//
you're reading...
BUDAYA

Rastika, Si Maestro Lukisan Kaca

oleh: Matdon

Sinar Harapan 24 Nopember 2012

Konon, lukisan kaca muncul pada abad ke-15 di Cirebon

8241112 pelukiskacaRASTIKA-3

Pertumbuhan seni lukisan kaca ini terasa cukup lambat karena selain aneh juga jarang orang yang bisa melakukannya. Barulah pada awal abad ke-17, seni ini muncul lagi dan akhirnya pada abad ke-19 mengalami pertumbuhan yang bagus.

Lukisan kaca berkembang pada saat agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Pada zaman pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, lukisan kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa lukisan kaca kaligrafi dan berupa lukisan kaca wayang, lalu terpengaruh juga dengan gaya China.

Adalah Rastika, pria berusia 70 tahun kelahiran Gegesik Kulon, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat pada 1942. Anak pasangan Tarsa dan Rubiyem ini sejak usia 10 tahun mulai belajar melukis secara autodidak. Ia senang melukis motif wayang di atas kertas.

Pada saat usia belasan tahun di awal 1960-an, diam-diam Rastika mencoba melukis di atas kaca meniru para pelukis kaca senior waktu itu seperti Maruna, Saji, dan Sudarga.

“Waktu itu, saya tunjukkan lukisan kaca saya yang pertama pada Sudarga, dan Sudarga bilang lukisan saya bagus,” ujarnya.

Rupanya pujian Sudarga sebagai seniornya membuat Rastika bersemangat untuk terus melukis kaca dan pembeli pertama lukisan kacanya adalah Sukirno, tetangganya sendiri. Hingga kini, Rastika tetap konsisten melukis kaca, yang pada akhirnya ia menjadi maestro. Di usianya yang sudah tua, Rastika tetap melukis, sesekali ia membuat wayang kulit dan ikut menjadi nayaga.

Yang menarik dari cerita Rastika pada saya, saat berkunjung ke rumahnya akhir pekan kemarin, ialah banyak orang yang pesan lukisan kaca padanya setelah lukisan itu jadi malah tidak dibayar, padahal lukisan itu sudah diambil oleh pemesannya. Uniknya, sang pemesan itu adalah pejabat publik.

“Ada juga sekelas menteri yang pesan lukisan harganya pengen murah, tapi lukisan kacanya pengen besar dan bagus,” ujar Rastika seraya mengatakan, hal itu sudah terbiasa terjadi. Rastika menyerahkan kebohongan para pejabat itu pada Yang Kuasa. “Yang berbuat jahat itu pasti ada balasannya,” ujar Rastika.

 

Dua Ribu Karya

Pemikiran sederhana itu membuat saya kagum, apalagi ketika Rastika ternyata sudah melukis hingga 2.000 lebih lukisan kaca. Tahun 1977, Rastika ikut serta berpameran di Pasar Seni ITB, bersama Sudarga, masing-masing memamerkan lima lukisan. Sejak lukisan Semar dengan Dua Kalimat Syahadat, namanya mencuat. Lukisan tersebut digemari banyak orang dan banyak ditiru. Lukisan kaligrafi itu ia hadiahkan kepada Presiden Soeharto dalam upacara pembukaan Museum Indonesia di TMII.

Hingga kini Rastika sudah berpameran lebih dari 17 kali, baik bersama-sama maupun tunggal. Pameran tunggal dan bersamanya antara lain di Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, dan berbagai hotel di Jakarta. Lukisan kacanya juga pernah ditampilkan dalam Pekan Raya Jakarta 1978, di Mitra Budaya milik perkumpulan pencinta kebudayaan di Jakarta. 

Lukisan-lukisannya banyak dimiliki para kolektor antara lain Karna Tanding, Begawan Mintaraga, Anoman Obong, Aji Candrabirawa, Bima Suci, dan Kumbakarna Gugur. Salah satu lukisannya diberi nama Citra Indonesia terpampang di Museum Indonesia TMII. Karya-karya Rastika kini juga bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta.

Narasi lukisan Rastika umumnya merupakan suatu penggambaran antara baik dan buruk, hukuman dan kejahatan, angkara dan samadi, dalam pola dan motif yang berasal dari kisah-kisah legenda dan pewayangan, dengan motif campuran antara Jawa-Hindu, Islam dan China yang telah bertransformasi.

Lukisan Rastika bergaya dekoratif Klasik, tentu dengan tingkat kesulitan yang tinggi karena lukisan kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, padat gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias motif mega mendung dan wadasan yang kita kenal sebagai motif batik Cirebon.

 

Melukis sampai Mati

Di rumahnya yang sederhana itu, Rastika hidup bersama anaknya, Kusdono (30), yang kini mengikuti jejaknya. Ia tetap hidup sederhana dengan pikiran sederhana.

“Jadi seniman itu otaknya harus bagus, jangan pernah buruk sangka, harus juga punya aji rasa,” demikian Rastika bertutur. Prinsip sederhana pria jangkung ini tentu saja berdasar pengalaman hidupnya yang pahit. Terutama saat banyak orang dan pejabat yang “mencuri” lukisan kacanya tanpa mau membayar.

“Saya ini ikhlas, apalagi kalau ada pembeli yang uangnya pas-pasan atau pura-pura gak punya uang, ya saya kasih saja itu lukisan dengan harga murah. Saya tahu kok ada pejabat yang datang mau beli lukisan, lalu dia sodorkan uang sedikit, katanya gak punya uang. Padahal, saya tahu dia cuma pura-pura gak punya uang,” kata Rastika tertawa lebar.

Menurut Rastika kendala klasik perkembangan lukisan kaca Cirebon adalah perluasan pangsa pasar, karena memang tidak mudah mengalihkan masyarakat konsumen dari kebutuhan sekunder ke kebutuhan primer. Namun, Rastika juga yakin akan tetap hidup lewat lukisan kaca dan ia akan tetap melukis kaca hingga akhir hidupnya. “Anak saya Kusdono nanti yang akan meneruskan perjuangan saya,” bisiknya.

Ya, Rastika adalah lukisan kaca, keduanya menyatu dalam tradisi budaya Cirebon. Lukisan kaca Cirebon adalah media ekspresi Rastika – yang nantinya – menjadi dokumentasi kehidupan seni budaya sosial keagamaan dan spiritualitas masyarakat Cirebon

<

p class=”MsoNormal”> 

Diskusi

4 thoughts on “Rastika, Si Maestro Lukisan Kaca

  1. selamat malam mas, media saya bekerja sedang menggarap obituari Rastika. Tapi saya tidak memiliki foto beliau. mas punya fotonya? boleh minta emailnya mas?
    terima kasih

    Posted by nita | 04/09/2014, 12:18
  2. Mas saya mau tanya kalay galeri lukisan kaca itu ada dimana ya? makasih 😊

    Posted by eviyunita | 14/08/2016, 02:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: