orang Miskin dan Malin Kaya raya. Suatu kali Sandek dan Malin masuk rumah sakit. Malin diberi obat mahal sedangkan Sandek hanya diberi obat generik, padahal  berada di rumah sakit yang sama dan menderita sakit yang sama.

Suatu hari Malin mencalonkan diri jadi gubernur dan Sandek adalah pemilih. Malin mengumbar beribu janji mulai dari akan membangun gedung olahraga di setiap kota dan kabupaten, sedangkan Sandek hanya main sepakbola di halaman rumah. Malin berjanji akan membuka  2 juta lapangan tenaga kerja sedangkan Sandek tetap tak punya pekerjaan. Suatu hari Malin menjadi pejabat dan Sandek tetap rakyat miskin dan sangat miskin. Itulah kehidupan. Realitas yang dipanggungkan dalam teatear ini benar benar menyentuh.

Dan sebagaimana Arifin C Noer, Yusef yang juga dikenal sebagai Neo Arifin  C Noer memadukan unsur musik, gerak, kata dan lagu. Tak heran jika selama ini penampilan LPB beraroma teater Ketjil. Namun kelebihan Yusef menjadikan teater sebagai artikulasi dari kehidupan riil.

 

Pemangungan Peristiwa

Saat ini pemimpin menghadapi persaingan global yang hebat, perubahan yang makin lama makin cepat, dan tekanan serta kompleksitas yang luar biasa. Di saat yang sama dihadapkan pada krisis ekologi yakni membesarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Jurang pemisah antara kaya dan miskin itu adalah harta atau uang, adalah tembok dari kertas yang ada angkanya. Masyarakat miskin yang tidak mampu memberdayakan dirinya akan menjadi obyek permainan orang-orang kaya. Sehingga kehidupan mereka semakin tertindas dan terjajah. Pendek kata, globalisasi semakin mempertajam jurang perbedaan antara orang kaya dan orang miskin serta mengisyaratkan pemisahan kelas jika tidak ditanggulangi secara maksimal.

Begitu banyak orang yang hidupnya miskin dan diperlakukan tidak adil dalam masyarakat. Mereka seperti yang digarmbarkan kitab Inzil sebagi Lazarus yang berbaring di depan pintu orang kaya. Orang kaya simbol dari yang memliki harta tetapi sama sekali tidak bertanggungjawab terhadap yang tidak berharta. Realita sosial macam ini kadang luput dari perhatian kita bahkan cenderung menjadi obyek diskusi, seminar, khotbah dan sejenisnya. Bukan menjadi bagian dari kehidupan batin kita.

Ini semua mudah katakan tetapi sulit sekali kita laksanakan. Berbicara tentang orang miskin itu gampang, tetapi berbicara dengan orang miskin sulit kita lakukan dalam kehidupan sehri-hari. Begitulah gambaran hidup dalam teater, sang aktor memerankan apa yang seharusnya ia perankan, improvisasi akting yang kadang membuat kita tertawa geli dan nyinyir, kadang tersenyum kecut.   

Teater memang dihidupkan oleh aktornya, tanpa actor apalah arti pementasan. Tak salah kiranya Arifin C Noer mengatakan bahwa sutradara boleh mati tapi tidak aktor. Kalau aktor mati, teater akan ikut mati.Kalau teater mati niscaya masyarakat akan kesepian dan segera akan menjadi gila.

Dan kalau masyarakat gila, teater palsu akan merajalela. Dan akibatnya yang paling parah, semua warga masyarakat akan beramai-ramai main teater. Para ilmuwan akan sibuk bermain teater dan lupa akan ilmunya.

Satu hal yang penting untuk direnungkan dalam pementasan “Interogasi III”, bahwa hidup ini sebentar dan kehidupan itu abadi, jabatan, harta dan wanita tak akan dibawa mati, hanya amal perbuatan yang dibawa mati.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: