//
you're reading...
BUDAYA

KAYU BAKAR

KAYU BAKAR VS ELPIJI

Oleh : Matdon  

Tribun Jabar – Kamis 28 April 2011

Dan sekarang lupakan minyak tanah, karena ia sudah menjadi fosil sejarah kekayaan alam. Jika pun masih ada, maka minyak tanah tak ubahnya seperti mutiara yang mahal harganya, ia tersingkirikan oleh birahi politik dan ketakutan pemerintah terhadap harga minyak dunia.

Sekarang zamannya gas elpiji, zaman mutakhir yang juga disertai ketakutan masyarakat terhadap ledakan dasyatnya, maut senantiasa mengintai – seolah olah malaikat Izrail ikut berada di dalam tabung gas 3 kg. Ya, tabung gas berwarna hijau itu acap kali menjadi  teror bagi masyarakat. Mungkin akan lain jadinya jika warna tabung gas elpiji berwarna biru seperti tabung gas 12 kg, lho kok bisa, coba simak lagu anak anak berjudul “Balonku”:

 

index

Balonku ada lima rupa rupa warnanya

Hijau kuning kelabu merah muda dan biru

Meletus balon hijau dar!

Lagu adalah karya seorang seniman, syair seniman sering menjadi semacam ramalan yang tersirat, simak puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono, hujan di bulan Juni dulu sangat tidak mungkin terjadi, tapi tahun 60-an Sapardi menulis puisi itu dan ternyata pada tahun 2010 kemarin hujan bulan juni terjadi juga.  Simak pula lagu “Ibu Pertiwi” yang konon ditulis para Waliyullah, lagu ini menggambarkan bagaimana tanah air terus merus berduka akibat pengrusakan alam oleh manusia.

Begitupun dengan lagu “Balonku”, ia menjadi ramalan yang jitu yang menggambarkan bagaimana warna hijau bisa meledak sewaktu waktu, bentuk balon dan gas elpiji nyaris sama.

Memasuki tahun ke empat konversi minyak tanah ke gas adalah memasuki modernitas sebenarnya, ketika “bom” mulai reda namun sebagian besar masyarakat masih takut menggunakannya, inilah masa sukses yang sunyi.

Mari tengok apa yang dilakukan  Ma Iyah (67) warga Jl. Jenderal Sudirman Gg. Maleber Bandung, ia hidup di tengah tengah kota, membuat warng makanan anak anak, namun Ma iyah masih setia memakai kayu bakar untuk memasak, ia sama sekali tidak tergoda kompor gas. Ketika saya menemuinya, wajah Ma Iyah ketakutan begitu mendengar kata gas, kata gas seperti sebuah hantu yan menakutkan baginya, padahal ia mengaku belum pernah sekalipun memakai kompor gas.

Ma Iyah mendapatkan kayu bakar dari sisa-sisa rerntuhan bangunan di sekitar rumahnya, atau bahkan jauh. Jika kayu bakar habis, maka Ma Iyah tak segan-segan untuk memotong kaki kursi di rumahnya untuk dijadikan bahan bakar.

Meski hanya mengambil satu contoh Ma iyah, saya yakin masih ada Ma iyah lainnya yang tetap setia pada kayu bakar. Ya kayu bakar tak seperiti minyak tanah, meski sama-sama langka tapi menarik menjadi semacam fenomena budaya, adat dan keukuehnya mmpertahankan ketakutan tehadap gas.

Kayu bakar adalah alat memasak yang digunakan nenak moyang bangsa Indoesia secara turun temurun, kayu bakar menjadi cirri wanci perkembangan budaya yang nyentrik, ia lahir dari kecerdasan manusia. Ketika muncul minyak tanah, kayu bakar tetap bertahan. Ketika lahir gas elpiji kayu bakar pun masih tetap bertahan sementara minyak tanah tersingkir.


Ada yang unik dari kayu bakar, konon para pemburu makanan tradisional di Indonesia  merasakan kenikmatan luara bisa jika makanan tersebut bahan bakarnya kayu bakar. Benar atau tidak, kalimat “Top Markotop” atau bahkan “Mak Nyuss” berawal ketika masakan yang diolah dengan bahan bakar kayu.

Dari Ma Iyah saya mendapatkan penjelasan bahwa memasak dengan kayu bakar akan terasa lebih nikmat,meski terlihat kurang higienis. Jika dikalkulasikan memang pemakaian kayu bakar bisa lebih mahal di banding menggunakan gas, tapi rasa dan kwalitas makanan tetap terjaga.

Namun entah dari mana asalnya tiba tiba ada sebuah pernyataan yang menghembuskan  bahwa asap dari kayu pembakaran dapat membahayakan kesehatan. Bahaya asap kayu dari pembakaran setara dengan asap dari knalpot kendaraan. Karena asap kayu bakar atau knalpot memiliki partikel kecil dan tidak terlihat yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan kanker.

Sebuah penelitian ilmuwan Denmark  bernama Profesor Steffen Loft, menunjukkan partikel-partikel kecil di dalam asap dapat menjadi pembunuh senyap karena ukurannya yang kecil dan terhirup ke dalam paru-paru dan dapat menyebabkan jantung, asma, kanker, bronkitis, dan masalah kesehatan lainnya. Menurut Profesor Loft, partikel itu merusak DNA manusia.

Penelitian itu bisa jadi benar bisa jadi salah, tapi yang jelas para pengguna kayu bakar di zaman gas elpiji ini masih tetap banyak. Sementara itu cairan gas elpiji  sangat mudah terbakar, meski tidak beracun tapi berbau menyengat. Resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan kebakaran. Inilah hantu ang menakutkan itu, walaupun secara teori Pertamina menambahkan gas mercapatan, untuk mendeteksi bila terjadi kebocoran tabung gas.

Tabung gas elpiji (khususnya isi 3 kg), akan meledak dan terbakar bila adanya udara (oksigen), suhu, dan gas yang keluar dari tabung. Ledakan akan terjadi jika campuran gas di udara mencapai sekitar empat persen pada suhu tertentu. Kompor gas akan menyala normal bila kadar gasnya di bawah itu. Semakin besar gas yang keluar, akan semakin menyengat bau gas yang tercium. Satu satunya manfaat gas elpiji ialah lebih murah dari kayu bakar.

Manfaat dan madarat penggunaan kayu bakar dan gas elpji sebenernya sufah jelas, tinggal bagaimana pemerintah mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat agar menyadari pentingnya penggunaan gas, tentu dalam hal ini pemerintah sudah sangat tahu, lepas dari persoalan politik atau bisnis semata, tentu saja harus juga mempermisikan mereka yang masih setia menggunakan kayu bakar.

Sebab jika dibiarkan, ledakan demi ledakan gas akan terus terjadi sepanjang hari. Jika sudah terjadi ledakan dan menewaskan nyawa manusia, maka seluruh dosa orang-orang  yang mati arus ditanggung oleh Pemerintah dan Pertamina.  Dosa ini saya sebut sebagai dosa struktural; Presiden ikut berdosa, Menteri ikut berdosa, Direktur pertamina ikut berdosa, seluruh pemimpin negeri ini turut berdosa hingga hari kiamat. Dosa semacam ini bisa  berkelanjutan dan turun temurun

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: