//
you're reading...
Tak Berkategori

MENCARI PEMIMPIN

MENCARI PEMIMPIN BARU

Oleh : Matdon

Inilah KoranAgustus 2012

 

images 

Sejarah kepemimpinan di dunia terus bergulir, mulai dari Nabi Muhammad SAW,  Abu Bakar, Umar bin Khatab, lalu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dan seterusnya.

Pada peradaban modern ada Hitler, Ayatollah Khomeini, Soekarno, Gandhi, Benazier Butho, Anwar Sadat, Saddam Husein dll.

Begitulah perputaran sejarah mengalir, satu-satu pemimpin yang dibenci dan diimpikan pergi, berganti pemimpin lainnya yang juga terus diimpikan. Entah berapa abad dunia mengalami proses panjang soal kepemimpinan, dan hingga kini, dalam sejarah dunia Islam tetap saja Nabi Muhammad selalu menjadi proyek percontohan akhlak leaderhsip bagi semua ummat   di dunia.

Nabi Muhammad diangkat oleh ummat menjadi pemimpin  bukan lantaran ia mau menjadi pemimpin, Wabil khusus karena ia diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak, Begitupun ajaran yang diamalkan Khulafaurrosyidin. Suatu ketikaUmar bin Khatab pernah menghunus pedangnya di hadapan ummat dan dengan lantang berteriak, “Kalau aku salah dalam memimpin kalian, maka luruskan aku dengan pedang ini”.Sebagai pemimpin, Umar berani mundur atau dihukum jika terbukti melakukan penyelewengan atas kepemimpinannya itu.

                       

**

 Awal tulisan diatas tidak hendak menggurui dengan kembali melihat karakteristik kepemiminan Nabi atau sahabat-sahabatnya apalagi jika dikaitkan dengan kepemimpinan di sejumlah daerah di Indonesia, saat ini. Tetapi paling tidak – saya hanya ingin menangkap kegelisahan masyarakat yang hingga kini sangat merindukan seorang pemimpin jujur, dan bijaksana, tidak korup, mengerti kehendak warganya, dan mendengar aspirasi masyarakat (sesuatu yang hingga kini belum pernah terwujud).

 

Saat ini di sejumlah daerah sedang, sudah dan akan menggelar Pilkada,  tentu masyarakat berharap akan mendapatkan Gubernur yang bijaksana, pemimpin gaul and funky dalam memutuskan masalah, pemimpin yang benar-benar asyik dan tidak galau. Lalu, apa kriteria para Gubernur di masa mendatang? Pertanyaan itu saya pikir lebih  bijaksana ketimbang bertanya apakah incumbent akan terpilih kembali atau digeser oleh pemimpin baru?.

 

Tolak ukur keberhasilan sebuah pemerintah sangat gampang diukur, misalnya dari segi apakah berbagai harapan mayarakat baik secara kultural, ekonomi dan politik  sudah terpenuhi atau belum. Idealitas-idealitas yang diinginkan masyarakat minimal mendekati  terpenuhi, misalnya soal lalu lintas, lapangan kerja (ekonomi), atau mekanissme politik dari rakyat melalaui DPRD perlu mendapatkan respon yang positif. Pemerintah Jabar nampaknya belum secara transparan memberikan ukuran apa yg disebut keberhasilan dan apa yang disebut kegagalan. Jika pemerintah mempunyai ukuran keberhasilan, seharusnya diinformasikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa mengukur diri, termasuk mengukur diri dalam kegagalan.

 

Ukuran ini bagi masyarakat sangat penting, dalam upaya mengukur dirinya pada aspek mana masyarakat bisa berperan serta untuk membangun kota/kabupaten-nya. Kita sendiri sekarang tidak tahu apakah aspek pelayanan terhadap masyarakat sudah terpenuhi atau belum,  dan dari aspek pembangunan apakah aspek pelayanan terhadap  publik sudah optimal atau belum, mulai dari perizinan, pengaduan, lebih-lebih pelayanan dari legislatif.

 Dicari Gen Leadershif

Melihat aspek pembangunan, apakah masterplan yang dikembangkan sudah sesuai dengan basic kultural daerah setempat, sehingga siapapun yang datang ke daearh itu dapat mengetahui  ciri-ciri pasti kota/kabupaten di masing-masin daerah.  Jika sebuah  wilayah kekuasaan dibangun dengan mengabaikan ruh kultural warganya, maka tunggulah saat-saat kehancuran, semua wilayah di Indonesia tengah menghadapi hal ini,  dan kita tidak mengetahui ciri-citi fisik yang menunjukan ekspresi kultural tersebut. Seharusnya inisiatif dalam membangun basik ruh kultural lahir dari kalangan legislatif,  Tapi apa boleh buat, dalam mata pandang saya, legislatif di tiap Propinsi sebagai sebuah wadah suara rakyat seperti sudah bebal dengan urusan-urusan semacam itu.

Saya teringat apa yang diungkapkan almarhum Setia Permana (Mantani anggota DPR RI), bahwa orang-orang birokasi baik itu legislatif maupun eksekutif harus memahami betul ruh kultural, kalau tidak maka daerah yang dikuasai hanya akan menjadi kelinci percobaan dan hanya akan menjadi lahan bagi kepentingan pribadi atau kelompok. Pemerintahan harus memahami benar apa sebenarnya ruh kultural.Gen putera daerah memang perlu tapi yang paling penting bagaimana pemimpin itu faham budaya sebagai produk kebudayaan manusia daerah setempat.

Dan inilah yang tidak begitu terlihat dalam tubuh elit pemerintahan d tiap daerah/propinsi yang mau terjun ke arah situ. Para elit politik apalagi, sering mengabaikan kebijakan ruh kulturalnya, artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan birokasi pemerintahan dibangun tanpa kesadaran sejarah, budaya. Jadi ternyata yang paling penting lagi adalahgen leadershif

***

Jadi saya pikir Pemerintah Propinsi  bukan hanya membutuhkan mutant (mahluk baru), tapi tetap harus ada orang yang memahami betul ruh kultural daerah itu sendiri, selain juga harus membawa visi yang diuji oleh masyarakat melalui perencanaan dan program yang bagus dan diterima masyarakat, jangan biarkan masyarakat terus menerus mengambil keputusan yang salah dan terus dalam kesalahan memilih pemerintahan baru.

Jika hal ini terus menerus  dibiarkan, maka akan terjadi sebuah ledakan sosial dasyat yang harus dibeli dengan ongkos budaya, ongkos politik, ongkos sosial yang sangat mahal. Jika rakyat terus meneruskan dibiarkan dan dipinggirkan, mereka hanya punya senjata terakhir, yakni anarkis.

 Nampaknya suasana hangat soal pemilihan Gubernur dimana-mana sudah dimulai, genderang perang sudah ditabuh, spanduk dan baliho sudah berserakan dimana-manaTak penting bagi masyarakat siapa Gubernurnya, yang penting, batasan-batasan yang disampaikan diatas terpenuhi. Apalagi pemimpin mendatang siap meniru dan melaksanakan ucapan Umar Bin Khatab ; “Kalau saya salah menjadi Gubernur, tolong tegur saya dengan hukuman apapun,”.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: