//
you're reading...
BUDAYA

SEPAKBOLA POLITIK

SEPAKBOLA ADALAH POLITIK?.

oleh Matdon – Tribun Jabar 29 Desember 2012

images

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

 

Politik di negeri ini telah menjadi “tuhan” bagi pemeluk teguhnya, seperti angin yang berdesir, politik menyelinap di semua ruang dan waktu, tak peduli luas atau sempit. Dan sepakbola adalah ruang paling luas untuk dengan bebas politik ikut bermain di dalamnya.

Adalah KPSI dan PSSI, dua kesebelasan yang  bermain sepakbola tidak di lapangan hijau, tapi di sejumlah kepentingan mereka, dan permainan mereka membuat dunia sepakbola kita makin berada di jurang kehinaan. Tulisan ini tidak hendak menyalahkan PSSI dan KPSI (meskipun saya yakin keduanya adalah sejarah dari dosa besar negeri ini). Tapi sekedar merekam suasana permainan sepakbola pikiran  dan sepakbola politik yang tengah terjadi, ya katakanlah semacam reportase olahraga.

Saudara saudara sekalian,

Nampak kedua kubu saat ini sedang memperebutkan bola kekuasaan, para pengurus PSSI  mengatur strategi dari berbagai lini, mulai dari lapangan tengah hingga striker hingga back kanan, dan play maker Johar Arifin terlihat mengatur bolal, oper kepada para pemian lainnya yang memanfaatkan lebar kekuasaan. Namun saudara-saudara kubu KPSI pun tak mau kalah, dengan strategi 4-3-3 mereka mencoba bertahan dan sesekali membangun serangan balasan dengan umpan-umpan lambung ke arah gawang PSSI dan…ah saudara-saudara sekalian, wasit Agung Laksono meniup peluit karena ada pelanggaran, entah ofside atau…owh ternyata bola harus disimpan di titik putih lapangan tengah karena terjadi kesalahfahaman

Sungguh seru saudara-saudara sekalian, kedua kubu terus melancarkan serangan dengan sangat impresif, umpan lambung dan passing pendek membuat permainan sepakbola politik ini semakin sulit diprediksi siapa yang akan menjadi pemenangnya. Konon menurut informasi, KPSI sudah melakukan perbaikan untuk sepakbola di tanah air dan PSSI juga mengklaim bahwa dialah yang berhak mengatur semua sepakbola di tanah air.

Saudara-saudara sekalian,

sepakbola adalah sebuah olahraga berjamaah yang  tidak akan pernah bebas dari intevensi politik. Sementara politik adalah mahluk menyeramkan yang manis yang selalu memanfaatkan sepakbola untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sepakbola di negeri Indonesia adalah ladang emas bagi sebagian politikus, sedangkan bagi sebagian lain sepakbola tak ubahnya gadis cantik yang patut dikejar hingga titik darah penghabisan.

Jika anda ingin melihat wajah para penguasa, maka lapangan sepakbola menjadi ajang tampang para penguasa negeri ini. kita pernah  menyaksikan wajah para politisi pada  Piala AFF beberapa tahun lalu, bahkan di AFF 2010 SBY mendadak menjadi maniak sepakbola dan menyaksikan laga langsung di dua pertandingan selanjutnya. Pada event sepakbola daerah, para kepala daerah juga selalu hadir di pinggir lapangan untuk ikut mengatur jalannya permainan sekaligus mengatur pelatih.

 

Politik adalah Sepakbola

Dalam buku yang ditulis  Richard Giulianotti Sepakbola: Pesona Sihir Permainan Global (1999) disebutkan, intervensi politik kerapkali hadir di lapangan hijau. Tidak hanya terjdi di Indonesia, tapi juga terjadi di berbagai belahan dunia. Di Spanyol, Jenderal Franco merupakan penguasa yang paling brutal dalam mengintervensi sepakbola, pada tahun 1938 ia memerintahkan militer menjatuhkan bom di atas kandang Barcelona. Tercatat 3.486 pendukung Barca meninggal. Sementara di atas lapangan, Barca dipaksa menyerah dari tim kesayangannya, Real Madrid. Pada tahun 1941 Barca dipaksa kalah 1-11 dari Madrid. Beberapa pemain Barca bahkan diskorsing tidak boleh bermain seumur hidup.

Sejarah panjang peperangan Barca –Madrid ini terus berlanjut hingga kini, aroma politik kerap terjadi. Seperti misalnya beberapa waktu lalu pengelola Santiago Bernabeu “menolak” final Copa del Rey Barcelona dan Athletic Bilbao dimainkan di tempat itu. Alasannya sederhana, stadion sedang berada dalam tahap renovasi toilet dan bangku penonton.

Pada tahun 1934,politik sepakbola juga dilakukan pemimpin fasis Italia Benito Mussolini,pada tahun 1969 sepakbola menjadi perantara perang Honduras dan El Salvador, dan pada awla tahun 1990-an perang Malvinas-Inggris terasa sampai lapangan hijau. Di Indonesia tentu saja kita sudah terlalu sering menyaksikan kepentingan politik untuk sepakbola. Bedanya, jika di luar negeri kisruh politik tidak begitu berpengaruh besar terhadap karier sepakbola, di Indonesia?, anda bisa menjawabnya sendiri.

Meski demikian ada juga unsur posituf dari Politisasi sepakbola ialah pesan perdamaian seperti yang dilakukan Palestina. Negeri yang terus menerus diserang Israel ini menggunakan sepakbola untuk menggugah kesadaran dunia bahwa negerinya masih terjajah.  Rakyat Irak juga merasa gembira ketika menjadi juara Piala Asia 2007 meskipun negerinya porak poranda karena perang. Hal positif terjadi pada parancis saat menjadi juara dunia.

Sulit sekali sepakbola akan bersih dari unsur politik. Jika melihat sejarah diatas, memisahkan politik dengan sepakbola sama seperti memisahkan cinta suci Romeo dan Juliet. Meski demikian kita tetap berharap politik harus menjadi kebaikan bagi dunia sepakbola, karena bagaimanapun juga sepakbola lah yang akan mampu menghibur rakyat Indonesia, di tengah kedangkalan pola pikir politikus dan penguasa yang tak mampu mengurus negeri.

Jika politik telah menghancurkan tatanan sepakbola di tanah air, maka semua rakyat Indonesia akan kehilangan hiburan murah berjamaah itu, dan jika rakyat sudah tidak gembira dengan sepakbola, maka tak ada jalan lain kecuali Tuhan akan mengutuk PSSI dan KPSI, setelah itu Inspektur Jenderal pertandingan kedua kubu harus segera turun tangan untuk menyelamatkan pertandingan tak menarik dan busuk ini.

Priiittt..!!

Agung Laksono kembali meniup peluit panjang saudara-saudara, pertanda permainan babak pertama telah selesai. Sementara skore masih babak belur.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: