//
you're reading...
BUDAYA

SITU CIBEUREUM GARUT

Yang Terpendam dari

Keindahan Situ Cibeureum

 

Oleh : Matdon

Sinar Harapn | Sabtu | 04 Agustus 2012|

 

 

Garut

Garut

Tidak terlalu susah untuk sampai ke Situ Cibeureum. Sayangnya, jalanan menuju ke sana tidak beraspal dan belum ada angkutan umum atau ojek menuju ke sana. Kebanyakan orang yang berkunjung akan berjalan kaki, sekaligus berolahraga, dengan “imbalan” pemandangan indah selama mereka menempuh rute itu.

Sesampai di sana kita akan melihat empat situ, karena pada 2003 sampai 2005 warga setempat telah membangun dua situ berukuran lebih kecil, yang mereka sebut sebagai situ buatan.

Setelah tahun 2005, di sekeliling situ pun mulai dibangun bumi perkemahan. Setahun belakangan ini, baru sebagian saja warga Kabupaten Garut mengetahui adanya tempat ini. Sejak perkemahan dan Situ Cibeureum dibuka untuk umum setahun lalu, setiap akhir pekan pasti ada pengunjung.

Wisata baru ini pun memberi penghidupan bagi warga untuk berjualan, sebuah mata pencaharian yang tidak terpikirkan sebelumnya. Selama enam bulan terakhir, setiap minggu pemerintah desa mendapatkan pemasukan uang, kendati jumlahnya masih sangat minim.

Jika saja pemerintah peka dan cukup cerdas membangun kawasan wisata di sana, Situ Cibeureum merupakan aset yang cukup bagus, sebuah prospek masa depan bagi Kabupaten Garut, setelah memiliki kawasan wisata Cipanas, Situ Bagendit, dan Candi Cangkuang.

Persoalannya kemudian, pemerintah tidak boleh gegabah membangun permukiman yang berakibat buruk bagi perairan warga setempat. Tentu saja ini bukan kecurigaan, tapi sebuah kewaspadaan bagi pelestarian lingkungan hutan sekitar.

Kini di sana terdapat sebuah arboretum yang memiliki luas sekitar 2 hektare, sebagai tempat pengembangan pendidikan dan penelitian bagi kalangan dunia pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan masyarakat. Tempat itu juga akan digunakan sebagai tempat pengembangan berbagai macam plasma nutfah asli Garut dari jenis tumbuhan kehutanan yang bersifat endemik hingga eksotik.

Keberadaan arboretum yang berdekatan dengan danau purba Situ Cibeureum di Kecamatan Samarang Kabupaten Garut, Jawa Barat, selain sebagai pusat penelitian flora termasuk tumbuh-tumbuhan langka dan sebagai konservasi sumber mata air, juga bisa dijadikan rujukan bagi kalangan ilmuwan mancanegara. Ini karena di sini akan tumbuh beragam tanaman langka yang terancam punah di belahan dunia mana pun.

Arboretum yang ada di Indonesia sekarang hanya di Kupang, Malang Jawa Timur serta Kecamatan Samarang Kabupaten Garut, yang dilengkapi potensi Situ Cibeureum berdebit air 1.500 liter/detik, bisa mengairi areal persawahan di empat desa seluas 900 ha lebih. Dari tujuh situ seluas 7 hektare tersebut selama ini digali dan dibenahi oleh swadaya masyarakat beserta instansi teknis terkait.

Meski demikian, hutan yang ada di sekeliling situ tampaknya masih perlu juga penataan yang tidak mengganggu hewan sekitar seperti macan tutul, monyet, dan babi. Dalam hal ini tak ada salahnya bila pihak terkait belajar penataan hutan pada Taman Safari Indonesia.

Kehidupan penduduk pun tidak boleh diganggu. Lebih baik memberdayakan penduduk daripada harus mengerahkan warga luar Garut. “Jika hutan tak lagi mampu menampung air, kita akan binasa. Manusia perlu menyadari hal itu,” kata Kepala Desa Sukakarya Kecamatan Samarang Kabupaten Garut Asep Hamdani.

Pernah Kekeringan

Dulu, warga Desa Sukakarya Kecamatan Samarang Kabupaten Garut pernah mengalami kekeringan. Air bersih untuk minum sudah tidak lagi mereka dapatkan, ranting-ranting mulai kering sekering tenggorokan warga.

Untuk mendapatkan air mereka harus menempuh jarak 5 km, itu pun mereka kemudian hanya mendapatkan sebuah sungai kecil yang cepat habis diambil warga. Anehnya sungai itu kembali mengalirkan air dengan cepat. Sungai kecil inilah yang kemudian menjadi sumber kehidupan warga setempat.

Sebelas tahun yang lalu, tepatnya 2001, Asep Hamdani merasa heran dengan sungai kecil ini. Dengan penasaran dan keberanian yang ada, ia mencoba menelusuri sungai itu untuk mengetahui dari mana sumber air di sana. Awal mula penelusuran dilakukan sendirian, namun ketika sampai di tepi hutan, Asep menghentikan pencarian sumber air dan meminta tolong warga serta Camat Samarang Garut di masa itu.

Keberanian Asep bertambah karena dibantu camat dan beberapa warga sekitar. Mereka mulai masuk hutan, semak belukar, tak jarang mereka bertemu monyet, ular, bahkan macan tutul Jawa. Sesekali pencarian dihentikan dan mereka pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya pencarian diteruskan, satu bulan lamanya.

Setelah perjalanan dan kerja yang melelahkan, barulah warga menemukan sebuah rembesan air dari rerimbunan ilalang yang – ternyata – sebuah mata air. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah kubangan lumpur dengan luas sekitar 20 meter. Kubangan lumpur itu berada di bawah pepohonan yang lebat. Dalam buku peta yang ada di kantor Desa Sukakarya, ternyata pada 1946 di sana terdapat sebuah situ danau kecil.

Mungkin lantaran ditinggalkan terlalu lama, situ itu “menghilang” ditelan ilalang tinggi dan pohon-pohon. Tidak kurang dari 200 warga dikerahkan setiap Jumat untuk membuka lumpur berisi resapan air dari mata air – yang kemudian disebut sebagai mata air Cibeureum karena dasar tanahnya berwarna merah (beureum artinya merah).

Selama kurun waktu 2001-2003 terbukalah dua situ, masing-masing berukuran luas kurang lebih 1 hektare. Situ ini dijadikan penampungan air yang datang dari mata air Cibeureum, dialirkan ke kampung-kampung desa. Setelah itu warga Sukakarya tidak lagi kekurangan air bersih.

Jadilah, tempat itu menjadi sumber penghidupan, bahkan kelak bila diperhatikan alam dan lingkungannya, dapat menjadi wisata alam yang indah.

Ini adalah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi jika bermimpi melestarikan hutan dan keindahan situ. Siapa pun boleh menyentuh Hutan dan Situ Cibeureum yang masih perawan itu, tapi jangan nodai kehidupannya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: