//
you're reading...
UMUM

ELPIJI DAN GAYA HIDUP

ELPIJI, IBADAH DAN GAYA HIDUP

elpOleh : Matdon

Dimuat di Radar Bandung Jumat 6 Mei 2011

 

Beberapa hari terakhir ini saya senang mendengarkan lagu-lagu Koes Plus. Jadul memang tapi masih enak didengar. Sampai akhirnya saya merenung  pada lagu “Kolam Susu”:

Bukan lautan hanya kolam susu/ Kail dan jala cukup menghidupmu //Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu// Orang bilang tanah kita tanah surga/ Tongkat kayu dan batu jadi tanaman/ Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman//

Lalu saya teringat pada ayat Alquran Surat Al-Jatsiyah ayat 3: “Sungguh, di langit dan di bumi terdapat tanda tanda kekuasan Tuhan bagi orang-orang yang beriman”.

Ayat dalam Al Quran tadi bermakna bahwa Tuhan telah memberikan bekal bagi kekhalifahan manusia dengan kekayaan alam yang ada, baik di daratan, lautan, dan langit. Semua harta kekayaan di muka bumi ini milik Allah, tapi pengelolaannya diserahkan pada manusia. Dunia adalah syurga bagi mereka yang mampu “membacanya”.

Tentu saja membaca memiliki dua makna, maka pertama membaca ayat tertulis berupa teks-teks Quran, makna kedua membaca ayat-ayat tidak tertulis yakni konteks dari ayat tertulis, katakanlah membaca alam, membaca kehidupan sosial, membaca kemiskinan, membaca kemajuan zaman dan seterusnya.

                                                          ***

Setelah Nabi Muhamad menerima wahyu pertama,  Alquran surah Al-Alaq ayat 1-5, diawali kalimat “iqro” yang artinya bacalah! (sebuah perintah). Kalimat ini menjadi awal ditemukannya metoda ilmiah – metode empirik-induktif – dan percobaan yang menjadi kunci pembuka rahasia-rahasia alam semesta yang menjadi perintis modernisasi Eropa dan Amerika.

Dari “membaca” tadi lahirlah para ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina di bidang ilmu kedokteran, Aljabbar penemu hitungan Matematika, hingga pada tahun  800 Masehi ada Ibnu Firnas, seorang penemu Muslim Spanyol, orang yang pertama membangun dan menguji sebuah pesawat terbang pada tahun 800-an. Roger Bacon belajar tentang pesawat terbang dari referensi-referensi ilmuwan Muslim mengenai pesawat terbangnya Ibnu Firnas. Belakangan yang dikenal adalah penemuan oleh Bacon, sekitar 500 tahun kemudian dan Da Vinci sekitar 700 tahun kemudian.

Lalu pada 850 Masehi, ahli kimia Islam menghasilkan kerosin (minyak tanah murni) melalui penyulingan produk minyak dan gas bumi (Encyclopaedia Britannica, Petroleum) lebih dari 1.000 tahun sebelum Abraham Gesner, orang Inggris, mengaku sebagai yang pertama menghasilkan kerosin dari penyaringan aspal.

Dari catatan terakhir diatas, jelas bahwa semua kekayaan alam bisa digali hanya dengan ilmu pengetahun yang melahirkan teknologi dan budaya. Teknologi telah melahirkan budaya, budaya juga telah melahirkan teknologi. Televisi adalah teknologi yang dihasilkan dari budaya ilmu pengetahuan, televisi juga hasil budaya yang disertai teknologi. Lemari pendinngin, mobil, pesawat terbang, apapun adalah realita dari teknologi dan budaya yang dulu dianggap sebagai rahasia alam.

Jadi, Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat membuat kita bersimpuh dan berlutut menyadari kekecilan kita sebagai hamba Allah karena Iptek telah membantu tugas Kekalifahan manusia. Yakinlah Kitab suci bukan semata mata bahasa ilmiah, melainkan bahasa sastra yang sangat tinggi yang di dalamnya terdapat rahasia.

Pun ketika lahir yang namanya gas elpiji, sebuah kekayaan alam yang patut dikelola dengan baik. Sebab jika alam tidak dikelola dengan baik maka alam akan murka.

 

Gaya Hidup

Gas elpiji  adalah anugerah teknologi yang besar dari Tuhan melalui tangan Pertamina, agar masyarakat dapat memaknainya sebagi sebuah keharusan bukan paksaan, sebagai sebuah kewajaran bukan ketakutan. Sayangnya memang watak pemerintah kita lebih suka tergesa gesa dalam berkehendak, sehingga rahasia (kekayaan) alam berupa gas ini malah menjadi malapetaka.

Ini akibat sikap egois pemerintah, egois dalam arti lebih mendahulukan bisnis ketimbang ibadah kolektif, lebih mendahulukan kepentingan pemerintah ketimbang kepentingan rakyat. Padahal jika sejak awal rakyat diberi pemahaan soal gas elpiji tentu tak banyak korban meninggal akibat ledakannya, tentu tidak bakal banyak orang meringis ketakutan, atau bahkan rakyat benci pada pemerintah.

Awal bulan April ini, Pertamina baru menyadari kesalahan itu setelah korban berjatuhan, akhirnya konversi minyak tanah ke gas elpiji direncanakan akan melibatkan ormas dan tokoh keagamaan agar lebih efektif. Keberadaan tokoh agama sangat penting dalam memberikan penyuluhan kepada warga, sebab tokoh agama lebih didengar oleh masyarakat ketimbang pamerintah.

Selain itu harus diakui pula keberadaan tokoh Agama akan berperan dalam penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat menggunakan elpiji yang lebih ramah lingkungan dan mampu menekan anggaran subsidi minyak. Sungguh sebuah kesadaran yang terlambat, tak apalah lebih baik terlambat tapi sadar, daripada terlambat tapi tidak sadar.

Pemerintah juga sudah harus memahami jika memerintah adalah ibadah, karena pemerintah itu sehuah khilafah (kepemimpinan) yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhan terhadap rakyanya. Sedangkan  rakyat adalah khalifah (menjadi wakil) Tuhan dalam mengurus dan memanfaatkan alam.

Ibadah pun terbagi menjadi dua, ibadah egois dan ibadah kolektif. Ibadah egois ialah ibadah yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, misalnya sholat, zakat dan ibadah haji hanya karena untuk keselamatan diri agar bebas dari siksa neraka. Sementara saat ia sholat ada tetangga yang tidak bisa sholat karena tidak punya sarung atau mukena, Sementara saat ia naik haji banyak tetangga kelaparan.

Ini persis ketika pemerintah mengkampanyekan gas elpiji sebagai sebuah keharusan, diawali akibat pemerintah ketakutan terhadap harga minyak dunia, dan pamerintah tidak peduli rakyat faham atau tidak soal gas.

 

Kedua adalah ibadah kolektif yakni ibadah Goer Mahdloh, misalnya bagaimana seseorang mau memperhatikan rakyat miskin, membuang sampah pada tempatnya, menolong orang yang tidak tahu menjadi tahu, mencegah kecelakaan, memberitahu manfaat dan bahaya gas elpiji dan lain-lain. Perilaku jenis ini jarang sekali dilirik sebagai sebuah ibadah, saking terlenanya pada ibadah egois tadi.

Sekali lagi belum terlambat bagi pemerintah untuk menginsyafi kesalahannya ngagugulung sikap egois soal gas elpiji, percayalah penggunakan gas elpiji adalah gaya hidup, menggunakan gas elpiji juga ibadah karena telah memanfaatkan kekayaan alam, jadi, gas elpji adalah gaya hidup, ibadah juga gaya hidup. Gas elpiji dan ibadah sama sama gaya hidup manusia modern. Nah!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: