//
you're reading...
BUDAYA

PANTUN DAN SYAIR

Menelisik Kembali

Jejak Pantun dan Syair

Oleh : Matdon

Pikiran Rakyat Minggu 21 April 2013

 

 

Pantun dan syair adalah jejak sastra lama, fungsi dan peranannya nyaris terlupakan, nyaris menjadi fosil sastra. Terdesak oleh kebutuhan sastra kontemporer, sastra industri dan tetek bengek kemodern-an.

                                                                             ***

Cobalah nonton tayangan televisi, dan kita akan menyaksikan para pelawak berpantun ria,misalnya dengan pantun ini “Hei penonton….ke Jakarta bawa makanan dalam rantang,Lu kata wajahku kayak kentang” atau kalimat ini “Buah papaya buah kesemek, Lu orang kayak tapi wajah lu demek” dan sebagainya.

Itu adalah pantun Karmina, yang mereka ucapkan secara spontan tanpa memakai aturan atau kaidahpantun yang sebenarnya, tentu saja fenomena ini menjadi penanda bahwapantun masih tetap ada dan disukai, lepas dari apakah mereka menyadari atautidak bahwa pantun yang mereka ucapkan itu benar atau tidak, sebab yang merekacita-citakan hanyalah tawa penonton.

Dengan demikian telahmuncul fenomena pantun profan dan berkembang di pergaulan  masyarakat modern. Meski pantun “jenis baru”ini keluar dari pakem pantun, namun keberadaannya lebih komunikatif di kalangananak muda. Bahkan sejalan dengan fungsi pantun pada dasarnya. Pantun profan inikerap pula menjadi media komunikasi rekreatif yang menghibur. Contoh lainmisalnya; “Jaka sembung bawa golok, eh dasar perut kembung, lu semua padagoblok”.

Bagi saya pantun profanseperti itu sah-sah saja. Toh  fungsi kata yang terangkum dalam bahasa danterekspresikan dalam pantun sebagai genre sastra, pada hakikatnya adalah mediakomunikasi masyarakat pada zamannya. Dalam hal ini, puisi lama berjenis pantuntelah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi pergaulan anak anak mudasekarang.

Tentu saja kita harusberterimakasih pada mereka mesikpun bukan penyair/sastrawan tapi mereka mau“bersastra” secara spontan – meskipun sekali lagi apa yang mereka ucapkan bukanlagi pantun sakral.
Dalam hal ini benaryang dikatakan kawan saya Heru Hikayat, bahwa sastrawan/penyair berhutang budibahasa, bahkan para sastrawan/penyair berhutang bahasa pula pada dunia realdiluar dirinya, jika para artis/pelawak bisa menciptakan tek/bahasa yang jaditrend dewasa ini, maka harus diakui sastrawan tidak demikian. Coba simak bahasagaul : secara gitu lho, terus gua harussalto dan bilang wow getto, nggak ada ojeg..becek, dll  hingga lahirnya bahasa alay.  Beberapa Penyair yangsudah menbayar hutang tek/bahasa itu mungkin Chairil Anwar (dengan Aku BinatangJalang-nya) dan Wiji Thyukul (dengan kata “lawan”nya), atau Rendra dengan“Bersatulah Palacur pelacur Ibukota” (sekedar menyebut nama).

Kembali ke Pantun,kelemahan Pantun profan dalam petgaulan dan tayangan televise  adalah isinya tidak lagi berpuncak kepada nilai-nilai luhurbudaya, akibatnya  pantun menjadi barangmainan, kehilangan fungsi dan maknanya yang hakiki, yakni sebagai media untuk  memberikan pengajaran serta pewarisannilai-nilai luhur budaya bangsa. Jadi fenomena Pantun profan di sisi lain harusdisyukuri tapi di sisi lain hal ini merupakan realitas yang cukup memprihatinkan karena kegagalan mengkomunikasikannilai-nilai luhur dalam pembacaan pantun dan akan mereduksi pantun hanya sekedar permainan kata-kata dan hiburanpenyemarak suasana.
                                                                       ***
Begitupun padasyair, puisi lama yang sudah sangat jarang dipakai pada masa kekinian, Parapenyair kekinian (khususnya penyair muda dan muallaf), sedikit sekali mengenal syair yang terdiri dari empatbaris itu, dimana tiap baris terdiri dari empat kata, sekurang-kurangnyaterdiri dari sembilan sampai dua belas suku kata, dengan rima a-a-a-a danmerupakan satu kesatuan yang utuh.
Dalam bahasa Arab,syair adalah syu’ur, karena syair menjadi fail (pelaku/orang yang membuatsyu’ur disebut

Syairun atau syair, tapi kemudian syu’ur lebih dikenal sebagaisyi’run kamudian menjadi syair). Dalam grammar bahasa Arab berasal dari syaaro- ya’syiru – syu’run (syi’run) pahuwa Syaairun – yang artinya semacam ungkapanperasaaan.

Sastra Islam yangmasuk ke Indonesia mengalami transforrmasi, konflik politis antara kaum syiahdan Khaswarij misalnya, ditransformasikan menjadi sebuah karya sastra ceritakepahlawan “Hikayat Muhammad Hanafiah”, hingga kehidupan Nabi Muhammad punditransforrmasikan menjadi karya dalam bentuk kitab prosa dan puisi. HamzahFansuri tentu saja menulis “Syair Perahu” yang dasyat itu mengisakan ajaranAgama dalam bentuk syair;sebuah transformasi ajaran agama ke dalam bentuksastra.

Karya sastra asalArab/Persia ini ada juga yang diterima oleh masyarakat Indonesia secara utuhseperti Syair yang ada dalam kitab Albarzanji dan Burdah, yang hingga kinimasih digunakan di masyarakat dalam acara acara tertentu, celakanya sebagiankecil masyarakat awam mengira kitab Barzanji itu semacam hadits sehinggamembacanya menjadi wajib atau Sunnah Muakad.
Di sejumlah kawasandi tanah air, syair-syair itu masih dipakai khususnya di pondok pesantren,seperti di wilayah pulau Jawa, pengaruh sastra lama ini berkembang menjadigenre sastra pupujian atau nadom. Para ulama menggunakan nadom ini untukmempermudah hapalan bagi santri atau mereka yang belajar pengetahuan islam.misalnya dalam kitab sastra Barzanji – sebuah karya sastra mengenai riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yangditulis  seorang sufi bernama Ja’far ibnHasan ibn AbdulKarim ibn Muhammad Al Barzanji (1690 – 1764),  Jurumiyah/Imriti (ilmu tata bahasa Arab/Grammar),Nahwu Sorop (ilmu bahasa) Tajiwid (ilmu cara membaca Al-quran yang benar),Mantiq/Sulamul Munaqwaroq (ilmu cara berfikir) dll.

Dalam ilmu yangmempelajari agar bacaan Al-Quran baik dan benar sehingga Uslub Quran terdengar indah, dipelajari ilmu Tajwid, dansyair/nadom menjadi metode yang efektif. Dalam Kitab Grammarbahasa Arab dikenal Jurumiyah karya Abdulloh Muhammadbin Muhammad bin Dawud Ash-Shinhajie Rohimahulloh. Lalu untuk memperlancar danmelengkapi pemahaman pelajaran ada syair Imriti sebagai sebuah karya “Nadhom Al-Imriethie”  kitabilmu nahwu karya Al-Muallamah Syeikh Syarafuddien Yahyaa Al-ImrithiRohimahulloh. Di sejumlah daerah di Nusantara saya yakin kitab ini masih menjadisalah pelajaran yang diberikan di Madrasah Diniyah (setingkat SD), Tsanawiyah(SMP) dan Aliyah (SMA).

Metodologi belajar dengan syair yang dinyanyikanatau nadhom seperti ini, para pembelajar lebih terbantu ingatannya. MenghafalNadom Al imrithi ini selain menjadi syarat kelukusan siswa/santri, juga dipraktekanlangsung melalui pembelajaran Baca kitab. Pelajaran tata bahasa Arab juga masihterus berlanjut ke kitab ALfiyah Ibnu Malik, sebagai sebuah pelajaran yanglebih rumit, namun unsurr syair dalam bentuk nadom masih terus digunakan.

Pada malam-malam tertentu, para santri diwajibakanmembaca nadham (bait-bait) Alfiyah dengan bersama-sama, dengan lagu dan iramayang bermacam-macam. diharapkan, dengan tradisi pembacaan Alfiyah secara rutindan intens, santri mamapu menhafal dan memahami isi kandungan kitab Alfiyah inidengan baik dan mudah.
***
DiIndonesia hampir tidak ada yang bisa menyingkirkan peranan kitab ini. Semuapesantren menempatkan Alfiyah Ibnu Malik sebagai rujukan utama. Ia menjadikitab kuning yang paling dominan dalam study gramatika Arab. Punpada Ilmu Mantiq, agar siswa dapat terdidik dan berpikir secara sistematis, kritisdan analistis, sehingga pengetahuanya terhindar dari kesalahan, maka lagi-lagiSyair dalam bentuk nadoman menjadi pilihan. Nadom Ilmu Mantiq ini ada dalamkitab Sulamul Munawarq karya Syaikh Abdurrohman Al Ahdlori.

Dari sebagian kecilcontoh kitab syair yang saya sebutkan tadi, maka jelas bahwa Pondok Pesantrensecara tidak langsung telah “memaksa” para santrinya membuat syair baik dalambahasa Arab maupun bahasa daerah masing-masing. Di sejumlah daerah di Jawa Barat kerap terdengar syair/pujian/nadlomsebelum sholat, misalnya :
 
Hei Allah mugiGusti ngawuwuh
Rohmat salam kakangjeng nabi Muhammad
Hei Allah mugiGusti ngersakeiun
Lantaran kangjengNabi Muhammad

Dalam bahasa Jawa adasyair yang ditulis oleh seorang wali dan hingga kini masih didengungkan dimesjid-mesjid :

Tombo ati iku limoperkarane/Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholatwengi lakonono/Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kuduweteng ingkang luwe/Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopobiso ngelakoni /Mugi-mugi Gusti Allah njembatani

Tradisi syair ini berkembang pula menjadikarya-karya baru para Ulama hingga santri-santri di Indonesia dengan tema yangberbeda. Sistem kajian di pesantren dengan membedah kitab kuning, sangat memperhatikankebahasaan dan  sastra kitab tersebut. Darimenulis nadoman itu secara tidak langsung santri/siswa telah belajar menulispuisi modern. Sehingga lahirlah para penyair berlatar belakang pesantren. Bukanhanya Penyair yang dilahirkan pesantern tapi juga grup nasyid, kasidah bahkanband metal.

Jikamelihat kondisi diatas, itu artinya syair sebagai bentuk puisi lama, memilikipengaruh dan peranan penting dalam perpuisian modern di tanah air, nilai spiritualsastra nadom itulah yang menjadi nyawa atas lahirnya para penyair
                                                           ***
 bukuku
ALhasil, ketika para penyair modern khusuk dengan modernitas kata,frasa, diksi, metafora dan jempalitan bahasa, syair dan pantun nampaknya haruskembali dipikirkan agar menjadi bagian integral dari kepenyairan seseorang, tentusaja saya tidak menganjurkan bahwa harus ada semacam test tertulis apakahseseorang sudah layak jadi penyair atau belum, tetapi kita bisa bisa tanyakanpada penyair sekarang, apakah mereka mengetahui dan bisa menulis pantun/syairatau tidak.

Ini penting, sebabpersolan sastra adalah persoalan kehidupan manusia, para penyair tak cukuphanya memahami bagaimana ia menulis puisi kekinian tanpa mengetahui puisi lama.Dalam pepatah bahasa sunda kuno, hanangana hana mangke, tan hana ngana tan hana mangke (ada masa kini ada masalalu, tidak akan pernah ada masa kini tanpa masa lalu). Dan urusan penyairbukan sekedar urusan menulis puisi, pantun, syair, tapi soal peduli padalingkungan di luar kepenyairan dan karya mereka: pendidikan, politik, ekonomidan budaya.
Pantun dan Syair,sebagaimana puisi  modern  masuk pada wilayah pegolahan kata sertaempirisme penulisnya, sehingga mampu membawa si pembaca memahaminya isinya; akanmemberi  makna yang sangat dalam ketikaditulis dengan kejujuran dan berdasar pada kehidupan yang sebenarnya.  Sehingga kita tidak termasuk penyair sesatyang tertera dalam Surat Asyu’aro ayat 224 – 227.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: