//
you're reading...
BUDAYA

DO’A UNTUK ARIFIN C NOER

Pementasan “Interogasi Nomor III”  Malam Ini;

DO’A  UNTUK ARIFIN C NOER

Oleh : Matdon

Pikiran Rakyat 10 Maret 2013

 

 

Mati adalah hak manusia. Tak ada tawar menawar. Mati tak ada yang dapat dibawa kecuali amal perbuatan.

Tapi banyak Malin Kundang di negeri ini, menaburkan dosa tak henti-henti. Tak ingat mati.                       

Malin Kundang durhaka pada diri. Sampai mati tak kembali pada orangtuanya.

                                                         ****

arifin

Hari ini tepatnya 10 Maret  adalah hari lahir tokoh perfilman dan teater Arifin Chairin Noer, atau yang lebih dikenal Arifin C Noer. Lahir di Cirebon10 Maret1941 dan wafat 28 Mei1995. Ia  merupakan sutradara teater dan film yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik.

Naskah teater karyanya antara lain Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang, Kapai Kapai, Tengul, Nenek Tercinta. Naskah-naskahnya menarik para teaterawan generasi muda. Bentuk pementasannya akrab dengan publik. Ia memasukkan unsur-unsur wayang golek, lenong, stanbul, boneka (marionet), , dan melodi pesisir

Arifin sempat hijrah ke dunia layar perak sebagai sutradara, misalnya film Suci Sang Primadona, Petualangan-Petualangan, Pemberang Rio Anakku, Melawan Badai, Harmonikaku, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, Matahari-Matahari, Bahkan film Serangan Fajar yang disutradainya meraih film FFI terbaik 1982. Pada tahun 1984 Arifin membuat film controversial yakni Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984), film tersebut pada masa pemerintah Orde Baru wajib ditonton dan diputar di semua stasiun televisi setiap tahun pada tanggal 30 September.

Salah seorang murid kesayangannya di dunia teater adalah Yusef Muldiyana, ia sutradara kawakan  Laskar Panggung Bandung (LPB).  Nama ini nyaris tak bisa dipisahkan dari LPB. Tak berlebihan jika disebut Yusef adalah LPB, dan LPB adalah Yusef. Ia sosok pekerja teater yang gelisah, tak pernah berhenti berkarya. Melalui LPB ia terus melahirkan karya unik dan menarik, gaya penyutradaraannya mengingatkan kita pada almarhum Arifin C. Noer. Darah sang guru kemudian membawa nama Yusef disebut-sebut sebagai “Neo Arifin C. Noer”.

Memang sepeninggal Arifin pada Mei 1995, dunia teater nasional sangat kehilangan tokoh sutradara yang “nakal” dalam pemanggungan peristiwa, jika masih ada Nano Riantiarno tentu gaya keduanya berbeda. Sampai akhirnya lahir LPB pada 20 November 1995 dengan format gaya “Arifinisme”, bukan meniru tetapi memaknai jiwa naskah Arifin. Bahkan, selama lima belas tahun LPB berkiprah dalam dunia teater, selalu memiliki ciri khas yang tidak dimiliki kelompok teater lainnya di Bandung khususnya.

Yusef Muldiyana, salah seorang pendirinya, sekaligus penulis skenario dan sutradara, menggiring LPB menjadi teater dengan tarian, nyanyian, dan gerakan yang khas, selama itu pula Yusef dikenal publik teater nasional sebagai “Neo Arifin C. Noer”. LPB termasuk kelompok paling lama bertahan dan berkarya setelah STB, AUL dan Payung Hitam.

Tampuk penyutradaraan LPB sempat diserahkan kepada Kemal Ferdiansyah dan Ria Mifelsa, meski akhirnya Yuseflah yang kembali menjadi “ahli waris”-nya. Ini menakjubkan sekaligus juga menjadi pemikiran. Menakjubkan karena tenaga kuda Yusef belum mampu diikuti Kemal dan Ria, dan sebagai pemikiran pula karena tampaknya Yusef harus mulai memikirkan, eksistensi sutradara dalam kelompok teater begitu penting. Regenerasi sutradara di tanah air menjadi penting juga, sebab tanpa regenerasi, kelompok teater akan mati bersama kematian sutradaranya. Contoh ke arah situ sudah banyak. Teater Ketjil hilang ditelan sejarah seiring meninggalnya Arifin, Teater Populer tenggelam begitu Teguh Karya wafat, terakhir STB, hingga hari ini kesulitan mencari sutradara sekelas Suyatna Anirun.

 

Interogai Nomor III

Untuk mengenang jasa-jasa almarhum Arifin C Noer, LPB mementaskan naskah karya/sutradara Yusef Muldiyana dengan tama “Interogasi Nomor III”, yang akan dipentaskan malam ini 10 Maret 2013 jam 20.00 WIB di Kebun Seni jl. Tamansari 69 Bandung. Dan akan dipentaskan kembali di Sunan Ambu STSI JL.Buah Batu 212 Bandung pada 13 dan 14 Maret 2013.

Naskah “Interogasi Nomor III” berkisah tentang bagaimana harta kekayaan tak mampu menolong manusia ketika mati, amal perbuatan baiklah yang nantinya akan menemani manusia. Kerabat yang baik hanya mengantarkan sampai kubur, sementara manusia selalu berbuat dosa seperti Malin Kundang.

Sebagai murid kesayangan  Yusef mendediksaikan karya ini khusus untuk Arifin C Noer, “Ya, untuk mengenang  jasa beliau atas dunia teater di Indonesia,” ujar Yusef pendek. Sebagiamana tokoh teater lainnya yang sudah meniggal seperti Suyatna Anirun, Teguh Karya dan Rendra, Arifin C Noer adalah cermin dari sikap berkeseniannya yang amat peduli dan konsisten terhadap pengembangan diri, pekerja keras, pengabdian dan kreativitasnya di dunia teater tak diragukan lagi, energinya  banyak menyimpan kegelisahan terhadap teater. Hidupnya adalah teater.

Yusef dan Laskar Panggung Bandung pun adalah kegelisahan itu sendiri, melalui pementasan ini menunjukkan hasrat perjuangan dengan kesadaran bahwa perjuangan itu panjang, melelahkan, dan memerlukan ketekunan. Seperti petani yang dengan gigih mengolah sawah dan hasilnya bisa berguna bagi siapa saja yang menikmati. Sejak didirikan oleh Laskar Panggung Bandung adalah suatu komunitas teater yang sangat produktif dan telah menggelar kurang lebih 400 pertunjukan teater. Komunitas ini didirikan pada tanggal 20 November 1995. Pendiri Laskar Panggung Bandung antara lain adalah Yusef Muldiyana, Deddy Koral, Anthon Justian, Aendra Medita, Sarwoko dll.

Inilah kado kecil Yusef Muldiyana untuk Arifin C Noer. Semacam do’a  dalam bentuk lain.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: