//
you're reading...
UMUM

BUKU DAN INTERNET

BUKU DAN INTERNET

Oleh : Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Inilah Koran Nopember 2012

index 

 

Jumlah penduduk negara kita lebih dari 200 juta jiwa, jika saja ada 1 juta rakyat kita yang gemar membaca berarti hanya 5 % saja dari keseluruhan populasi. Informasi menyebutkan, masyarakat Indonesia akan membaca buku secara beramai-ramai jika ada buku yang dinilai best seller, dan jumlahnya tidak kurang dari 700 ribu orang, setelah itu budaya membaca kembali kosong, lalu akan kembali naik jika ada buku “bagus”, itupun terjadi pada buk-buku karya fiksi seperti novel yang sedang laris.

JIka pembaca fiksi sedikit dan hanya berlaku musiman, bagaimana dengan pembaca buku-buku non fiksi?

***

Kurangnya minta baca masyarakat Indonesia, entah disebabkan daya beli yang minim atau minat beli yang kurang, padahal jika dilihat dari pendapatan per-kapita masyarakat Indonesia yang kini mencapai 1.946 dolar Amerika, atau sekitar 21.500 rupiah per hari, harga buku berkisar antara 50-100 ribu rupiah per buah, sebenarnya tergolong murah, apalagi membeli buku tidak harus tiap hari.

Tentu saja saya kira ini menyangkut persoalan budaya, masyarakat kita (diakui atau tidak) masih terlalu memikirkan kebutuhan hidup, memikirkan bagaimana harga beras, cabe, gas elpiji dan lain-lain ketimbang harus membaca buku. Di sisi lain, mayarakat kaya pun hanya hidup untuk memenuhi prestise seperti rumah, hp, mobil, dll yang biasa kita sebut sebagai budaya konsumtif..

Parahnya lagi budaya itu “diamini” pula oleh kondisi perkembangan yang ada yakni televisi hingga internet, maka jadilah budaya mendengar dan bertutur pindah ke budaya menonton dan nge-net. Untuk nge-net mungkin orang masih tergolong membaca, meski pada kenyatannya, banyak pelajar yang nge-net hanya untuk sekedar chatting, facebookan, twitter, atau  mencari pacar, daripada membuka pengetahuan yang berhubungan dengan pelajaran. Tidak salah jika ada anda menyimpulkan bahwa masyarakat kita pada umumnya malas membaca. Hanphone dan televisi lebih menarik ketimbang buku.

Dalam kondisi seperti ini, sulit untuk mencari solusi apalagi jika harus menuding siapa yang salah, apalagi jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa  10,16 juta penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas, masih buta aksara.

 

Internet Sebagai Buku

Orang sebenarnya tahu dan faham bahwa buku adalah jendela dunia, membaca buku berarti melihat dunia. Kini orang sudah berpaling ke internet, maka tak salah pula jika peribahasa itu berubah menjadi internet adalah jendela dunia. Sekecil apapun informasi dunia sudah ada di internet, sang google akan dengan sukarela membantu kita dari kesulitan dengan cepat.

Pertanyaanya sekarang, masih perlukah buku sebagai bacaan utama, masihkah penerbitan buku diperlukan?. Jawabannya tentu saja masih perlu dan akan selalu perlu, buku tetap harus menjadi pegangan utama dalam mencari dan menambah pengetahuan, selain karena buku gampang dibawa kemana-mana di tas atau di saku baju (tidak usah repot repot membuka laptop atau pergi ke warnet), juga karena berbagai faktor lainnya.

Buku dan internet akan saling bergandengan dalam membuka cakrawala ilmu pengetahuan, informaasi yang ada di buku dan internet selalu saling berbagi, tidak semua informasi di buku ada di internet, begitupun sebaliknya. Bahkan sejumlah informasi di internet adalah informasi mengenai buku-buku yang harus dibaca. Kecanggihan internet sebenarnya akan berjalan sebagai sunnatullah, buku juga demikian, artinya buku akan tetap ada sepanjang masa dan internet menjadi bagian dari pengetahuan manusia.

Sebagai bagian dari sejarah dunia, buku tetap memegang peranan penting dalam mengembangkan ilmu pengetaahuan, internet adalah bagian nyata dari pengetahuan manusia yang sebenarnya berawal dari (membaca) buku. Jadi keduanya merupakan sesuatu  yang saling berhubungan, masing-masing memiliki kelebihan, sama halnya ketika informasi kita peroleh dari radio, televisi, dan koran, masing-masing tetap  diperlukan dan akan tetap ajeg dalam posisinya masing-masing.

Lalu apa yang harus dimulai agar budaya membaca menjadi sebuah keniscayaan, yang pertama adalah tentu saja keluarga sebagai negara kecil yang akan mewariskan budaya baca kepada anak-anaknya, orangtua yang membiasakan atau tidak membiasakan membaca di lingkungan keluarganya, maka otomatis akan diikuti anak-anaknya. Setelah itu  adalah guru, guru yang baik juga harus menjadi contoh agar anak didiknya mau membaca, perpustakaan di sekolah menjadi penting, karena disitulah muara kesadaran bisa dipupuk sejak dini, selain ruang internet dan laboratorium praktikum lainnya.

Di luar keluarga dan guru, ada sejumlah organisasi/komunitas yang khusus memberi ruang bagi masyarakat agar membaca, di Bandung ada  Tobucil, Baca-Baca, Commonroom dan lain-lain, mereka menyediakan ruang dan buku untuk membaca, bahkan ada Kafe yang juga memberi ruang untuk itu. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sudah mulai tersebar di mall-mall. Ada juga Ikapi (Ikatan Penerbit Indonbesia) Jabar secara rutin menggelar pameran buku. Saya yakin ini adalah sebuah cara/media untuk “merayu” masyarakat agar menjadikan buku sebagai sahabat, Pameran buku menjadi bagian penting dari upaya penyadaran bahwa buku adalah gudang ilmu.

Di dalam ajaran Agama Islam disebutakn dalam surat Al ‘Alaq ayat 1-5 yang artinya :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” 

Tanpa perintah ini pun sebenarnya membaca haruslah menjadi konsep dan gaya hidup, karena membaca menjadi cerminan hidup manusia untuk maju. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Syina, Aristoteles hingga Soekarno misalnya, mereka menjadi “manusia” karena membaca. Apalagi jika dikaitkan bahwa membaca itu ada dua macam, yakni membaca ayat-ayat tertulis dan membaca ayat ayat yang tidak tertulis. Membaca ayat tertulis artinya membaca kitab suci, ajaran agama, buku, internet dan lain-lain, sedangkan membaca ayat-ayat tidak tertulis (kauniyah) adalah membaca makna hidup, membaca kehidupan sosial budaya dan memahami makna dari semua peristiwa yang terjadi di muka bumi.

 

Jika semua elemen masyarakat menyadari pentingnya membaca, maka kita akan sampai pada makom ini :  jangan pernah berhenti membaca,  berhenti membaca berarti berhenti berpikir, berhenti  berfikir berarti mati”.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: