//
you're reading...
BUDAYA

KANG YOYON

Nyanyian Hati Kang Yoyon

Oleh : Matdon

Sinar Harapan | Jumat, 31 Agustus 2012

 

 

Kang Yoyon menjadi aktor teater tertua di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

 

”Pementasan malam ini sungguh menggembirakan, dan alangkah gilanya jika dipikir. Berapa banyak bir dan anggur yang telah kutuang ke dalam tenggorokan untuk menghormati peristiwa ini. Luar biasa! Rasanya tubuhku ikut tenggelam seluruhnya dan kurasa ada dua puluh macam lidah di dalam mulutku.”

Mulut Svietlovidoff terus nyerocos dalam keadaan mabuk berat. Ia terkurung di sebuah gudang pakaian dikelilingi buku-buku yang berantakan. Svietlovidoff adalah aktor teater paling tua, usianya lebih dari 68 tahun. Kehidupan berteater telah ia jalani hampir 75 persen perjalanan hidupnya.

Suatu kali usai pementasan ia terkurung di gudang itu, sementara kawan-kawan lainnya sudah pulang. Penonton pun sudah pulang. Mereka semua sudah tidur dan melupakannya. ”Tidak seorang pun membutuhkan aku, tak ada yang mencintaiku. Aku tak punya rumah tempat pulang,” ia mengigau.

Dalam kesendirian itulah seorang pembisik bernama Nikita Ivanitch datang menghiburnya, memberi semangat pada aktor tua yang kini ringkih dan menunggu kematian itu. Sampai akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu, menuju ke tempat maisng-masing.

yy

Inilah kisah pertujukan teater “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov, yang dimainkan Actors Unlimited (AUL) Bandung di Bale Rumawat Unpad, Jl Dipatiukur Bandung, Selasa (28/8).

Tokoh Svietlovidoff diperankan aktor gaek Mohamad Sunjaya atau yang lebih dikenal dengan nama Kang Yoyon, sedangkan tokoh Nikita diperankan aktor muda May Ramadhan. Pementasan ini merupakan syukuran ke-13 tahun Actors Unlimited dan 75 tahun usia Mohamad Sunjaya,

Mengapresiasi pertujukan yang disutradarai Indarsitas ini, saya kembali teringat pada 2007 lalu, saat Kang Yoyon mementaskan lakon “Kehidupan di Teater“ karya penulis Amerika David Mamet di CCF Bandung.

Saat itu ia baru saja dirawat di rumah sakit. Ketika lakon ini ia perankan, sisa-sisa kelelahan masih tampak pada dirinya. Usai pertunjukan, saat itu dia berkata, “Urang hirup keneh euy! (Saya ternyata masih hidup!)”.

Tentu saja kalimat yang selalu membuat saya bergetar, konon Kang Yoyon bercita-cita ingin mati di atas panggung pementasan. Anehnya lagi, akhir-akhir ini cerita dalam pementasan yang ia perankan selalu memegang peran sebagai aktor tua juga, seperti sebuah gambaran perjalanan hidupnya dalam berteater.

Kita tentu akan kagum saat tubuh tua dan kerempeng itu ternyata masih terus menyimpan semangat luar biasa. Tubuh yang menjadi jaminan bagi dunia akting (teater) di Tanah Air. Kang Yoyon menjadi aktor teater tertua di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, setelah kawan-kawan seangkatannya seperti Teguh Karya dan Arifin C Noer serta Suyatna Anirun pergi lebih awal.

Kang Yoyon bermain drama untuk pertama kali pada 1955, dalam lakon “Di Langit Ada Bintang” karya Utuy Tatang Sontani, yang disutradarai Noor Asmara (anak mendiang Anjar Asmara). Ketika itu dia masih SMA. Pada 1958 ia menjadi sekretaris umum Studiklub Teater Bandung (STB) dan sejak itu ia ikut bermain dalam sejumlah produksi drama STB hingga kini.

Pria kelahiran di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung, 28 Agustus 1937 ini adalah senior broadcaster di radio swasta di Bandung (Radio Mara) sejak 1971, pernah menjadi pemimpin redaksi Pusat Pemberitaan Radio Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia pada PRSSNI daerah Jawa Barat.

Ia dipecat karena dinilai bersalah menugaskan seorang reporter meliput dan menyiarkan kegiatan mahasiswa dan pemuda Bandung berdemonstrasi menentang judi SDSB. Pemerintah bahkan melarangnya siaran di radio Mara selama hampir dua tahun. Selama hampir enam bulan pun dia dilarang bepergian ke luar kota, semacam tahanan kota.

Namun, dunia sebenarnya bagi Kang Yoyon adalah teater. Dunia akting adalah dunia yang tidak pernah akan ia tinggalkan hingga maut menjemput. Secara material, teater tak memberinya apa apa, bahkan untuk berteater ia menjual sebagian hartanya.

“Saya tidak pernah memiliki rumah pribadi, tapi tidak pernah merasa miskin, sejak 1955 sampai sekarang,” katanya. Malam itu usai pertunjukan, sekitar 300 penonton tak juga beranjak, masih menyaksikan bagaimana Kang Yoyon meniup lilin ulang tahun.

“Menempuh hidup berteater, dahulu mungkin saya terkesan agak suka ngebut seakan-akan hanya mengandalkan gas, klakson, dan setir. Sekarang saya lebih banyak memanfaatkan fungsi persneling, rem tanpa klakson. Gas digunakan untuk kecepatan yang wajar dan normal saja, jika menghadapi tikungan. Semoga kendaraan tidak selip atau nyerempet atau nabrak sesuatu,“ tuturnya. Itulah prinsip yang kini dipegang Kang Yoyon, sang aktor tua itu.

                                                                                                  

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: